Menikmati Kota Rotterdam, Mengunjungi Kubuswoning
- 14 Mei 2026 08:04 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Welkom in Rotterdam, Jongedame. Dankjewel, Meneer. Dalam kesempatan yang sepertinya kami khususkan, saya dan istri di Holland mengunjungi Rotterdam. Selepas seharian kami berkeliling Leiden, kami mendatangi kota ini, tentunya kami akan mengunjungi Kinderdijk.
Cara terbaik mencapai desa kecil penuh kincir angin itu adalah dengan naik kapal dari Rotterdam. Kata Fridus Welvaart sahabat saya yang tinggal di Rotterdam, kami bisa ikut ekskursi ke Kinderdijk pukul dua siang. Jadi kami masih punya cukup waktu untuk berkeliling kota.
Perlahan kami bertiga melangkah menjauhi Stasiun Rotterdam Centraal. Kata Fridus, Rotterdam-Leiden tak lebih dari setengah jam.
Melangkah menuju centrum Kota Rotterdam, aura kota ini saya kira sangat berbeda dengan Leiden yang klasik dan kaya bangunan tua dengan setapak-setapak kecil penuh sepeda. Rotterdam menyambut kami dengan gedung-gedung perkantoran modern yang menjulang tinggi. Dan jalan raya yang sibuk. Kota ini saya rasa dipenuhi hiruk pikuk yang tergesa.
Nampak sekali di kota ini tidak ada gedung tua. Ketika kami menyeberangi Jalan Weena menuju Schouwburgplein, Fridus menyebutkan hanya ada sedikit bangunan tua di Rotterdam ini.
Saya jadi ingat yang diceritakan sahabat lain saya, Johan, sewaktu kami duduk di pinggir Kanal Witte Singel seminggu sebelum ini. Kata dia, Rotterdam dibom Jerman pada 1940, pada awal Perang Dunia ke dua. Pusat kota hancur lebur, cuma ada beberapa bangunan tua yang bertahan.
Stadhuis atau balaikota, serta Schielandhuis dan Erasmushuis, keduanya dijadikan museum sekarang. Baru tahun 1945 Rotterdam dibangun kembali. Makanya, kata Johan, arsitektur kota ini cenderung modern.
Di hadapan de Doelen, salah satu gedung konser di Rotterdam, terdapat lampu bulat warna merah bergambar api yang ditanam di sepanjang jalan. Kata Fridus, pemerintah Kota Rotterdam menanam lampu-lampu ini sebagai garis brandgrens, batas api, untuk menandai wilayah kota yang kena bom. Lampu-lampu brandgrens ini melingkari pusat Kota Rotterdam, dari Stasiun Rotterdam Centraal sampai ke Blaak, tempat rumah kubus, dan jembatan Erasmus.
Dari gedung de Doelen di Schouwburgplein, kami melongok Stadhuis. Gedung balai kota yang dibangun sejak 1914 sampai 1920 itu masih berdiri tegak, tidak kehilangan keanggunan di tengah bangunan-bangunan baru yang mengelilinginya.
"Stadhuis Rotterdam dibangun di atas tanah yang luasnya sekitar satu hektar. Di tengah-tengahnya, terdapat binnenterrein khas Belanda, semacam taman atau teras terbuka di dalam bangunan," kata Fridus lagi.
Gedung itu menjadi pusat administrasi Kota Rotterdam. Pengeboman Rotterdam sebenarnya bisa dicegah, kata Johan minggu lalu, kalau saja pihak Belanda tidak mempermasalahkan "detail konyol".
Pada 14 Mei 1940 pukul 10.30 pagi, di bawah pemerintahan Nazi Adolf Hitler, Jerman mengirimkan ultimatum agar Belanda menyerahkan Kota Rotterdam. Dalan surat peringatan itu ditulis, jika Belanda tidak merespon ultimatum sampai pukul 12.30 siang, Rotterdam akan dibom satu jam kemudian.
Apa yang dilakukan pejabat Belanda yang menerima ultimatum itu? Karena menurut mereka tidak jelas siapa pejabat yang mengultimatum, Belanda mengembalikan surat peringatan itu ke pihak Jerman. Lengkap dengan catatan bahwa surat itu kurang reami. Jerman harus melengkapinya dengan nama dan pangkat pejabat yang mengeluarkan ultimatum, plus stempel resmi lembaga negara tempatnya bernaung. Dan, surat balasan konyol itu baru diterima Jerman pukul 12.20 sepuluh menit menjelang tenggat.
Kata Johan, kalau soal birokrasi, Belanda jagonya. Bahkan, di tengah perang, tanda tangan pejabat dan cap lembaga negara harus lengkap.

Sambil kami menikmati suasana Rotterdam, Fridus menceritakan, setelah menerima surat itu, Jerman memperbaiki suratnya dan mengundur tenggat sampai pukul 16.20. Sayangnya, kata pria jangkung berhidung mancung itu, komunikasi antara pejabat Jerman dan pasukan angkatan udara yang bertugas mengebom tidak berjalan lancar karena gelombang radio terganggu.
"Pesawat yang membawa bom sudah telanjur terbang dan mengebom Kota Rotterdam pukul 13.30," jelas Fridus lagi. Karena mereka pikir Belanda tidak merespon ultimatum sampai pukul 12.30, kru pesawat yang mengebom tidak tahu kalau batas waktu diundur sampai pukul 16.20.
Kami bertiga terus berjalan, sambil mendengarkan cerita Fridus yang sangat ramah ini, menyusuri Coolsingel, jalan raya tersibuk di Rotterdam, lalu berbelok di pusat pertokoan Beurs menuju kubuswoning Blaak yang terkenal.
Sampai di Blaak, terbentang dari depan perpustakaan kota sampai ke Jalan Meent, yang dijual di sana macam-macam, dari sayur mayur, buah-buahan, berbagai barang bekas, meubel, sampai bunga segar dan pernak-pernik elektronik. Di Belanda, markt biasanya digelar dua kali seminggu dan tiap kota punya jadwal masing-masing.
Kubuswoning di Rotterdam bukan satu-satunya rumah kubus di Belanda. Di Helmond, Brabant Utara, juga ada bangunan serupa. Kedua kompleks rumah kubus ini dibangun oleh arsitek Piet Blom sebagai tandingan atas gaya arsitektur paska Perang Dunia kedua.
Alih-alih membangun gedung besar bergaya modern yang populer di masa itu, Blom membangun rumah kubus yang luasnya tidak seberapa, kalau tidak bisa dibilang sempit.
Kubuswoning ini dibagi menjadi tiga lantai. Lantai dasar digunakan sebagai ruang tamu dan dapur, naik satu lantai lagi terdapat ruangan yang bisa digunakan sebagai kamar tidur dan kamar kerja. Sementara itu, lantai paling atas yang berbentuk piramida biasanya dimanfaatkan sebagai ruang santai.
Ketika menulis catatan ini, saya duduk di Bagels & Beans, tak jauh dari kubuswoning. Restoran bagel ini dipenuhi manusia-manusia berperut lapar. Untunglah masih tersisa satu meja kosong di samping jendela restoran untuk kami bertiga.
Ketika memesan makanan ringan, saya bisikkan ke istri, "tak ada nasi goreng di Holland", sembari kami bertiga tertawa terbahak ... (***)
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....