81 Tahun Indonesia Merdeka

  • 16 Agt 2026 21:22 WIB
  •  Pontianak

Perjuangan Rakyat Landak Hingga Tetesan Darah Penghabisan

Di daerah Landak, sebagai wilayah di pedalaman Kalimantan Barat, telah lewat saat-saat yang matang untuk proklamasi, karena tiada diketahui peristiwa Proklamasi Kemerdekaan dan peristiwa pemberontakan serta pergolakan nasional.

Setelah berita-berita itu diketahui, maka segera pada tahap pertama di masa NICA berkuasa, terasa dimulai gerakan di bawah tanah atau gerakan rahasia. Akan tetapi gerakan ini tak lama kemudian meningkat menjadi gerakan grilya dan sabotase.

Adalah seorang wakil panembahan yang dengan keras dan sangat tegas menentang pemerintah NICA. Dialah Gusti Mohammad Appandie Ranie Pangeran Mangkubumi Setia Negara, seorang pangeran mengkubumi atau wakil raja di Kerajaan Landak.

Rakyat Kerajaan Landak sampai pada ketika itu tetap setia kepada pemerintah Republik Indonesia yang belum lama berdiri.

Di bawah kepemimpinan Gusti Affandi Ranie, Onderafdeeling Landak, khususnya Kewedanaan Ngabang, pada Maret 1946, membentuk organisasi bernama Persatuan Rakyat Indonesia atau PRI, yang dengan tegas menyatakan bahwa rakyat di wilayah ini, dari semua tingkatan dan agama, berdiri di belakang republik Proklamasi.

Pengurus pusat organisasi ini terdiri 15 orang, diketuai Gusti Abdulhamid Aun. Bagian propaganda beranggotakan 17 orang dipimpinan Gusti Mohamad Said Ranie, yang kelaknya meninggal dunia sewaktu meringkuk dalam penjara NICA di Sungai Jawi Pontianak akibat siksaan para perwira KNIL dan kaki tangan NICA Belanda lainnya.

Dengan sikap heroik, rakyat Landak di distrik Ngabang, Air Besar, Menyuke dan Sengah Temila memperjuangkan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia hingga tetes darah terakhirnya.

Usaha PRI khusunya memberikan penerangan tentang arti dan makna proklamasi 17 Agustus 1945 dan langkah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, untuk memantangkan sikap rakyat Landak menolak kehadiran kembali para penjajahan. Di Distrik Ngabang sendiri khususnya pra-perlawanan bersenjata meningkat, dari propaganda menjadi tindak aksi sabotase dan persiapan perang griya.

Pada awal Oktober 1946 PRI yang dianggap cukup berhasil menanamkan semangat mempertahankan kemerdekaan, berubah sifat keorganisasiannya, menjadi organisasi yang bersifat revolusioner, dengan nama Gerakan Rakyat Merdeka atau Geram. Persiapan pembentukan Geram ini rampung melalui koordinasi PRI yang selama itu bersifat politis.

Syafaruddin DaEng Usman Ketua Umum DHD BPK 45 Kalbar bersama pengurus Mada Legiun Veteran PKRI Kalbar Drs H Rusman Chamili dalam rangka HUT 81 Indonesia. (Foto: Dok. Syafaruddin DaEng Usman)

Dengan berdirinya Geram belakangan tampil para bekas Heiho dan Seinendan yang di masa pendudukan militer Jepang memperoleh latihan semi-militer. Organisasi Geram akan melakukan aksi berontak bersenjata terhadap militer NICA dan KNIL serta berusaha menegakkan kekuasaan republik di daerah Landak khususnya sebagai bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia.

Dalam struktur gerakannya, daerah dan pimpinan aksi dibagi dalam dua bagian, masing-masing Gusti Mohammad Lagum Amin memimpin gerakan bersenjata di daerah Ngabang, Air Besar dan Menyuke, dan Bardan Nadi Sutrisno di Distrik Sengah Temila.

Pada 9 Oktober 1946, berlangsung rapat bersifat rahasia di rumah Gusti Sani, dihadiri pula oleh utusan organisasi pergerakan rakyat Singkawang, Sukimin. Berbagai macam senjata telah tersedia, terutama senjata tajam. Juga ada beberapa senapan dan granat tangan yang diperoleh dari para bekas Heiho yang berhimpun di dalam Geram.

Pada Kamis malam 9 Oktober, dan memasuki Jumat 10 Oktober 1946, dilakukan serangan khususnya terhadap tangsi militer KNIL dan NICA di Ilir Kantor, pos polisi NICA dan rumah kontrolir Belanda di Ilir Tengah Ngabang. Tangsi militer diserang oleh pasukan dari Air Besar, Sengah Temila, Sangku dan Darit di bawah pimpinan Djoko Walujo dan Gusti Sani.

