Indonesia Negara Anak Muda yang Mendunia, Renungan 81 Indonesia Merdeka

  • 16 Agt 2026 11:17 WIB
  •  Pontianak

Indonesia adalah negaranya Anak Muda. Sejarah berdirinya bangsa ini 81 tahun silam telah membuktikan itu. Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia masih besar. Bukan hanya mengatasi ketertinggalan dan kemiskinan, melainkan juga memaksimalkan potensi besar bangsa.

Tantangan peradaban saat ini tentu saja berbeda dari masa-masa awal kemerdekaan. Bahkan dengan perkembangan teknologi informasi dan teknologi transportasi globalisasi sudah tak bisa lagi terelakkan. Sebagai konsekuensinya, generasi muda Indonesia akan mengalami masa di mana akar kearifan lokal akan bertemu dengan nilai-nilai yang sifatnya lebih universal.

Generasi muda Indonesia, seperti juga generasi muda di berbagai negara lainnya, akan mengalami masa-masa pembauran, yang tentunya membawa kegamangan dan ketidakpastian.

Tantangan ini membuat generasi muda Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk mampu berwawasan mendunia, tanpa harus kehilangan akar kearifan lokal Indonesianya. Kalimat ikut melaksanakan ketertiban dunia dalam preambule UUD 1945 barangkali akan lebih gamblang terihat di masa global ini.

Generasi muda Indonesia akan terhubung dengan sesamanya di berbagai belahan dunia lain, bahu membahu menjaga kesinambungan bumi dan peradaban yang dihidupinya. Wawasan mendunia ini boleh jadi sophisticated. Namun, tanpa akar yang kuat dari kearifan lokal Indonesia, maka akan kehilangan kekuatan dan daya dorong untuk mencapai cita-cita bangsa.

Generasi muda Indonesia perlu menggali kearifan bangsa yang tersari dalam Pancasila, juga untuk memahami sejarah perjuangan negara bangsa. Ini akan menjadi akar pohon bangsa.

Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa akan mendorong sikap-sikap kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan kepada sesama manusia. Manusia-manusia Indonesia sebagai prasyarat tercapainya keadilan sosial. Dan demokrasi atau musyawarah untuk mufakat menjadi praktik politik dan kekuasaan untuk mencapai keadilan sosial tersebut.

Nilai-nilai ini dilengkapi dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika, yang menunjukkan asal usul Indonesia yang beragam itu. Tanpa adanya keberagaman tidak akan ada Indonesia sejak 1945. Karena keberagaman inilah dicapai kesepakatan berupa Negara Republik Indonesia yang mengikat semuanya.

Akar nilai dan falsafah inilah yang perlu dipadukan dengan universal living values dan konteks-konteks mondial. Generasi muda Indonesia perlu memperbesar kafasitas dirinya, dengan terus mengasah wawasan dan keterampilannya.

Bangsa Indonesia memerlukan lebih banyak orang muda yang berkarya profesional dan berdedikasi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Begitu banyak isu kualitas kehidupan yang masih timpang perlu dihadapi dan diselesaikan.

Tentu tidak boleh melihat keadaan sebagai sebuah titik. Semestinya melihat ini semua seperti sebuah garis yang terus bergerak maju. Hal yang dihadapi hari ini adalah sesuatu yang bisa dikoreksi, diperbaiki, dikembangkan, dihancurkan, dibesar atau kecilkan, sejalan dengan garis waktu yang maju tadi.

Dan memang mesti berserah diri kepada Tuhan. Tetapi itu dilakukan setelah maksimal mengupayakan segala yang mampu, dengan kekuatan yang Tuhan berikan, untuk mengadakan perbaikan di muka bumi, dan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi sesama makhluk Nya. Dan harus bekerja sepenuh jiwa raga untuk bangsa dan negara.

Bangsa ini dicintai dengan sepenuh hati. Hendaklah melihatnya lahir dan tumbuh. Dengan ikut dalam proses pertumbuhannya. Bangsa ini adalah bangsa yang besar. Dengan keberlimpahan sumber dayanya dan keindahan pribadi orang-orangnya, maka seharusnya mampu menjadi bangsa yang besar.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat memengaruhi bangsa-bangsa lain untuk tumbuh berkembang dan berdaya bersama. Bangsa yang besar seyogyanya menjadi trend setter terhadap semangat bekerja sama dan saling membantu. Bangsa yang besar juga adalah bangsa yang selalu siap untuk menjunjung tinggi keadilan, kemanusiaan, dan kesetaraan.

Membangun bangsa adalah membangun manusia. Ketika membayangkan hendak menjadi seperti apa sebagai bangsa di masa depan, harus melihat realita seperti apa masyarakat hari ini.

Masyarakat dibentuk dari kumpulan-kumpulan yang terdiri dari keluarga-keluarga dengan individu-individu di dalamnya. Hendak menjadi apa bangsa ini di masa depan tergantung dari bagaimana individu, keluarga, dan kelompok masyarakat berinteraksi dan membentuk kebersamaan.

Sejak dulu, masyarakat ini dibesarkan dengan kesadaran hidup dalam kebersamaan. Dengan memiliki landasan nilai-nilai kebersamaan yang begitu mengakar. Semangat gotong royong, di mana setiap orang lebih mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan kelompok sendiri, telah ada pada masyarakat ini. Ia sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Nilai ini diturunkan dari generasi ke generasi. Sama sekali tidak mengherankan bila para pendiri bangsa ini menyusun suatu rumusan dasar negara yang berisi nilai-nilai luhur bangsa ini. Tujuan bangsa ini, sebagaimana yang ada di dasar negara Indonesia, adalah membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jika mau merenungi warisan para pendahulu, maka akan menemukan bahwa nilai-nilai itu sudah duluan mengakar pada masyarakat. Saatnya perlu menyadari bahwa bangsa ini adalah bangsa yang sudah memiliki modal dasar untuk menjadi bangsa yang besar.

Kebesaran ini akan terwujud justru bila semua orang memegang teguh nilai "kebersamaan untuk kebaikan bersama" yang telah dimiliki. Dalam soal ini, mestinya dunia justru dapat mengambil banyak bahan belajar dari bangsa Indonesia.

Maka harus mulai dari diri sendiri sambil menyebarkan semangat solidaritas dan kebersamaan. Semangat ini harus ada setiap saat bersama diri masing-masing. Semangat

Ini harus menjadi pedoman dalam setiap keputusan yang diambil, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun ketika duduk di kursi-kursi kekuasaan di mana amanah diberikan sebagai tanggung jawab.

Tahun 2045, ketika Indonesia berulang tahun yang ke 100, sudah tinggal sebentar lagi. Anak cucu yang hari ini baru menjajal rasanya tahun-tahun pertama bersekolah, pada tahun 2045 akan menjadi para pemimpin yang duduk di kursi-kursi strategis sebagai penyelenggara bisnis, politik, dan akademisi.

Sebelum tahun 2045 tiba, ada tahun-tahun di mana berada dalam periode yang menentukan, the point of in return. Apakah akan menjadi bangsa yang jaya atau menjadi bangsa yang sengsara ketika merayakan ulangtahunnya yang seabad? Periode yang menentukan itu adalah saat ini. (***)

Pemulis: Syafaruddin Daeng Usman, Ketua Umum Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45 (DHD45) Kalimantan Barat

Baca juga: Kemerdekaan Bukan Hadiah, Melainkan Hasil Perjuangan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....