"Vind Je Leiden Leuk?" Suatu Hari di Kota Leiden

  • 13 Mei 2026 07:45 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Suatu ketika di Negeri Holland belum lama tadi, saya dan istri menyusuri Stille Rijn di pinggir kanal, setelah kami melalui Haarlemmerstraat sebuah rute yang sibuk. Saat itu matahari siang itu sedang berbaik hati, memandikan Leiden dengan binar-binar cahayanya.

Kulihat bebek-bebek berenang riang ke sana kemari. Angsa menari dengan anggun di permukaan air yang berkecipak. Sekawanan burung tampak terbang rendah, berkoar-koar ramai dan siap merebut remah-remah roti tua yang kadang disebar penduduk kota untuk bebek dan angsa liar di kanal.

Musim semu yang sempurna kurasa. Matahari tersenyum lebar. Pepohonan dibuai angin yang bertiup semilir lembut. Jantung Kota Leiden mulai ramai. Semua orang terlihat bahagia.

Terrasjes restoran dan kafe di sekitar Stadhuis, balai kota, mulai penuh. Rata-rata pengunjung berebut duduk di pinggir kanal untuk menikmati secangkir kopi berbonus sinar matahari. Orang-orang mengayuh sepeda lambat-lambat, perahu-perahu mungil mulai melayari kanal.

Di setapak Marsmansteeg, saya dan istri berhenti di depan Bagel & Beans yang memajang poster warna-warni bergambar aneka jenis kopi di kaca jendelanya. Tergiur melihat berbagai pilihan kopi, kami berdua memasuki restoral kecil itu, berjalan ke counter untuk memesan cold latte macchiato.

Bagian dalam restoran kosong melompong. Semua pengunjung, yang rata-rata anak muda, memilih duduk di luar. Beberapa bahkan mengangkut kursi dari falam restoran ke terras.

Tampaknya restoran ini populer di kalangan anak muda. Mungkin karena suasananya santai dan harganya tidak terlalu mahal. Saya dan istri mengamati daftat harga yang terpampang besar-besar di dinding depannya. Para pelayan yang bekerja di restoran ini pun terlihat belia. Mungkin, pikir saya, mereka mahasiswa yang bekerja parih waktu untuk menambah uang saku.

Saya meraih sebuah buku bersampul kecokelatan di meja di depannya. Berniat melihat-lihat detail menu Bagels & Beans. Kening saya pun berkerut, ketika menyadari buku di genggaman saya ini bukanlah buku menu.

Saya bolak-balik halaman buku itu. Beberapa gambar memenuhi lembarannya. Saya terpana melihat keindahan sketsa-sketsa yang ada di dalamnya. Panorama Belanda, potret, objek-objek sederhana. Semua digambar dengan guratan halus dan detail mempesona.

Saya dan istri kemudian meneruskan perjalanan. Kami menyeberangi Breestraat dan merambah gang kecil Pieterskerk-Choorsteeg yang cantik menawan. Lebarnya mungkin tak lebih dari satu meter. Beberpa toko mungil kami lewati, juga sebuah restoran Cina dan kafe kecil. Saya lihat di kanan kirinya bunga-bunga menjuntai dari pot di lantai atas bangunan-bangunan tua.

Kami lalu berbelok ke Langebrug untuk mencapai Kamerlingh Onnes Gebouw, atau gedung Fakultas Hukum Universiteit Leiden, yang terletak di Steenschuur. Fakultas itu tak kalah cantik. Saya berjanji bertemu sahabat kami Johan, Steijlen dan Eveline di sini.

Syafaruddin Daeng Usman di Langebrug tidak jauh dari Kamerlingh Onnes Gebouw di Leiden Belanda. (Foto: Din Osman)

Kanal kecil mengalir di sepanjang Steenschuur, sementara di seberangnya terdapat taman Van der Werfpark. Taman kecil itu saya lihat dipenuhi mahasiswa-mahasiswi yang berpiknik. Nampak, sebagian besar mahasiswa bertelanjang dada dan bercelana pendek, sedangkan rata-rata mahasiswi saya lihat mereka berbikini warna-warni. Mereka membaca buku, minum bir, mengobrol, atau berbaring terpejam mendengarkan musik lewat earphone sembari memanggang diri di bawah sinar matahari.

Tentu pemandangan yang tidak asing, mengingat Kota Leiden memang terkenal sebagai studentenstad, kota pelajar, dengan populasi mahasiswa mencapai sepuluh persen dari jumlah penduduknya.

Cuaca siang itu masih ramah dengan suhu relatif hangat. Gedung-gedung tua berkilau-kilauan ditingkahi matahari siang. Leiden sedang memamerkan kecantikannya. Orang-orang riang saling menyapa. Serombongan anak kecil menyesap ea krim sepanjang jalan. Bel sepeda terdengat di sana-sini. Alunan musik membahana dari perahu-perahu mungil di kanal.

Saya bergumam dalam benak, Leiden yang hidup. Musim semi yang sempurna. Dan tentu, semua akan baik-baik saja ... (***)

Penulis: Syafaruddin Daeng Usman

Baca juga: Tak Ada Kepastian Musim di Negeri Belanda

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....