Boheman Rhapsody di Cagar Budaya Dunia
- 07 Jul 2026 22:07 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Saat pertama kali mendengar lagu Bohemian Rhapsody yang dilantunkan Queen, saya belum paham apa itu Bohemia. Saya hanya berani menduga-duga, bisa jadi Bohemia adalah nama tempat. Mungkin sebuah tempat imajiner di cerita fiksi.
Ternyata benar. Bohemia adalah nama tempat. Bahkan sebuah tempat nyata. Bukan rekaan. Bohemia adalah sebutan di masa lalu untuk daerah bagian barat Republik Ceko. Negeri ini terdiri dari dua daerah yang dinamakan Bohemia dan Moravia. Bohemia di bagian barat, Moravia di timur.
Dalam kondisi normal, hanya perlu satu hingga satu setengah jam naik mobil dari Wina untuk sampai ke perbatasan Austria dan Ceko. Negara ini sama-sama masuk Schengen Area. Tidak ada pemeriksaan dokumen di perbatasan.
Musim semi adalah waktu terbaik untuk menjelajahi dataran rendah di sepanjang perbatasan Austria-Ceko. Hawa tidak lagi dingin, tapi juga belum panas. Pemandangan sedang indah-indahnya. Lahan pertanian di kanan-kiri jalan yang terlihat kusam di musim dingin berubah menjadi penuh warna.
Ladang canola terlihat seperti hamparan permadani berwarna kuning. Begitu pula dengan ladang bunga matahari. Warna kuning merona ini sangat sedap dipandang.
Macam-macam bunga yang bermekaran memunculkan banyak sekali koleksi warna. Pemandangan tampak semakin indah saat langit sedang biru tanpa awan. Sang Maha Pencipta seperti menunjukkan keagungan Nya melalui alam yang indah ini.
Tidaklah heran jika Gustav Mahler, komponis Austria, pernah mengatakan, "Spring won't let me stay in this house any longer! I musy get out and breathe the air deeply again".
Menatap padang rumput dan tanah pertanian yang luas dan indah, membuat saya membayangkan wajah Eropa di masa lalu. Dinasti datang dan pergi silih berganti.
Kerajaan-kerajaan berseteru dan berperang satu sama lain. Semua ingin menjadi pemenang sebab yang terkuat berhak menjadi pemain utama, membawahi daerah taklukkan di sekelilingnya.
Dari arah Austria, perbatasan dengan wilayah Ceko hanya ditandai marka jalan berwarna biru tua dengan tulisan Ceska Republika berwarna putih dikelilingi 12 bintang berwarna emas, yang menandakan bahwa Ceko adalah anggota Uni Eropa.
Tidak ada penjaga perbatasan, juga tidak ada gapura bertuliskan ucapan selamat datang yang mencolok. Perbatasan antar negara ini jauh lebih sederhana. Kondisi ini jauh berbeda dengan situasi pada masa Perang Dingin. Saat itu Eropa terpecah menjadi dua kubu.
Angin perubahan kemudian berembus. Komunisme dianggap tidak mampu mewujudkan apa yang dijanjikan. Revolusi Beludru atau Velvet Revolution mulai bergulir pada pertengahan November 1989.
Revolusi ini akhirnya berhasil menumbangkan rezim komunis yang selama hampir lima dekade berkuasa di Praha.
Tumbangnya rezim komunis mengubah banyak hal. Perbatasan Cekoslovakia dengan Austria dan Jerman (Barat) dibuka. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 40 tahun, warga Cekoslovakia dapat melintasi perbatasan dan menyeberang ke Austria sebagai warga negara yang bebas.
Permulaan 1993, Ceko dan Slovakia sepakat untuk berpisah dan masing-masing menjadi negara merdeka. Mereka praktis tidak lagi memiliki perbatasan.
Betapa zaman berubah. Apa di masa lalu dianggap lumrah sekarang menjadi sekadar kenangan. Perbatasan antar negara yang dulu dijaga ketat sekarang dapat dilalui tanpa hambatan.
Is this the real life? Is this just fantasy? Freddie Mercury melontarkan dua pertanyaan ini di awal lagu Bohemian Rhapsody. Pertanyaan yang sama saya ajukan saat melihat perbatasan antar negara di sebagian besar Eropa yang begitu terbuka. Saya tidak tahu jawabannya. Mungkin waktu yang kelak akan memberi tahu.
Setelah melewati perbatasan, saya kembali menyaksikan pemandangan musim semi yang indah, menyusuri tempat-tempat di Bohemia dan Moravia, menikmati suasana yang sama sekali berbeda dengan di Austria. Di seberang perbatasan saya menemukan bahasa berbeda. Bentuk bangunan yang berbeda. Makanan yang berbeda. Kebiasaan yang berbeda.
| Baca juga: Mengunjungi “Ibukota Arloji Dunia” |
Di sisi selatan Moravia ada kota Lednice dan Valtice yang memiliki beberapa istana megah lengkap dengan taman seluas 200 kilometer persegi. Sejarah istana dan taman itu bermula pada abad XIII saat keluarga bangsawan Liechtenstein membeli tanah di area ini.
Keluarga Liechtenstein kemudian membangun istana-istana megah dan taman-taman yang indah. Sejak abad XVII, kompleks istana ini menjadi tempat tinggal penguasa Liechtenstein selama musim panas. Keindahan dan keunikan kompleks istana dan taman ini, dikenal sebagai Lednice Valtice Cultural Landscape, sebagai cagar budaya dunia.
Sedikit ke barat ada Mikulov, sebuah kota tua yang sudah disebut dalam dokumen dari tahun 1249. Daya tarik Mikulov adalah kota tua berikut kastil, gereja dan sinagoga yang dibangun berabad-abad lampau. Area di sekitar Mikulov sekarang menjadi daerah perkebunan anggur yang ramai dikunjungi pelancong.
Ke arah barat masih ada lagi sederetan kota dengan keunikan masing-masing seperti Olomouc, Ostrava, Zlin, Holasovice, dan Sumava. Semua menarik perhatian untuk disinggahi. Karena perbatasan tidak lagi dijaga, menghabiskan akhir pekan antar negara sudah menjadi hal biasa. (***)
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, Sejarawan Kalbar
Baca juga: Paris, Keromantisan yang Tak Berkesudahan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....