Serangan terhadap polisi dan rumah kontrolir di Ilir Tengah Ngabang dipimpin oleh Ya' Nasri Osman atau dikenal akrab dengan Ya' Dedeh dan Gusti Mohamad Said Ranie. Pertempuran dengan persenjataan tak berimbang, meletus sejak pukul 2 dini hari Jumat 10 Oktober 1946. Sebelumnya, sore hari peralatan komunikasi di kantor telepon Ngabang telah dirusak oleh para pekerja kantor telepon Ya' Mohamad Tayib dan Ismail Gani, sehingga hubungan telepon dari dan ke Ngabang telah terputus.

Tangsi militer NICA dan KNIL Ngabang tak dapat diduduki para pemberontak Geram. Adanya informasi kaki tangan militer NICA dan juga khususnya Demang Ngabang sendiri, menempatkan anggota KNIL dan NICA bersiaga dan bertahan dengan persenjataannya.

Pertempuran atau baku tembak di pos polisi NICA lebih berhasil. Ya' Nasri Osman dan beberapa temannya antara lain Abang Mohamad Noor (kakek kandung penulis) dapat menerobos masuk dan melakukan pertarungan seorang lawan seorang.

Dua unit karaben dapat dirampas. Namun, Ya’ Nasri Osman terkena tembak pada pangkal kakinya, sehingga ia harus berlindung di dalam lubang perlindungan serangan udara di depan rumah kontrolir Landak. Pejuang muda Ya' Nasri Osman atau Ya' Dedeh inilah yang berhasil mengibarkan bendera merah putih di halaman kantor pemerintah NICA Belanda di Ngabang pada Jumat, 10 Oktober 1946 pukul 1 dinihari.

Belakangan para pejuang Geram kehabisan amunisi tempur dan terpaksa mengundurkan diri melakukan grilya di pedalaman Landak. Pasukan Geram Sengah Temila, Darit dan Sangku mundur ke arah Sidas yang terletak pada ruas jalan menuju Pontianak. Pasukan Geram Ngabang serta Air Besar mundur ke arah Munggu dan Ambarang, sesuai dengan rencana dan taktik gerakan bersenjata Geram yang telah ditentukan Lebih dahulu jika militer NICA dan KNIL tak dapat dibinasakan.

Di Sidas terjadi pertempuran berskala besar, di sini pasukan KNIL memburu laskar Geram di bawah pimpinan bersaudara Ngadimin Nadi dan Sardiman Nadi yang mundur dari Ngabang. Di sini pula pasukan KNIL memakai suatu muslihat yang sering mereka lakukan. Mereka memerintahkan agar rakyat meletakkan senjata.

Dengan sendirinya rakyat menolak dan menuntut yang sebaliknya, sehingga terjadi diplomasi. Sedang diplomasi ini berlangsung, seketika pasukan militer Belanda menembak beruntun para laskar Geram Sidas. Sedikitnya gugur 27 orang pejuang merah putih di sini, antara lain Mane Pak Kasih, Sidong, Mujalin dan lainnya.

Sementara di ruas jalan Ngabang ke Sanggau, dapat dengan mudah dikuasai pihak KNIL.

Belanda terus mengejar para pimpinan Geram yang melakukan grilya ke hutan-hutan. Di Sepatah Sengah Temila sepasukan KNIL membakar rumah Gusti Mohamad Saleh Aliudin beserta segala perabotnya. Isterinya, Utin Maryam dan keluarga lainnya digiring ke Ngabang sebagai tawanan. Mereka juga membakar rumah Bardan Nadi Sutrisno, yang mencoba meloloskan diri dengan menggendong anaknya Paini Trisnowati yang masih bayi. Militer Belanda mengejarnya dengan tembakan-tembakan gencar yang menembus badan bayi yang belum tahu apa-apa itu.

Rakyat Landak bertahan habis-habisan. KNIL dan militer NICA melakukan penggerebekan-penggerebekan di mana-mana. Rakyat Landak ditangkapi dan dikirim ke penjara Sungai Jawi Pontianak. Komandan grilya banyak pula yang tertangkap, seperti Ngadimin, Sardiman,dan Bardan Nadi, Gusti Abdulhamid Aun, Ya' Nasri Osman, Gusti Lagum Amin dan lainnya.

Daerah Sengah Temila adalah salah satu daerah yang paling sengit bergolak. Pertempuran-pertempuran di sini baru berakhir pada 29 Oktober 1946. Korban dalam pertempuran jarak dekat di Sidas ini saja sedikitnys 24 orang ditembak mati, 1 orang gugur di simpang Bebehan, 4 orang gugur di Sepatah, 1 orang gugur di Km 20 dan 1 orang setelah ditawan ditembak mati di Ngabang.

