Tak Ada Kepastian Musim di Negeri Belanda
- 12 Mei 2026 12:23 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Leiden sedang basah. Tanganku meraih mug berisi muntthee atau teh daun mint yang masih mengepul. Walau pemanas ruangan sudah di ambang maksimal, tetap saja kedinginan. Piama wol dan kaus kaki tebal yang dikenakan tak cukup menghangatkan.
Dari jendela kamar kami di lantai satu, kuperhatikan lalu lalang manusia di Haarlemmerstraat, salah satu winkelstraat atau shopping street Kota Leiden. Pagi itu, hujan masih menderas. Payung warna-warni menghiasi jalanan kecil bertegel merah bata itu.
Satu dua orang berjas hujan menggiring sepeda. Orang-orang itu pasti menyimak ramalan cuaca sebelum meninggalkan rumah. Kupikir mereka siap sedia menghadapi hujan yang diprediksi bakal tercurah dari langit Belanda.
Hampir seminggu tinggal di negara ini, saya dan istri akhirnya mengerti sepenuhnya mengapa orang Belanda terobsesi terhadap cuaca. Tiap kali membuka percakapan, orang Belanda pasti mengomentari cuaca. Bagaimana tidak, sehari cuaca bisa berganti berkali-kali. Mendung, cerah, hujan, lalu mendung dan cerah lagi. Begitu seterusnya.
Musim dingin bukan jaminan salju datang. Dan tak ada garansi kalau musim panas lebih hangat ketimbang musim semi atau musim gugur. Hujan bisa turun sepanjang tahun, angin bisa suka-suka bertiup kencang seharian. Dan, matahari yang jarang muncul pasti dirayakan besar-besaran jika tiba-tiba bersinar.
Jika vies weer atau cuaca buruk, orang-orang selalu bersiap dengan regenjas dan regenlaarzen atau jas dan bot hujan, plus payung tentunya.
Aku teringat pukul setengah tujuh pagi waktu Belanda, ketika aku melirik jam tanganku. Ketika kaki menjejak Bandar Udara Schiphol beberapa waktu sebelum ini, udara dingin menyambut kami. Kaus lengan panjang, sweter, celana denim, dan sepatu kets, ternyata tidak mampu menandingi suhu pagi itu. Schiphol ada di urutan ke 15 untuk kategori bandara tersibuk di dunia.

Terminal kedatangan sangat sibuk. Dari ujung ke ujung, terminal kedatangan di lantai dasar Schiphol dipenuhi pertokoan, supermarket, restoran, kafe, dan tentu toko buku. Sebagai salah satu bandara terpenting di Eropa, Schiphol punya akses transportasi bervariasi.
Selain terminal bus dan taksi di samping gedung, Bandara Schiphol terintegrasi dengan stasiun kereta api. Enam peron bawah tanah tersedia untuk mencapai seluruh wilayah Belanda.
Suatu hari di suatu pagi, gerimis merintik ketika aku dan istri menjejal hall Stasiun Leiden Centraal. Alih-alih memamerkan matahari musim panas, Belanda menyambutnya dengan hujan dan suhu 15 derajat.
Ketika itu Leiden memamerkan Sabtu pagi yang sibuk. Sepeda, bus, dan mobil berbagi jalan. Sedangkan trotoar menyisakan ruang bagi pejalan kaki. Aku dan istri terus melangkah menyusuri Stationweg, ke arah centrum, pusat kota kecil yang terletak di Propinsi Holland Selatan itu.
Di balik jendela-jendela kafe, orang-orang duduk membaca koran akhir pekan dan menikmati kopi pagi, sembari sesekali melirik ke kota yang mulai basah.
Gerimis tak mau mengalah. Saya lihat ada bangunan di depan kami. Ada tulisan, het volkshius, terbaca di gerbang. Bangunan bersejarah yang dibangun pada 1899 ini berada di dua jalan, pintu depan di Jalan Apothekersdijk dan bagian belakang di Haarlemmerstraat.
Setengah bangunan berlantai tiga yang berada di Haarlemmerstraat dipecah jadi empat belas unit apartemen dan studio dengan luas beragam. (***)
Penulis: Syafaruddin Daeng Usman
Baca juga: LPTQ Perketat Standar, Peserta Tak Capai Nilai Minimal Dicoret dari MTQ Nasional
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....