Kesatuan Kebenaran: Tauhid, Kearifan Leluhur Dayak, dan Hikmah Ciptaan Allah

  • 03 Okt 2026 14:39 WIB
  •  Pontianak

📝 ABSTRAK

Kebenaran yang satu dan utuh bersumber dari Allah SWT — Yang juga dikenal oleh masyarakat Dayak Kalimantan dengan sebutan Jubata. Kearifan leluhur yang terangkum dalam semboyan "Adil Ka'Talino, Bacuramin Ka'Saruga, Basengat Ka'Jubata" bukanlah ajaran yang terpisah dari tauhid, melainkan cerminan hidup masyarakat yang membaca ayat kauniyah — tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Burung Enggang Gading, yang dihormati sebagai simbol kesakralan di bumi Kalimantan, mengandung hikmah kepemimpinan yang melindungi, kesetiaan, penjagaan alam, keberanian, dan kesucian. Semua nilai ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur'an maupun petunjuk Rasulullah ﷺ. Konsep hidup masyarakat Dayak yang menjaga keseimbangan hubungan — dengan Pencipta, sesama manusia, dan alam — selaras dengan prinsip Hablu Minallah, Hablu Minannas, dan Hablu Minal Alam.

Pendekatan dakwah yang paling tepat di tengah masyarakat adat bukanlah mengganti kepercayaan leluhur, melainkan mempertegas kebenaran yang sudah ada di hati: dari mengenal Jubata menuju mengenal Allah SWT, dari membaca kitab alam menuju membaca kitab suci Al-Qur'an. Kebenaran yang satu itu, bagai sungai yang mengalir, akan selalu bertemu pada Satu Sumbernya.

📖 PENDAHULUAN

Kebenaran yang satu dan utuh bersumber dari Allah SWT — Yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Di Kalimantan, kearifan leluhur telah menjaga cahaya kebenaran ini dari generasi ke generasi, terangkum dalam semboyan suci masyarakat Dayak Kanayatn:

"Adil Ka'Talino, Bacuramin Ka'Saruga, Basengat Ka'Jubata"

Jubata adalah sebutan masyarakat Dayak untuk Tuhan Yang Maha Esa — Allah Yang Maha Kuasa. Dialah yang menciptakan manusia, hutan, sungai, hewan, dan burung-burung yang terbang di angkasa. Segala sesuatu yang ada di alam semesta — baik yang tampak maupun yang tersembunyi — merupakan tanda kekuasaan-Nya.

Ini bukan soal filsafat. Ini adalah hikmah — cara orang Dayak membaca ayat kauniyah, tanda-tanda Allah di alam semesta. Sebelum mengenal ayat tertulis di mushaf, nenek moyang kita sudah melihat kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya yang ada di sekitar kita. Inilah jalan masuk yang paling lembut dan dekat untuk berdialog dengan hati masyarakat Dayak. Di tengah mantra-mantra leluhur pun tertulis: di atas ada Bismillah, di tengah bahasa Dayak, di bawah Hu Allah. Inilah bukti bahwa benih tauhid sudah tertanam di sana sejak lama.

🦅 BURUNG ENGGANG GADING — TANDA KEAGUNGAN JUBATA / ALLAH

Burung Enggang Gading bukan sekadar hewan yang terbang di hutan Kalimantan. Bagi masyarakat Dayak, ia adalah burung sakral, simbol hidup yang penuh hikmah, dan salah satu ayat kauniyah yang memperlihatkan kebesaran Pencipta.

🌿 Hikmah Burung Enggang Gading

1. Kepemimpinan yang Melindungi

Enggang hinggap di puncak pohon tertinggi, melihat jauh ke depan, namun sayapnya yang lebar selalu siap meneduhkan. Ia mengajarkan: pemimpin harus berdiri di tempat tinggi dengan hati yang rendah, melihat jauh ke masa depan, namun senantiasa menaungi dan melindungi yang di bawahnya.

2. Kesetiaan dan Keharmonisan Keluarga

Enggang Gading hidup berpasangan seumur hidup. Jika satu pergi, yang lain menunggu setia. Ia melambangkan ikatan keluarga yang kokoh — saling menjaga, saling melindungi, dan tidak meninggalkan dalam suka maupun duka.

3. Penjaga Alam dan Keselarasan Semesta

Enggang memakan buah-buahan di pohon tinggi dan menyebarkan benih ke seluruh penjuru hutan. Tanpa disadari, ia menjaga kelestarian bumi. Hikmahnya: manusia bukan penguasa alam, melainkan penjaga yang memegang amanah — ambil secukupnya, kembalikan lebih banyak.

4. Keberanian dan Kewibawaan

Disebut pula "Panglima Burung", suaranya yang lantang terdengar jauh di tengah hutan — bukan untuk menakuti, melainkan memberi tanda kehadiran. Ia melambangkan keberanian berkata benar, ketegasan dalam keadilan, dan kebijaksanaan dalam memimpin.

