Menikmati Budaya dalam Secangkir Kopi di Wina
- 28 Mei 2026 08:10 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Sahabat lama saya, Evelyne, seorang wanita asal Italia setengah menjerit bahagia dan mendekat saat kami bertemu. Sebelumnya kami menjalin komunikasi dan persahabatan melalui media sosial.
Bagi dia, orang Italia, salam pertemuan bukan hanya genggaman tangan. Pelukan dan ciuman juga dianggap wajar untuk menunjukkan keakraban.
Namanya Evelyne, dia asli Roma. Sudah 10 tahun pindah, lalu menetap di Wina. Dia seorang peneliti sejarah, juga seorang jurnalis. Evelyne fasih berbahasa Inggris selain Jerman sebagai bahasa lokal.
Menjajali kafe-kafe klasik Wina, yang menawarkan atmosfer sangat kuno dan elegan. Di Wina, ngopi di kafe bukan merupakan kegiatan menikmati kafein saja. Menikmati secangkir kopi adalah suatu budaya yang sudah merasuk sampai ke akar masyarakat. Tak terpisahkan dari keseharian.
Tata sosial orang Wina memperlihatkan kafe juga dijadikan tempat untuk bertemu. Mulai dari berdiskusi santai, sampai memutuskan kebijakan penting kenegaraan. Kebiasaan ini dilakoni sejak akhir abad XIX silam.
Tidak perlu khawatir akan waktu. Pelanggan boleh menghabiskan waktu seharian. Hanya bermodal secangkir kopi. “It is just like our secondliving room”, kata Evelyne. Tak heran jika budaya ngopi di Wina sebagai intangible cultural heritage. Warisan budaya yang tak bisa dinilai secara fisik.
Saya dan Evelyne serta Johan dan Louisa, kami mencari tempat peneduh dari matahari terik yang tidak terhalang awan. Embusan angin musim semi juga perlu dihindari. Kencangnya laksana kepatuhan menjalankan tugas, mengusir musim panas yang tersisa agar segera berganti.
Sebuah tempat klasik. Kafe Central, di Herrengasse pusat kota. Ruangan kafe beratap tinggi. Membentuk kubah melengkung, menghasilkan suhu udara yang seolah 5 derajat lebih rendah dibanding udara di luar.
Bagi orang Wina, penggunaan AC pada musim panas adalah lelucon. Mereka memilih membuka jendela lebar-lebar. Membiarkan sinar matahari liar masuk ke ruangan setelah berbulan-bulan pada musim dingin jendela tertutup rapat. Konon, untuk sementara waktu, bagi saya ini justru lelucon.
Sekilas dari luar, Kafe Central adalah bangunan kolosal Eropa pada umumnya. Kafe yang terletak di Herrengasse, pusat kota Wina ini benar-benar menyeret saya kembali ke abad XIX lampau.
Nuansa mewah nan elegan tersuguh dari pencahayaan lampu chandelier berukuran besar. Pijar-pijar dari marmer semakin menegaskan kesan klasik Eropa tempo doeloe. Tak banyak permainan warna. Interiornya didominasi cokelat, bercampur sepuhan warna emas.

Ukuran mejanya tidak terlalu besar, dengan bagian atas terbuat dari marmer, dipasangkan dengan kursi bergaya thonet. Pramusajinya berdandan necis dan klimis dengan jas resmi tuxedo yang elegan. Mereka selalu menunduk saat menawarkan menu, seraya mengoperasikan mesin digital yang mereka genggam.
Mesin pemesanan menu ini secara online mengirimkan pesanan ke bagian dapur. Saya perhatikan, sebuah tanda di dinding kafe. Tercatat Adolf Hitler dan Vladimir Lenin juga pernah berkunjung ke kafe ini.
Beberapa saat kemudian, pelayan datang dengan dua nampan kecil. Masing-masing empat cangkir cappuccino dan wien torte panas untuk kami. Desain bunga berdaun yang terbentuk dari microfoam susu di langit-langit kopi, membuat saya tak tega menyeruputnya. Sayang rasanya.
Cangkir cappuccino saya angkat untuk bersiap diseruput. Begitu juga Louisa. Bulir-bulir microfoamsusu melekat tipis di bibirnya. Terlihat sekali, dia tersenyum merasa sedikit lucu. Kemudian mengalirlah cerita-cerita dari kami berempat. Tentang banyak kisah yang tentu saja bernuansa sejarah.
Rupanya kami sudah cukup lama di sini. “ZahlenBitte”, ujar saya pada waiter. Permisi, kami ingin baya”, begitu maksud yang saya katakan. Tagihan datang. Saya lirik sebentar angkanya. Segera saya keluarkan lembaran uang Europe.
Beberapa Euro untuk empat orang. Untuk suasana yang menenangkan. Kisah-kisah inspiratif. Tidak terasa, kami bincang budaya dalam empat jam ditemani cappuccino dan wiener torte di sebuah kafe klasik romantis. Saya angkat cangkir cappuccinotanda persahabatan.
“Go to Italy. You will be pleasantly surprised”, ungkap Evelyne. Kafe-kafe Roma yang terkenal romantis itu, tambah Johan. Roma dan kafe-kafe yang berjajar di depan Colosseum menjadi magnet tersendiri ketika berkunjung ke Eropa.
"But please ... never ask me to go to Starbucks. Because there is noStarbucks in Italy”, kata Louisa. Kami pun tertawa lebar seraya meninggalkan kafe yang menyenangkan ini. (***)
Baca juga: Mengunjungi “Ibukota Arloji Dunia”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....