Menikmati Museum Louvre Rivoli Paris Suatu ketika

  • 17 Jun 2026 21:27 WIB
  •  Pontianak

Saya termangu. Membuang jauh pandangan keluar jendela mobil. Dari kejauhan, saya bisa melihat pancaran sinar dari Menara Eiffel yang kali itu menyalakan iluminasi biru laut. Serasi dengan horison cahaya Kota Paris. Cahaya itu menari-nari membentuk simfoni malam.

Tidak sabar menunggu esok untuk berjalan-jalan dan menyimak rahasia lain dari Paris. Paris yang penuh misteri.

Mana tujuan utama? Eiffel? Lafayette? Champ Elysees? Moulin Rouge? Seakan-akan semua orang yang pergi ke Paris pasti ingin berbelanja. Atau setidaknya berfoto di bawah Eiffel, menara yang konon katanya paling legendaris itu.

Saya tertarik menelusuri peninggalan-peninggalan sejarah. Bisa mulai dari Museum Louvre. Museum ini dengan koleksi terlengkap di seluruh dunia, begitu disebutkan. Museum ini mengoleksi lukisan-lukisan karya maestro dunia, sebutlah Rembrandt, Michel Angelo, Rafael, Reubens, dan tentunya lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci yang tersohor itu.

Namun, bukan hanya itu yang membuat Louvre menarik untuk didatangi. Kelengkapan koleksinyalah yang sangat sayang jika dilewatkan. Museum ini menyimpan peninggalan dari zaman ke zaman, dari imperium ke imperium, yang bisa memberi banyak pengetahuan.

Hari itu saya berkeliling kota dengan kereta bawah tanah, atau yang disebut Metro. Di stasiun-stasiun kereta sesungguhnya bisa ikut merasakan denyut aktivitas kehidupan masyarakat setempat.

Saya naik Metro jalur 1 untuk menuju Museum Louvre. Gerbong kereta yang cukup sesak oleh penumpang membuat saya tak begitu leluasa selama perjalanan. Saya melihat beberapa tempelan stiker di dalam Metro. Salah satunya stiker bergambar tas dengan tangan yang diam-diam merogoh ke dalamnya.

Tampaknya aksi pencopetan kerap terjadi dalam Metro, sehingga pihak keamanan Metro perlu membuat peringatan khusus mengenai hal ini.

Kereta berhenti di Stasiun Louvre Rivoli. Saya melihat ratusan orang lain menghambur keluar dan merangsek masuk pada waktu yang sama. Stasiun ini tampak begitu padat. Tak heran stiker-stiker tadi ditempel di berbagai tempat di sudut stasiun.

Saya perhatikan interior dalam stasiun. Nampak berbeda dibandingkan stasiun-stasiun lainnya. Dekorasi stasiun ini sudah disulap menyerupai galeri museum. Patung mumi Mesir, patung antik abad Renaissance, dan beberapa lukisan membuat tempat ini terlalu mewah dan elegan untuk ukuran stasiun kereta bawah tanah.

Ini adalah salah satu stasiun Metro tertua di Paris. Didirikan tahun 1900. Hampir tak percaya, lebih dari 100 tahun yang lalu orang-orang Eropa telah berpikir cara menanggulangi hiruk-pikuk kendaraan dan kemacetan.

Orang pada waktu itu bisa membangun terowongan yang berkelok-kelok di bawah tanah. Menembus bawah Sungai Seine tanpa dibanjiri airnya. Atau tanpa merusak bangunan-bangunan di atasnya.

Beberapa saat setelah saya berhasil menundukkan 50 anak tangga keluar dari stasiun Louvre Rivoli, saya bisa menghirup udara segar. Di depan saya lihat puluhan rombongan turis berjalan perlahan-lahan menghambat laju gerak saya.

Manusia-manusia Eropa selalu mendambakan cuaca seperti kali ini. Cuaca dengan hawa tengah-tengah, tak terlalu panas dan tak terlalu dingin. Matahari yang bersinar kuning keemasan membuat siapa pun akan merasa sia-sia menghabiskan hari itu hanya dengan berdiam di rumah.

Orang-orang keluar rumah menengadahkan wajah menghadap matahari. Seperti kucing yang manja saat dielus-elus lehernya. Sinar mentari memendarkan pucuk-pucuk bangunan gaya Renaissance yang berdiri di hadapan saya.

Bangunan itu memiliki tiang-tiang penyangga begitu solid. Bagian tengahnya dipahat dengan relief yang sangat elegan. Di puncak bangunan bertengger kubah-kubah yang menantang matahari. Jejeran bangunan itu melingkar membentuk paviliun-paviliun bercabang dengan pelataran sangat luas.

Namun, ada pemandangan ganjil yang saya lihat tepat di tengah pelataran kompleks Museum Louvre itu. Bangunan piramida gelas raksasa modern sekilas merusak harmoni kemegahan yang tersaji di depan saya.

Setelah lama saya perhatikan, justru struktur piramida gelas itulah yang menjadi pusat energi di kompleks museum ini. Paviliun raksasa yang mengelilinginya bagai tertunduk hormat menghadap sang piramida. Turis yang berada di depan langsung berteriak kegirangan menyaksikan pemandangan ini.

Piramida itu begitu memikat hingga turis tadi berlonjak-lonjqk seperti melihat harta karun. Meskipun kalah tinggi dengan bangunan di sekitarnya, piramida gelas ini seperti ingin menunjukkan pesonanya sendiri saat bersaing dengan Menara Eiffel yang kokoh berdiri di kejauhan.

Di salah satu sisinya, saya lihat antrean yang mengular. Rupanya piramida itu menjadi pintu masuk utama Musee de Louvre atau Museum Louvre.

Napoleon Hall, hall lantai bawah tanah yang tak kalah luasnya dengan pelataran di atasnya. Kemegahan museum ini langsung tersibak hanya dari hall-nya. Piramida-piramida yang ada di atas ternyata menembus garis permukaan tanah membentuk piramida terbalik dengan pucuk di lantai Napoleon Hall.

Persis seperti penggambaran Dan Brown di Da Vinci Code saat Robert Langdon memburu keberadaan Holy Grail. Sungguh bangunan kontemporer yang indah. Tiba-tiba saya terpikir, mungkinkah Brown berfantasi?

Berkeliling Napoleon Hall, mata saya menyusuri sudut-sudut ruang istana Louvre yang menggelar dua halaman utama, Cour Napoleon dan Cour Visconti. Bangunan futuristik piramida gelas tadi berada di tengah-tengah Cour Napoleon.

Mata saya edarkan kembali ke langit-langit aula yang mengumbar ribuan gelas berbentuk belah ketupat berlian. Bangunan ini memang genius. Dengan atap semacam itu, sorot cahaya matahari tak perlu menelikung lewat jendela-jendela, tetapi bisa langsung masuk ke dalam bangunan di bawah tanah.

Ini membuat saya dan para pengunjung betah berlama-lama dalam bangunan itu tanpa merasa kegelapan. Ternyata, museum ini besar. Sehari tidak akan cukup untuk melihat semuanya ...

Penulis: Syafaruddin Daeng Usman

Baca juga: Suatu ketika di Hotel Du Louvre

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....