Close Encounter, Sebuah Pengalaman Perjalanan ke Eropa

  • 18 Jun 2026 21:18 WIB
  •  Pontianak

Aku membaca tentang parapsikologi saat fenomena luar biasa ini masih diterima dalam keterbukaan akademis. Di Norwegia, Harald Schjelderup menulis buku Det skjulte menneske (The Hidden Man, Manusia Tersembunyi, 1961) yang membahas fenomena parapsikologi.

Dan itu adalah penulis yang sama yang menulis buku terhormat Innforing-i-psykologis (Introduction to Psychology), sebuah bacaan wajib dari ujian persiapan dalam filsafat, yang juga disebut ex.phil atau examen philosophicum, yang merupakan sebuah gerbang untuk studi akademis.

Sekarang kondisinya sudah berbeda. Orang boleh percaya pada apapun sesukanya. Tapi dalam institusi akademis saat ini semua bisa dibilang sepakat untuk tidak memberi fenomena parapsikologi sedikitpun peluang konfirmasi ilmiah.

Pada suatu tengah hari, tiba-tiba aku merasa seperti melihat dunia ini untuk pertama kalinya. Rasanya seperti membuka mata di dunia penuh keajaiban. Segala hal seakan sebuah petualangan.

Dan di sinilah aku. Aku berada di tengah-tengah sebuah rahasia, di dalam sebuah teka-teki yang tak terpecahkan, terbungkus di dalamnya. Rahasia yang telah menarikku ke dalam sebuah realitas lain, sebuah gelembung lain, dengan sentuhan Putri Salju dan Cinderella.

Momen keajaiban itu hanya berlangsung beberapa detik, penuh misteri, tapi manisnya kejutan itu berdiam di badan hingga lama sesudahnya. Dan tak pernah terlepas dari diriku sejak saat itu.

Aku sedang berada di dalam sebuah petualangan sekarang. Dan, luar biasa rasanya. Seperti mendapatkan suatu keinginan yang tak terbayangkan sebelumnya. Tapi di sini kita sekadar berkunjung. Pikiran ini serasa sangat mengusikku. Bahwa di sini bukanlah tempatku. Bahwa ini bukan tempat permanenku.

Ini bukanlah rumahku. Bocah-bocah seperti peri itulah yang tinggal di sini.

Seperti orang sendirian di dalam sebuah mimpi. Saat mimpi itu dikunjungi orang lain, dalam peran sebagai tamu dalam mimpi itu, dibiarkan sendiri. Jiwa-jiwa tidak bergerak bersama. Mereka hanya bergerak, bersamaan.

Sebagian dari rasa berjarak dari orang-orang lain ini kadang masih tertinggal saat aku terjaga. Awalnya mungkin aku terlihat seperti sedang meraba-raba. Ragu-ragu dan kikuk. Atau, sekadar merepotkan? Bisa jadi ada hal yang terlewatkan, atau tidak kupahami.

Bertahun-tahun lampau aku menonton film Steven Spielberg, Close Encounters of the Third Kind. Gagasan di balik judulnya adalah bahwa orang yang melihat sebuah UFO di angkasa, mengalami close encounter, pertemuan jarak dekat, tingkat pertama.

Orang yang melihat bukti-bukti fisik kedatangan para alien dari angkasa luar, mengalami pertemuan jarak dekat tingkat kedua. Dan orang yang beruntung, atau sebaliknya, berdekatan secara fisik dengan makhluk-makhluk asing itu mengalami kontak tingkat ketiga.

Lalu apa? Terbetik dalam benakku bahwa hal yang terakhir itupun bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Aku baru saja mengalami pertemuan jarak dekat dengan tingkat keempat.

Jadi begitulah keadaannya. Kita sekarang bisa sejenak menikmati sebuah klip film. Aku sendiri tidak yakin apakah ini dari sebuah thriller psikologis, ataukah murni film gangster. Tapi mungkin kedua-duanya. Terlepas soal genre film ini termasuk apa yang disebut sebagai B-movie.

Aku sendiri adalah sebuah makhluk angkasa yang misterius. Dan aku merasakan kesadaran ini seperti getaran di sekujur tubuhku. Aku sudah berkali-kali merenungkan hal ini. Setiap pagi aku terbangun bersama seorang "alien" di tempat tidurku. Dan makhluk asing itu adalah aku!

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman

Baca juga: Menikmati Museum Louvre Rivoli Paris Suatu ketika

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....