Edukasi Gender Jadi Kunci Ciptakan Ruang Aman Generasi Muda
- 01 Jul 2026 07:48 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Edukasi mengenai kesetaraan gender dinilai menjadi langkah penting dalam menciptakan ruang aman bagi generasi muda, sekaligus mencegah normalisasi pelecehan seksual yang masih sering terjadi di masyarakat. Hal itu disampaikan Bidang Advokasi dan Sosial HWCI Kalimantan Barat, Indah Allawiyah Kultsum, saat menjadi narasumber dalam program Pengarusutamaan Gender di RRI Pro 1 Pontianak, Senin, 29 Juni 2026.
Menurut Indah, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi, tetapi juga masih kuatnya stigma dan stereotip terhadap perempuan di ruang publik. "Kalau ngomongin tantangan sebenarnya banyak banget. Terutama kalau bicara gender, ternyata masih banyak tantangan yang kita hadapi, baik di lingkungan sosial maupun di ruang publik," ujarnya.
Ia menilai hingga kini ruang aman masih menjadi pekerjaan rumah bersama karena banyak perempuan yang masih menghadapi stigma ketika aktif di masyarakat. "Kadang sebagai perempuan, pulang malam saja masih dipandang negatif. Ketika aktif di lapangan juga masih banyak stereotip yang menganggap perempuan tidak layak berada di ruang publik. Itu menjadi tantangan yang nyata," katanya.
Indah juga menyoroti maraknya kasus pelecehan seksual yang belakangan menjadi perhatian publik, termasuk yang terjadi di lingkungan kampus. Menurutnya, banyak masyarakat belum memahami bahwa bentuk pelecehan tidak selalu berupa tindakan fisik, tetapi juga bisa muncul melalui komentar maupun candaan yang merendahkan seseorang.
"Hal-hal yang kita anggap hanya bercanda ternyata bisa menjadi pelecehan. Itu tidak boleh dinormalisasi karena justru membuka ruang bagi kekerasan yang lebih besar," ucapnya.
Ia mencontohkan komentar bernada seksual di media sosial yang sering dianggap lumrah, padahal termasuk bentuk pelecehan verbal. "Kalau kita membiarkan itu menjadi budaya, berarti kita sedang membiasakan pelecehan terjadi di sekitar kita," ujarnya.
Indah menekankan pentingnya pendidikan gender sejak usia dini agar masyarakat memahami perbedaan antara jenis kelamin (seks) dan gender serta menghargai hak setiap individu.
"Masyarakat kita masih butuh edukasi. Banyak yang belum bisa membedakan antara seks dan gender. Padahal pemahaman ini penting supaya tidak lahir diskriminasi," katanya.
Menurutnya, pendidikan mengenai kesetaraan gender perlu masuk dalam sistem pendidikan agar tidak muncul stigma yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
"Kalau pendidikan itu diajarkan sejak dini, kita akan lebih menghargai sesama. Jadi pola pikir diskriminatif tidak terus terbawa sampai dewasa," ujar Indah.
Sebagai Presiden Mahasiswa perempuan pertama di kampusnya, Indah mengaku pernah menghadapi berbagai tantangan ketika mencalonkan diri sebagai pemimpin. Ia menyebut perempuan kerap dinilai berdasarkan gendernya, bukan berdasarkan kapasitas maupun kompetensinya.
"Ketika perempuan menjadi pemimpin, yang sering dinilai bukan kepemimpinannya, tetapi karena dia perempuan. Padahal perempuan juga mampu memimpin," katanya.
Indah berharap masyarakat mulai meninggalkan stigma yang membatasi ruang gerak perempuan. "Kita bukan meminta perlakuan istimewa. Kita hanya ingin hak yang adil agar perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama sesuai kemampuannya," ujarnya.
Di akhir perbincangan, Indah mengajak generasi muda, khususnya perempuan, untuk terus meningkatkan pengetahuan sebagai bekal memperjuangkan hak dan melawan diskriminasi.
"Cara satu-satunya melawan ketidakadilan adalah dengan pengetahuan. Jangan hanya mempercantik penampilan, tetapi juga tingkatkan wawasan. Kita harus lebih bijak dalam menyikapi persoalan-persoalan seperti ini," ucapnya.
Baca juga: Atasi Stereotip Gender, Orang Tua Diminta Ubah Pola Asuh Anak
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....