Kahlenberg dan Danube yang Menawan Hati
- 07 Jun 2026 19:31 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak- Kahlenberg adalah sebuah bukit atau pegunungan di Wina Austria yang masih menjadi bagian kecil dari gugusan Alpen yang mengitari tujuh negara Eropa. Dari Kahlenberg, orang bisa melongok cantiknya Wina dari ketinggian, dari berbagai pojok dan sudut.
Sesuai namanya, Kahlenberg, Kahl dalam bahasa Jerman berarti telanjang. Sementara Berg, pegunungan. Jadi, kira-kira maksud si pemberi nama pegunungan ini kala itu adalah dari sini orang bisa menelanjangi Kota Wina seutuhnya tanpa batas.
Untuk menuju Kahlenberg, saya hanya perlu mengambil bus dari pusat kota dengan tiket biasa. Bukan tiket khusus. Hanya dengan 1,8 Euro, atau sekitar 22 ribu rupiah, sesuai plot jadwal yang saya baca di halte, akan menempuh perjalanan dalam waktu satu jam hingga mencapai titik tertinggi Wina dengan 20 halte bus di antaranya. Ketika bus mulai berjalan, saya merasakan sebuah intuisi yang dalam. Saya yakin, perjalanan ke Kahlenberg ini pasti perjalanan yang memikat.
Sekitar pukul 17.30 waktu setempat, saya turun dari bus di sebuah halte sepi di atas bukit. Udara menjadi dingin, sangat dingin, karena kehangatan pemanas di bua hilang seketika dari tubuhku.
Tapi, rasa dingin itu menjadi sirna tak terasa tatkala mata saya menangkap pemandangan gunung nan asri. Saya melangkah mendekati pagar pembatas di sepanjang bukit. Pagar itu melingkar membentengi dua bukit kecil yang ditebas menyerupai tembok.
Berdiri di belakangnya memungkinkan saya untuk melihat Kota Wina seutuhnya. Wina yang menyambut datangnya senja. Terlihat pemandangan luar biasa indah yang mencuri perhatian saya. Dan saya mendekati pagar pembatas Kahlenberg.
Matahari sudah semakin memerah menuju peraduan, membuat bangunan dan gedung serempak menyalakan lampu. Tentu saja, momen tersebut sayang bila terlewatkan. Detik-detik berubahnya suasana malam di Wina. Saya berkali-kali mengabadikan panorama senja itu dengan kamera ponsel.
Sebuah objek yang membuat saya bertanya-tanya. Sederhana. Tapi, dia memberikan pengaruh besar terhadap horison pemandangan Kota Wina. Sebuah sungai yang membelah Kota Wina menjadi dua.
Inilah sungai yang sangat terkenal itu. Donau atau Danube. Sungai ini pula yang menginspirasi Johann Strauss menciptakan lagu waltz, The Blue Danube, yang kesohor.
Simponi abadi musik klasik itu ternyata berawal dari sungai bening di hadapan saya kala itu. Waltz The Blue Danube benar-benar menggambarkan aliran sungai yang menginspirasi. Airnya terkadang tenang, namun terkadang bercipratan. Persis permainan partitur waltz The Blue Danube yang kadang bergerak lembut legato, dan kadang berlompatan staccato.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 6 sore waktu setempat. Matahari semakin menenggelamkan diri ke peristirahatannya. Ekor sinarnya yang berwarna semburat jingga, terlihat begitu anggun. Suguhan lukisan alam yang semakin indah pada senja hari.

Adalah Sungai Danube, simfoni gemercik airnya bisa terdengar dari atas Bukit Kahlenberg. Komposisi pemandangan yang langka di mata saya tentunya. Saya berusaha menikmati keindahan senja pada sore ini di lereng Kahlenberg.
Saya melihat bangunan masjid berwarna hijau dengan kubah blenduk dan minaret. Masjid ini bernama Vienna Islamic Center, pusat peribadatan terbesar umat Islam di Wina. Dalam hati saya bergumam ketika itu, seorang muazin pasti sedang memanggil umat Islam untuk shalat maghrib sore itu.
Matahari sudah benar-benar menghilang. Panorama Wina sudah stabil dengan cahaya lampu yang monoton itu-itu saja. Kabut malam yang tebal mulai menyaput deretan bangunan dan menara di Wina. Manusia yang berkerumun juga sudah mulai rontok meninggalkan pagar batas Kahlenberg.
Hawa dingin yang menusuk. Saya akhirnya duduk santai di sebuah kafetaria di seberang Saint Joseph. Hari itu saya menikmati cantiknya Kota Wina dari balik jendela kafe, sembari menikmati sepotong roti croissant serta secangkir cappuccino yang saya pesan. Hari itu semakin berkesan karena saya secara tak langsung memperoleh banyak pengenalan dan pengetahuan baru.
Saya seruput habis cappuccino Italiano. Dan saya nikmati pula sepotong croissant. Lalu saya memanggil pelayan perempuan muda, cantik dan ramah, yang siap sedia menerima panggilan pesanan maupun pembayaran dari pelanggan di kafetaria ini.
Saya kembali ke pinggir pagar Bukit Kahlenberg, di malam gelap gulita. Semua sudah terlalu kelam untuk ditembus oleh sepasang mata manusia.
Sedikit sejarah, Turki pernah mampir dan hampir menguasai Eropa Barat. Sekitar tiga abad lampau, pasukan Turki yang sudah mengepung Kota Wina akhirnya dipukul mundur oleh gabungan Jerman dan Polandia dari atas bukit ini. Ottoman Turki kemudian terdesak ke arah timur. Konon, roti croissant menjadi simbol kekalahan Turki saat itu.
Saya terpaku. Melongo. Dalam benak saya berujar, Kahlenberg memamerkan kecantikan Wina, sekaligus juga menceritakan sebuah fragmen sejarah panjang Islam di Eropa.
Dengan jiwa yang masih tertegun dengan semua pemahaman dan pengalaman hari itu, tentang Kahlenberg, croissant, dan cappuccino Italiano. Saya hanya berdiri sembari melambaikan tangan.
Malam semakin dingin. Rasanya bibir saya sudah kaku, berat untuk bicara. Kedua daun telinga saya yakin kian memerah. Dan saya pun segera pulang sembari lamat-lamat menyimak alunan Waltz The Blue Danube.
Penulis: Syafaruddin Daeng Usman
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....