5. Jembatan Antara Dunia Atas dan Dunia Bawah

Terbang tinggi di antara awan, namun selalu kembali ke bumi. Enggang adalah pengingat: hidup di dunia ini sementara, namun jiwa dan warisan leluhur senantiasa menyertai. Semua berasal dari Jubata, dan kepada-Nya semua akan kembali.

6. Kemuliaan dan Kesucian

Paruhnya yang berwarna gading melambangkan kemurnian niat — tidak mencari keuntungan di jalan yang tercela. Ia mengajarkan: hidup sederhana namun bermartabat, kaya budi namun tidak serakah.

📜 AYAT AL-QUR'AN TENTANG BURUNG DAN CIPTAAN ALLAH

Ketika kita melihat kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya, kita sedang membaca kitab alam. Kemudian kita mendampinginya dengan ayat yang tertulis, agar semakin jelas jalan kebenaran itu:

QS. Al-An'am (6): 38

"Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan."

💡 Semua makhluk — termasuk Enggang Gading — adalah umat ciptaan Allah, memiliki kehidupan dan peran masing-masing. Semua akan kembali kepada-Nya.

QS. An-Nahl (16): 79

"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang terbang di angkasa langit? Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman."

💡 Burung terbang dan bertahan di udara semata-mata atas kuasa Allah. Keberadaan Enggang di hutan Kalimantan adalah salah satu tanda kekuasaan-Nya yang nyata.

QS. Al-Mulk (67): 19

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan menguncupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya selain Yang Maha Pemurah."

💡 Gerakan sayap Enggang yang mengembang dan menutup di angkasa — diatur dan dijaga langsung oleh Allah. Tidak ada kekuatan lain yang mampu menahannya.

QS. An-Nur (24): 41

"Tidakkah kamu tahu bahwa kepada Allah bertasbih siapa yang di langit dan di bumi, dan juga burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui cara sembahyang dan tasbihnya."

💡 Keindahan Enggang yang terbang mengembangkan sayapnya adalah bentuk tasbih dan pujian makhluk kepada Penciptanya.

📜 HADITS-HADITS PENDUKUNG

1. Manusia Sebagai Penjaga Bumi — Amanah Alam

"Sesungguhnya dunia ini hijau dan indah, dan Allah telah menunjuk kamu sebagai pengelola di atasnya. Dia melihat apa yang kamu lakukan."

📖 HR. Muslim, No. 2742

💡 Bumi bukan milik manusia, melainkan titipan Allah. Tugas kita bukan menguasai dan merusak, melainkan menjaga dan merawat.

2. Menanam Pohon = Sedekah yang Tak Terputus

"Tidaklah seorang Muslim menanam pohon, lalu burung, manusia, atau hewan memakan buahnya, melainkan itu menjadi sedekah baginya."

📖 HR. Bukhari No. 2320 & Muslim No. 1553

💡 Menyebarkan benih dan menjaga hutan — seperti yang dilakukan Enggang Gading — adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

3. Semua Makhluk Memiliki Hak Kehidupan

"Seekor wanita dimasukkan ke dalam neraka karena mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan. Ia tidak memberinya makan dan minum saat mengurungnya, dan tidak pula melepaskannya agar bisa mencari makan di bumi."

📖 HR. Bukhari No. 3482 & Muslim No. 2221

💡 Setiap makhluk hidup memiliki hak hidup. Menyayangi mereka adalah bagian dari iman.

4. Dilarang Menyakiti Makhluk dengan Api

"Siapakah yang membakar ini? Tidak boleh menyiksa dengan api, kecuali Tuhan yang memiliki api."

📖 HR. Abu Dawud No. 2675

💡 Merusak alam, membakar hutan, atau menyakiti makhluk adalah perbuatan yang dilarang keras.

5. Berbuat Adil — Perintah yang Tegas

"Ketahuilah, keadilan itu adalah kemuliaan. Berbuatlah adil kepada semua orang, janganlah kamu memihak kepada sebagian orang sehingga kamu membelokkan keadilan."

📖 HR. Tirmidzi No. 1336

💡 Keadilan harus ditegakkan kepada semua, tanpa membeda-bedakan.

6. Jangan Berlebihan — Ambil Secukupnya

"Janganlah kamu boros dalam menggunakan air, sekalipun kamu berada di tepi sungai yang mengalir."

📖 HR. Ibnu Majah No. 4259

💡 Kelimpahan bukan alasan untuk boros atau merusak.

7. Semua Makhluk Bertasbih

"Batu pun ada yang lebih baik daripada sebagian manusia. Bumi ini akan berbicara tentang amal perbuatan yang dilakukan di atas punggungnya."

📖 HR. Tirmidzi No. 2305

💡 Alam semesta senantiasa bertasbih kepada Allah. Membaca alam berarti membaca tanda-tanda kebesaran-Nya.

