Dzikir setelah Salat Jadi Kunci Ketenangan Hati

  • 16 Mei 2026 05:27 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Dzikir dan doa setelah salat memiliki banyak keutamaan bagi umat Muslim, mulai dari ketenangan hati hingga pengampunan dosa. Hal tersebut disampaikan Ustadzah Hendon Usman dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Pontianak, Sabtu, 2 Mei 2026.

Dalam tausiyahnya, Ustadzah Hendon menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak langsung beranjak setelah salam, melainkan memperbanyak dzikir dan doa. “Setelah habis salat, habis salam, maka kita panjatkan doa kita dan dzikir dulu. Karena setelah salat fardhu itulah waktu-waktu yang diijabah oleh Allah doa kita,” ujarnya.

Ia menyampaikan beberapa dzikir yang diajarkan Rasulullah SAW setelah salat fardhu, di antaranya membaca istigfar tiga kali dilanjutkan doa “Allahumma antas salam waminkas salam tabarakta ya dzal jalali wal ikram”. Selain itu, ia juga mengingatkan tentang amalan tasbih, tahmid dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali yang kemudian disempurnakan menjadi 100 bacaan.

“Fadilahnya adalah akan menghapuskan kesalahan kita walaupun sebanyak buih di lautan,” katanya.

Menurutnya, dzikir tidak hanya menjadi rutinitas lisan, tetapi juga harus dihayati agar memberikan ketenangan dalam hidup. “Kalau kita ingin mempunyai makna apa yang kita ucapkan, maka jangan tergesa-gesa. Saat membaca astagfirullahalazim misalnya, hadirkan dalam hati bahwa kita benar-benar memohon ampun kepada Allah,” jelasnya.

Dalam dialog interaktif tersebut, Ustadzah Hendon juga menjawab pertanyaan pendengar terkait penggunaan bahasa selain Arab saat berdzikir. Ia mengatakan hal tersebut diperbolehkan karena dzikir dilakukan di luar salat.

“Bahasa apa pun boleh. Tetapi biasanya supaya tidak menjadi pembicaraan orang lain, tetaplah kita menggunakan bahasa Arab seperti subhanallah, tetapi di dalam hati kita memahami artinya,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan tentang hukum mengeraskan suara saat berdzikir. Menurutnya, hal itu diperbolehkan selama tidak mengganggu orang lain.

“Kalau hanya sebatas syiar Islam dan menjadi penanda ada pengajian, maka boleh saja melantunkan dzikir dengan suara yang agak keras. Tetapi jangan sampai mengganggu orang di sekitar,” ucapnya.

Sementara itu, menanggapi pertanyaan pendengar mengenai ziarah kubur sambil “curhat” kepada anggota keluarga yang telah meninggal, Ustadzah Hendon menegaskan bahwa meminta pertolongan kepada mayit tidak diperbolehkan. “Kalau sekadar melampiaskan rasa rindu atau perasaan, boleh saja. Tapi kalau meminta pertolongan kepada yang sudah meninggal, itu tidak bisa lagi. Justru kita datang untuk mendoakan mereka,” jelasnya.

Di akhir acara, ia mengajak umat Muslim untuk membiasakan dzikir sejak usia muda dan mengajarkannya kepada anak-anak.

“Kalau habis salat jangan langsung beranjak. Tetap duduk di atas sajadah, biasakan berdzikir dan berdoa. Amalan yang dilakukan Rasulullah itulah yang kita ikuti agar mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat,” katanya, mengakhiri.

Baca juga: Shalat Sunnah Jadi Penyempurna Salat Wajib: Jangan Jadikan Rumah Seperti Kuburan

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....