Pasukan grilya yang mundur ke arah Munggu dan Ambarang di Ngabang disambut dengan gembira oleh rakyat di Kedama, di mana juga berada pemimpin-pemimpin grilya dari Bengkayang dan Singkawang, antara lain Karlan Kartodimedjo, Panglima Busu, Alibarudin, Sukimin. Di sini mereka mengatur siasat pertempuran selanjutnya.

Peristiwa Ngabang 10 Oktober 1946 harus di balas. Sebagai sasaran pertama ditetapkan Darit. Serangan ini berhasil. Demang Rahimin, jurutulis dan seorang jururawat ditawan. Kas pemerintah disita beserta barang-barang yang ada.

Kemudian sisa pasukan Geram di Tenguwe, di bawah koordinasi Ja’ Achmad Dundik, Ja’ Hafiz, Ja’ Mursidi dan lainnya, berupaya mengulangi serangan ke Ngabang. Mereka bertahan di Sempatong dan Tengon. Pasukan kemudian bergerak ke Merbe dan diperkuat sisa laskar Geram dari Serimbu.

Tempat berkumpul untuk menyerang Ngabang di Ambarang sekitar 9 Km dari Ngabang. Namun KNIL telah mendahului menduduki Ambarang dengan adanya informasi dari kaki tangan mereka. Pada tengah malam terjadi balu tembak di Ambarang, pasukan Geram Landak terpaksa mundur meninggalkan Ambarang. Dalam pertempuran ini 3 orang penduduk gugur tertembak pasukan NICA.

Namun sebelum meninggalkan Ambarang, Pangkima Busu menewaskan 3 orang serdadu NICA dengan mandaunya.

Pasukan Geram mundur ke Tenguwe, terus ke Sempatong dan kemudian di Pangkalan Empat di tapal batas Serawak Malaysia. Mereka terus bertahan di daerah perbatasan ini. Setelah beberapa bulan mengembara di hutan-hutan akhirnya beberapa pemimpinnya memasuki Ngabang. Sebelumnya beberapa pemimpin pergolakan bersenjata rakyat Landak telah tertangkap dan dipenjarakan di Sungai Jawi Pontianak, antara lain Gusti Mohammad Lagum Amin, Gusti Mohamad Said Ranie, Gusti Sani, Gusti Mustafa Sotol dan lainnya.

Ya' Nasri Osman atau Ya' Dedeh setelah benerapa waktu meringkuk dalam penjara Ngabang kemudian penjara Sungai Jawi Pontianak, akibat siksaan militer NICA dan tentara KNIL selama dalam kurungan, mengalami depresi berat. Belakangan diangkut ke Jawa untuk diberikan perawatan, namun dikabarkan Ya' Nasri telah dilemparkan ke laut lepas oleh pasukan KNIL yang membawanya dari Pontianak.

Akan halnya Bardan Nadi Sutrisno dijatuhi hukuman mati, dan ia dipersalahkan telah memerintahkan membunuh mata-mata musuh bernama Alibasarrudin di Sepatah. Saat akan menjalani eksekusi Bardan tegas menolak ditutup matanya, ia hanya minta izin menyanyikan Indonesia Raya dan memekikkan pekik merdeka. Dan dua permintaannya itu diluluskan. Dua belas butir peluru seketika pula menembus badannya pada 17 April 1947. Dan

Telah merenggut jiwa dan raganya.

Gusti Mohammad Saleh Aliudin bersama Achmad Djajadi dapat mengelabui kaki tangan NICA Belanda dan bergrilya di daerah Teluk Pakkedai hingga saat pengakuan kedaulatan. Gusti Lagum mendapat hukuman 18 tahun, Gusti Said meninggal di penjara Sungai Jawi ketika sedang menjalani hukumannya akibat siksaan berat, konon dilaporkan dia telah dipaksa minum racun oleh pasukan NICA. Sementara Haji Nasri meninggal ketika sedang menjalani hukumannya dalam penjara Cipinang. Kimas Akil Abdurahman meringkuk di Nusa Kambangan.

Lebih kurang 10 orang kemudian meninggal karena mengalami TBC, adapula akibat penganiayaan dan penderitaan dalam tahanan. Sedang yang dapat kembali ke kampung halamannya banyak menderita penyakit akibat kesengsaraan dan penyiksaan selama dalam penjara.

Daerah Landak khususnya Ngabang telah memberikan korban yang besar, tapi sangat terhormat untuk kemerdekaan. Dan tak kurang besarnya dari korban yang diberikan pada peristiwa besar lainnya dari korban yang diberikan pada peristiwa di luar Kalimantan, ataupun dalam pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya atau bahkan dalam peristiwa Bandung Lautan Api, atau entah beberapa lagi tindak kepahlawanan para pejuang tanahair Indonesia.

Sekali merdeka, tetap merdeka!!!

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, Ketua Umum Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45 (DHD 45) Kalimantan Barat

Baca juga: Indonesia Negara Anak Muda yang Mendunia, Renungan 81 Indonesia Merdeka

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....