Berkunjung ke Ibukota Parfum Dunia
- 08 Mei 2026 05:36 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Ada pertanyaan, benarkah bahwa kemampuan penciuman seseorang ketika bertambah usia akan bertambah baik? Itu aku dapatkan sebuah pemahaman baru ketika aku dan istri belum lama tadi mengunjungi Grasse, kota kecil di sebelah barat Nice, Perancis selatan. Dan inilah yang didaulat sebagai ibukota parfum dunia.
Dengan tujuan ke Perancis, di perjalanan darat dari Amsterdam kemari, aku ingat omongan sahabat kami di Negeri Belanda itu, Nick dan Louise, tentang Kota Grasse. Sedikitnya ada 20 pabrik parfum, kata mereka, di kawasan itu. Dan hingga hari ini, di sana memiliki sejarah industri wewangian yang panjang. Itulah sebabnya, ujar Louise, kota ini disebut sebagai ibukota parfum sedunia.
Untuk mencapai kota yang kubayangkan serba beraroma wangi itu, kami naik kendaraan umum dengan bus yang berangkat dari Gare Routiere. Di sini, seperti juga tempat lainnya di Eropa, serba tepat waktu. Semenit saja telat, sudah ketinggalan atau ditinggalkan.
Kurang lebih satu jam perjalanan, melintasi Bandara Nice, Cagnesur-Mer, Villeneuve Loubet, Roqurfort, dan Pre-du-Lac. Sepanjang perjalanan, di kiri-kanan jalan bertumbuh bunga-bunga yang bermekaran pada musim semi ini. Dan pikirku lagi, tentu akan semakin wangi, terlebih di pusat wewangian itu.
Grasse sebuah kota tua yang unik dan sangat menarik. Dengan jalan-jalan kecil berliku, tak terhitung bangunan abad XVII dan XVIII. Dari sekian banyak pabrik parfum di sini, setidaknya ada tiga yang paling besar. Fragonard, Molinard, dan Galimard, tentunya.
Fragonard tidak berapa jauh dari Musee International de-la Parfumerie, museum internasional perparfuman. Di sinilah aku dan istri berkunjung terlebih dulu.
Sudah sedari Abad Pertengahan, hadirnya para pedagang kaya dan banyaknya pengrajin terutama pengrajin kulit, menjadikan Grasse sebagai pusat perdagangan yang cukup penting di Eropa.
Kudengar, mode masa itu yakni kulit yang dibuat wangi, terutama untuk sarung tangan, serta kultivasi tanaman aromatis sebagai bahan mentah mendorong pembentukan industri parfum Grasse.
Di abad XVIII, para spesialis parfum menjadi semakin terpisah dari pekerja kulit, mereka mencurahkan perhatiannya hanya untuk parfum. Barulah pada abad XIX Grasse menjadi sebuah ibukota industri yang penting dan cukup diperhitungkan. Bunga, buah, akar, daun, kayu, dan getah untuk bahan parfum didatangkan dari seluruh pelosok dunia.
Beberapa bahan mentah parfum diperoleh dari daerah sekitar Grasse. Seperti bunga mawar, Rosa centifolia L, dari jenis mawar Mei dengan sekitar 30 kelopak bunga. Mawar jenis ini tumbuh di kawasan itu dan Maroko. Sedang yang jenis Rosa damascena berasal dari Bulgaria dan Turki.
Sari bunganya diambil untuk parfum dengan cara distilasi dan ekstraksi. Cara lain mendapatkan sari wangi untuk bunga seperti melati adalah enfleunage, memanfaatkan lemak, sebuah cara yang katanya tidak lagi digunakan.

Ternyata tidak mudah mendapatkan sari wangi bunga rupanya. Sungguh tak terbayang bahwa sejumlah 4 ribu kilogram damascena menghasilkan hanya 1 kilogram minyak esensial. Dari 1.000 kilogram bunga melati, diperoleh 1 kilogram sari wangi melati. Karena dalam satu kilogram ada sekitar 10 ribu bunga melati, maka untuk satu kilogram sari wangi melati itu diperlukan sepuluh juta bunga.
Kulihat di museum parfum itu ada sebuah rumah kaca dengan berbagai tanaman dari seluruh dunia yang menjadi bahan untuk parfum. Di pinggiran tempat tanaman itu ada tabung-tabung mirip bambu tempat cengkerik, di mana pengunjung bisa membaui bau bunga, akar, buah atau daun tertentu.
Konon ada lada yang asalnya dari Indonesia, ada bunga immortelle dari Perancis, ada bunga jeruk mediterania. Sebuah nama menarik perhatian "ylang-ylang", karena kerap disebut dalam kandungan parfum. Dan ternyata yang dimaksudkan itu, kata Isna istri saya, itulah bunga kenanga.
Di museum perusahaan parfum lainnya, Fragonard, kudapati ada cendana dan lada asal Indonesia dan Malaysia digunakan sebagai bahan parfum olahannya.
Dari pemandu pengunjung di museum yang ukurannya tak terlalu besar ini, kuperoleh pemahaman bahwa parfum terdiri dari tiga bagian. Base note (fond note), middle note (heart note) dan top note (peak note).
Kata Myske si pemandu museum itu, bahwa nada dasar yang tidak hanya terdiri dari satu wewangian saja, melainkan gabungan dari berbagai wewangian itu adalah wangi dasar. Kalau top note atau nada atas adalah wangi dari kumpulan wewangian yang akan segera tercium begitu parfum dioleskan, middle note atau nada tengah tercium setelah tiga jam. Sedang base note akan tercium sekitar enam jam setelah dipakai.
Kami juga melihat tempat kerja para ahli parfum yang disebut le-nez, atau hidung itu. Bekerja dengan hidung, mereka adalah para seniman pemilik indra penciuman di atas rata-rata. Mereka duduk dengan tekun menghadapi tak sedikit botol wewangian yang tersusun dan menciptakan harmoni wewangian menjelmakan parfum yang digandrungi para penikmatnya di seluruh dunia.
Ketika meninggalkan pusat pengolahan parfum dunia ini, kukatakan kepada istri, jangan heran kalau wangi parfum yang dipakai berbeda-beda sepanjang hari, tergantung nada mana yang tercium.
Saat di pusat perparfuman itu pula aku menikmati aroma fruity dari Eau Fastasque yang mengandung jeruk, balckcurrant, hyacinth dan freesia. Aku juga suka wangi natural dan floral. Dan salah satu tentengan estagnon ketika pulang ke Pontianak adalah berbagai wewangian sari bahan-bahan dari seluruh dunia yang dipersatukan di Grasse Ibukota Parfum Dunia. (***)
Penulis: Syafaruddin Daeng Usman
Baca juga: Menikmati Kebab Turki di Swiss
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....