⚖️ MAKNA SEMBOYAN DAYAK — TIGA HUBUNGAN UTAMA MANUSIA

Orang Dayak tidak asing dengan konsep hubungan. Hidup mereka dibangun di atas tiga keseimbangan yang selaras dengan ajaran Allah:

✅ Hablu Minallah — Hubungan manusia dengan Jubata / Allah

✅ Hablu Minannas — Hubungan manusia dengan sesama manusia

✅ Hablu Minal Alam — Hubungan manusia dengan alam ciptaan-Nya

Semboyan leluhur kita merangkum ketiganya:

"Adil Ka'Talino — Adil Kepada Sesama"

(Hablu Minannas)

Berbuat adil kepada sesama manusia, tanpa membeda-bedakan. Keadilan bukan hanya di bibir, tetapi dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

QS. Al-Maidah (5): 8:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, karena Allah, bukan karena menyinggung perasaan."

Enggang mengajarkan: terbang tinggi, namun tidak menindas yang di bawah. Pemimpin harus adil, melihat jauh ke depan, namun selalu menaungi yang lemah.

"Bacuramin Ka'Saruga — Bercermin Kepada Surga"

(Arah hidup menuju kebaikan kekal)

Setiap sikap, perkataan, dan tindakan dijadikan cermin menuju kebaikan yang abadi. Hidup di dunia sementara, tetapi amal dan kebaikan kekal selamanya.

QS. Ar-Rahman (55): 60:

"Dan kebaikan apa saja yang ada pada surga, maka itulah yang terbaik bagi orang-orang yang berbuat baik."

Enggang terbang mendekati langit, namun selalu membawa benih kehidupan ke bumi. Mengajarkan kita: menuju yang tinggi, namun tetap menebar kebaikan di tempat kita berpijak.

"Basengat Ka'Jubata — Bernapas dari Tuhan"

(Hablu Minallah)

Hidup dan napas manusia berasal dari Jubata — Allah. Segala sesuatu kembali kepada-Nya. Manusia bukan pemilik kehidupan, melainkan penjaga yang diberi amanah.

QS. An-Nahl (16): 78:

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu, dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur."

Enggang terbang bebas, namun ia tidak pernah melupakan hutan tempat ia bersarang. Ia tahu udara yang menghidupkannya, pohon tempat ia berteduh — semuanya titipan Pencipta. Sebagaimana Enggang bergantung pada Allah, demikian pula napas dan hidup kita semata-mata milik Jubata, Allah Yang Maha Esa.

🌿 STRATEGI DAKWAH: MULAI DARI YANG SUDAH ADA DI HATI

Orang Dayak tidak perlu diajarkan untuk percaya kepada Tuhan. Mereka sudah menyebut-Nya Jubata. Mereka sudah hidup beradab, lahir beradab, mesti beradab. Maka jalan yang paling benar adalah:

- Mulai dari ayat kauniyah — ciptaan Allah yang mereka lihat sehari-hari: hutan, sungai, burung, langit

- Dari yang dikenal menuju yang ditulis — dari hikmah leluhur menuju firman Allah yang tertulis

- Dari Jubata menuju Allah — bukan mengubah, tapi mempertegas bahwa Yang sudah mereka sembah dan sebut Jubata itulah Allah, Tuhan semesta alam

Bukan mengganti kepercayaan leluhur, melainkan menyempurnakan cahaya kebenaran yang sudah ada.

"Arus… Arus… Arus…"

Seperti sungai yang mengalir menuju lautan — kebenaran yang satu itu akan selalu bertemu pada Satu Sumbernya: Allah SWT, Yang juga dikenal oleh leluhur kita sebagai Jubata.

✨ KESIMPULAN

Kearifan leluhur Dayak, keagungan ciptaan yang tercermin pada Burung Enggang Gading, ajaran Al-Qur'an, dan petunjuk Rasulullah ﷺ semuanya bersatu pada satu kebenaran: bahwa ada Satu Pencipta — Jubata, Allah SWT — yang menciptakan segala sesuatu dengan sempurna.

Dia adalah Yang Maha Adil, Maha Penyayang, Maha Memelihara. Kepada-Nya kita berbuat adil kepada sesama, berbuat baik sebagai bekal kembali kepada-Nya, dan menyadari bahwa setiap napas yang kita hirup adalah pemberian dari-Nya.

"Seperti Enggang Gading yang terbang tinggi namun akarnya tetap di hutan leluhur — berjalanlah ke masa depan, namun jangan pernah melupakan dari mana asalmu. Sayapmu yang lebar adalah untuk melindungi, bukan untuk menguasai; suaramu yang lantang adalah untuk kebenaran, bukan untuk keangkuhan; dan hatimu yang setia adalah untuk mengingat Jubata — Allah Yang Maha Kuasa — di mana pun engkau berada."

Semoga berkah dan bermanfaat!

Oleh Tengku Mulia Dilaga Turiman Facturahman Nur

Baca juga: Bismillah dalam Tradisi Melayu & Jejak Sejarah Kesultanan Kadriah Pontianak

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....