Menikmati Kejelitaan Brugge Kota yang Romantis
- 28 Mei 2026 12:59 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Lampu-lampu jalanan masih menyala. Pusat kota Brugge. Bus berhenti di alun-alun Groete Markt. Hari masih pagi ketika itu, kota diselimuti kabut putih. Sementara kereta kuda mulai berlalu lalang. Di belakangnya, sang kusir mengenakan topi tinggi dengan mantel dinginnya.
Brugge, setiap tahunnya, bahkan setiap waktu dikunjungi para pelancong. Kota abad pertengahan ini, di waktu pagi seperti milik sendiri. Masih tertidur lelap. Hembus angin dingin tak hentinya. Daun-daun kering berterbangan di jalanan yang senyap.
Saya tiba di kota ini dengan bus yang melaju meninggalkan Brussels. Sebelumnya saya menginap dan istirahat sembari menikmati Brussels. Brugge hanya berjarak tak lebih satu jam perjalanan jika menggunakan kereta api. Wajah kedua kota ini, Brussels dan Brugge, begitu kontras.
Brussels kosmopolitan. Brugge yang berjuluk Venesia dari Utara ini, menyuguhkan suasana abad pertengahan. Bangunan di sini bergaya romanesque, gothic, rumah-rumah berdinding khas segitiga atau gables. Dan tentu sekali, kanal-kanal yang membelah kota.
Mungkin, saya bergumam dalam hati, tidak keliru jika muncul perasaan deja vu, seakan berada di suatu tempat yang melekat dalam kenangan, namun entah di mana. Tentu saja, impresi ini dikuatkan oleh kehadiran bahasa Flemish, salah satu dialek dari bahasa Belanda, yang menjadi bahasa gaul dan keseharian di kota ini.
Sulit untuk merasa tersesat di kota yang menawan ini. Saya rasa, Brugge adalah wajah romantis abad pertengahan. Hampir di setiap kelokan yang saya lalui, terhidang pemandangan bak lukisan. Entah itu mengingatkan pada guratan Vermeer, ataukah mengalun ke ingatan pada pada kisah-kisah romantis masa lampau.
Belgia tersaji oleh perbedaan bahasa. Penduduk di ibukota Brussels dan wilayah Wallonia, di selatan, menggunakan bahasa Prancis. Sementara Flanders di utara, berbahasa Flemish. Konon kabarnya, soal bahasa menjadi isu penting di Belgia.
Langkah saya terhenti sejenak. Persis di hadapan Museum Groeninge. Pagi itu, pintu gerbangnya baru saja dibuka buat pengunjung. Adalah suatu kepuasan bagi saya, bisa menikmati cita dan citra koleksi museum yang elok ini.
Di beranda muka, saya temukan komposisi yang menyejuk dan menawan hati, hamparan rumput hijau. Bangku-bangku taman, dan patung-patung marmer. Saya merasa suatu keberuntungan, kebetulan saat itu sedang ada pameran pematung asal Uruguay, Pablo Atchugarry. Karya-karyanya saya pikir, terinspirasi kebudayaan Aztec. Buah karyanya menggunakan marmer khusus dari Carrara, Italia.
Koleksi istimewa Museum Groeninge, tentu sekali karya seniman setempat di periode awal. Dengan rentang waktu sekitar 600 tahun. Saya mengingat sejumlah nama yang saya ketahui, Hans memling dan Antoon Claeissens, dua dari sejumlah seniman lokal yang hidup di abad XV silam.
Saya perhatikan dan nikmati karya-karya mereka yang sangat khas. Obyek lukisannya umumnya dilatarbelakangi pemandangan kota. Museum ini juga menjadi “rumah tinggal” bagi mahakarya Jan van Eyck, di antaranya Madonna with Canon van der Paelle, yang eksotik itu.

Beberapa hari sebelumnya, saat saya di Brussels, Belgia, saya mengkhususkan diri mengunjungi museum atau pusat komik Belgia. Komik adalah identitas Belgia.
Dan Brussels merupakan satu dari sedikit kota di dunia yang mengintegrasikan tokoh-tokoh komiknya ke dalam lanskap kota. Kabarnya, gagasan brilian itu muncul tahun 1991, ketika para ilustrator komik mencari cara untuk mencerahkan kota Brussels.
Museum komik ini berada di sebuah gedung indah, Waucquez Warehouses, karya arsitek Art Nouveau Belgia, Victor Horta. Berbicara tentang komik, tak mungkin mengabaikan Tintin. Ia adalah ikon seni komik Belgia, yang disebut Ninth Art, atau seni kesembilan, yang berkembang pesat pada permulaan abad XX.
Saya menyukai dan sampai sekarang mengoleksi berbagai seri komik Tintin disamping seri komik lainnya. Tintin adalah sosok wartawan berpostur tak terlalu tinggi dengan rambut jambul dan anjing putihnya, bernama asli Miou yang dikenal di Indonesia sebagai Snowy.
Sementara, Brugge memiliki banyak situs bersejarah. Di kawasan Markt yang saya kunjungi, berdiri menara Belfort dengan 366 anak tangga. Tak seberapa jauh dari situ terletak jantung kota Brugge, Alun-alun Burg, dengan balaikota atau Stadhuis peninggalan abad XIV yang berarsitektur gothic.
Letaknya tak berjauhan dengan Paleis van het Brugse Vrije. Masih di alun-alun ini juga terdapat bangunan tertua, Heiligbloed Basiliek, atau Basilika Darah Suci, yang didirikan pada abad XII silam. Di dekatnya ada bangunan cantik, persis di ujung jalan dengan dinding dan pintu bercat merah. Ini merupakan restoran kecil dengan sajian menu masakan lokal.
Di rumah cantik atau restoran mini itu, saya hanya memesan secangkir teh hangat dan seporsi kue bolu. Saya nikmati suasana dalam restoran kecil ini, terlihat di hadapan saya jendela bertirai kain tipis berhiasan bordir.
Di luar jendela kaca saya perhatikan deretan kereta kuda yang diparkir rapi tak jauh dari alun-alun. Dan nampaknya para pemilik toko yang mulai membuka usahanya, didahului dengan memarkir sepeda mereka di pinggir trotoar dengan sangat rapi dan tertib.
Melengkapi cita dan citra rasa sebuah kota eksotis Brugge, saya menyusuri kanal dengan perahu. Sebuah episode yang sempurna dari sebuah perjalanan ke kota ini, saya pikir. Menyusur atas air yang tenang, dengan menyaksikan pemandangan beranda belakang bangunan-bangunan yang usianya ratusan tahun.
Brugge menyisakan banyak pertanyaan yang belum tuntas dengan mengitarinya. Muncul imajinasi liar saya, serupa apa kira-kira kehidupan berabad-abad lalu di sini? Kejelitaan Brugge tak bisa dinikmati seketika. Saya bergumam dalam hati, keindahannya ini bisa dilahap kembali, dengan mengulangi untuk kembali kemari.
Bisa jadi kejelitaan Brugge itu akan semakin memuaskan dengan suatu ketika mendatanginya kembali ... (***)
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....