Melihat West Borneo Abad XVIII di Leiden

  • 16 Mei 2026 09:36 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Suatu hari beberapa minggu belum lama ini, saya dan istri dan beberapa orang sahabat, berkunjung ke Leiden. Dari Amsterdam kami menuju ke sana. Kepada seorang petugas informasi di stasiun kereta api di sana saya bertanya dengan bahasa Belanda yang lumayan saya mengerti dan dapat gunakan.

"Wij willen graag van Amsterdam Centraal naar Leiden. Welke trein moeten wij nemen?" tanya saya. Dengan santun petugasnya yang seorang perempuan muda dan cantik menjawab, "U kunt de Intercity naar Den Haag Centraal nemen. Die vertrekt over een half uur van perron 13a", jawabnya. Dia memaksudkan, kami dapat menggunakan KA Intercity yang akan berangkat setengah jam lagi dari peron 13a di situ.

Dari Amsterdam siang itu kami menumpang kereta api tujuan Scheveningen, dan kami turun di Leiden Centraal. Leiden inilah kota yang kami tuju untuk datangi pada siang itu.

Leiden, Holland. Aku datang ke sini bukan sekadar berwisata. Aku datang untuk memburu jejak Pontianak, Landak, dan Kalimantan Barat atau West Borneo yang tinggal dan tersimpan ratusan tahun di rak-rak Eropa ini.

Di kota kanal yang tenang ini, saya dan Istri ditemani Johan, Laura dan Fionna, sahabat-sahabat saya yang menetap di Amsterdam, kami menelusuri manuskrip-manuskrip tua, katalog usang, dan tersandar di ruang baca yang nyaris sunyi meski tak sedikit orang tekun menghadap buku bacaan.

Leiden Belanda adalah kota universitas tertua yang menyimpan banyak arsip kolonial dari berbagai penjuru dunia. Tak terkecuali Indonesia.

Di ruang koleksi khusus, seorang pustakawan menyerahkan manuskrip abad XVIII kepadaku, sambil dia berkata dalam bahasa Holland yang teratur, "Anda orang pertama di abad ini yang membuka naskah West Borneo sejak puluhan tahun terakhir ini", ungkapnya.

Mendadak ruangan ini terasa berbeda. Manuskrip yang sekian lama terkunci, kini berada di tanganku. Seakan sang waktu membuka pintunya perlahan, gumamku dalam benak.

Syafaruddin Daeng Usman dan Istri menikmati suasana Leiden Belanda. ((Foto: Din Osman)

Bagaimana rasanya menyentuh warisan West Borneo, tentang Pontianak, Landak, Mempawah, Tayan, Sanggau dan lainnya ini yang lebih dulu dikenal orang asing. Sementara, banyak anak negerinya sendiri tak tahu "ia masih hidup", kesanku.

Selembar demi selembar manuskrif itu tentunya bukan sekadar kertas tua dan usang. Bagi saya, ia adalah suara masa lalu yang menunggu dan menanti untuk didengar dan bicarakan kembali di tanah asalnya.

Namun kejutan terbesar Leiden bukan hanya arsip, dokumen dan foto pastinya. Di luar perpustakaan, ada cara hidup yang pelan dan penuh makna. Leiden mengajarkan bahwa kebahagiaan seringkali lahir dari hal-hal sederhana yang dihayati sepenuh hati ... (*)

Penulis: Syafaruddin Daeng Usman

Baca juga: Menikmati Kota Rotterdam, Mengunjungi Kubuswoning

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....