Pohon Natal Blarak, Nuansa Ekologis di Gereja Santo Yusup Jember

  • 21 Des 2024 18:36 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Akhir tahun selalu identik dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani. Sebagai momen untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus, Natal menjadi waktu penuh kebahagiaan, harapan, dan kebersamaan.

Berbagai tradisi mulai dari menghias pohon Natal dan berkumpul bersama keluarga serta komunitas gereja, menjadi bagian tak terpisahkan. Tradisi ini menciptakan suasana meriah yang memperkuat semangat Natal.

Seperti di Gereja Santo Yusup Jember, yang kembali menampilkan sesuatu yang berbeda. Tahun ini, gereja tersebut mempersembahkan sebuah pohon Natal unik setinggi 7 meter dengan diameter sekitar 2,7 meter.

Pohon Natal dari daun kelapa kering atau blarak, yang dirangkai dengan kerangka bambu. Foto: Anggi RRI Jember

Pohon ini tidak terbuat dari daun hijau biasa, melainkan dari daun kelapa kering atau blarak, yang dirangkai dengan kerangka bambu. Pohon ini juga dihiasi kelapa cengkir dan jerami, yang memberikan nuansa alami khas pedesaan.

Ketua Panitia Natal, Fransiskus Xaverius Suyanto, menjelaskan bahwa penggunaan bahan-bahan tradisional ini merupakan bagian dari tema ekologis yang diusung keuskupan mereka. Langkah ini bertujuan untuk mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan.

"Kami mengadaptasi gaya Eropa, tetapi memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti blarak dan kelapa cengkir yang kami kumpulkan dari Desa Cangkring. Bahan-bahan ini melimpah, terutama daun-daun yang banyak berjatuhan di desa tersebut," ujarnya, Jumat (20/12/2024).

Tidak hanya pohon di halaman gereja, ornamen pohon natal dari bahan botol bekas juga nampak dipajang di dalam gereja. Pohon Natal berukuran lebih kecil tersebut terbuat dari botol plastik, yang ujungnya diberi warna orange, hijau serta glitter.

Pohon Natal dari bahan botol bekas juga nampak dipajang di dalam gereja. Foto: Anggi RRI Jember

Pohon ini memancarkan kilauan indah saat malam hari, karena sorotan lampu yang menambah suasana hangat Natal. Ada pula dekorasi ranting pohon yang dihiasi kapas untuk menciptakan efek salju.

"Pembuatan ini sudah selama 4 kali setiap hari Minggu. Karena kami juga banyak bekerja. Sehingga kami memilih hari Minggu untuk mengerjakan dan dibentuk sedemikian rupa," kata dia.

Dekorasi ranting pohon yang dihiasi kapas untuk menciptakan efek salju. Foto: Anggi RRI Jember

Sementara itu, Pastor Rekan Paroki Santo Yusup Jember, Rm Yohanes Adrianus Muga, OCarm, mengungkapkan bahwa makna tema Natal tahun ini, Mari Kita Pergi ke Betlehem. Tema ini mengingatkan umat akan peristiwa kelahiran Yesus Kristus di Betlehem.

"Kata-kata itu disampaikan oleh para gembala yang merupakan orang pertama, yang mendapat kabar tentang kelahiran Yesus. Mereka inilah orang-orang yang terpinggirkan, secara status sosial selalu dianggap tidak penting dalam masyarakat," kata dia.

Ketua Dewan Pastoral Paroki, Brigita Susanti, menambahkan, Natal tahun ini juga akan diisi dengan kegiatan bakti sosial (baksos). Ini sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama, khususnya kepada mereka yang membutuhkan.

"Kita biasanya baksos, ada yang dari lingkungan dan gereja untuk memberikan bingkisan kepada mereka yang kekurangan," kata dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....