Masyarakat Gawai Dayak Lestarikan Kue Tumpi dalam Ritual Adat

  • 05 Jun 2026 09:13 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat terus berkomitmen menjaga kelestarian tradisi leluhur melalui penyajian panganan sakral, salah satunya kue tumpi, dalam setiap ritual adat dan upacara Gawai. Kue tradisional yang sekilas menyerupai kue cucur ini bukan sekadar hidangan pencuci mulut biasa.

Dalam struktur adat suku Dayak, kue tumpi memegang peranan sentral sebagai salah satu syarat utama atau sesajen yang wajib hadir dalam upacara adat ritual "Notokng" maupun pesta panen padi (Gawai Dayak).

Simbol Keselamatan dan Rasa Syukur

Pembuatan kue tumpi menggunakan bahan-bahan dasar yang sangat dekat dengan alam, yakni tepung beras, gula merah atau gula aren, serta air. Adonan tersebut kemudian digoreng dalam minyak panas hingga membentuk pinggiran yang renyah dan bagian tengah yang empuk bertunas.

Menurut para tetua adat setempat, bentuk bulat dari kue tumpi melambangkan kebulatan tekad, persatuan masyarakat, serta keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta (Petara). Kehadirannya di atas talam sesaji dipercaya sebagai simbol permohonan keselamatan agar seluruh prosesi adat berjalan lancar tanpa rintangan.

"Kue tumpi itu wajib ada dalam setiap mangkok piring adat. Tanpa tumpi, ritual kami dirasa belum genap atau belum lengkap untuk diserahkan kepada para leluhur sebagai tanda syukur atas hasil bumi," ujar salah satu tokoh adat Dayak saat ditemui di rumah betang.

Tantangan Regenerasi Kuliner Tradisional

Di tengah gempuran kuliner modern yang kian bervariasi, pembuatan kue adat menghadapi tantangan regenerasi. Menggoreng kue tumpi memerlukan keahlian khusus agar serat-serat di dalamnya terbentuk sempurna dan bagian tengahnya matang merata tanpa menjadi gosong.

Oleh karena itu, melalui momentum Pekan Gawai Dayak yang diselenggarakan setiap tahunnya, generasi muda diajak untuk terlibat langsung. Perlombaan membuat makanan tradisional kerap digelar sebagai langkah konkret memperkenalkannya kepada anak cucu agar warisan non-benda ini tidak punah tergerus zaman.

Kini, kue tumpi tidak hanya dapat dinikmati saat ritual sakral saja. Beberapa pelaku UMKM di Pontianak mulai mengemas kue adat ini menjadi komoditas oleh-oleh khas budaya Kalimantan Barat, menjadikannya jembatan ekonomi sekaligus sarana diplomasi budaya yang efektif ke luar daerah.

Baca juga: Olahan Kue Ungu dari Ubi Ungu Enak dan Simpel Rumahan

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....