Liawandira, Perempuan Muda Penjaga Warisan Dayak Iban

  • 23 Jul 2026 20:01 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di tengah derasnya arus modernisasi, seorang perempuan muda asal Kabupaten Kapuas Hulu memilih jalan yang berbeda. Paskalia Wandira atau yang akrab disapa Liawandira membuktikan bahwa pendidikan dan kemajuan tidak harus membuat seseorang meninggalkan akar budayanya. Sebaliknya, ia menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk memperkuat pelestarian seni dan budaya Dayak Iban.

Liawandira merupakan Pemuda Pelopor Bidang Seni dan Kebudayaan 2025. Sejak usia 12 tahun, ia telah belajar menenun sidan, sementara kemampuan memainkan alat musik tradisional sape mulai diasah saat duduk di bangku kelas I SMP. Ketekunannya mengantarkannya tampil dalam ajang budaya bergengsi, Ubud Artisan Market (UAM)dan Tradisi Textile di Bali pada April 2026 sebagai penampil sape sekaligus demonstrator tenun.

Perjalanan pendidikannya sempat membawanya kuliah di Pontianak. Namun, pada 2024 ia memutuskan kembali ke kampung halamannya di Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Kapuas Hulu, dan melanjutkan pendidikan melalui Universitas Terbuka. Keputusan itu diambil agar pendidikan formal dapat berjalan seiring dengan proses belajar langsung dari masyarakat adat, para tetua, serta para penenun Dayak Iban.

"Saya masih bisa belajar bersama para seniman muda dari berbagai daerah di Indonesia sambil tetap berada di kampung halaman," ujar Lia dikutip melalui https://kalimantanreview.com

Selain aktif melestarikan tenun dan seni musik tradisional, Lia juga dipercaya memimpin Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Rantau Prapat. Baginya, pengembangan pariwisata harus menjadi sarana memperkenalkan budaya, bukan menggerus identitas masyarakat adat. Lia menegaskan bahwa kelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari kelestarian alam.

"Karena hutan adalah bapak kami, tanah adalah ibu kami, dan air adalah darah kami, maka kebudayaan tergantung pada tiga unsur tadi. Jadi seluruh warga Lauk Rugun, umumnya warga Iban Rantau Prapat harus menjaganya agar terus lestari," katanya.

Melalui dedikasinya, Liawandira menjadi representasi generasi muda Dayak Iban yang mampu memadukan pendidikan modern dengan kearifan lokal. Kiprahnya menunjukkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan, melainkan memastikan warisan budaya tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....