Atasi Stereotip Gender, Orang Tua Diminta Ubah Pola Asuh Anak
- 05 Jun 2026 20:29 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Stereotip gender yang masih berkembang di lingkungan keluarga dan masyarakat dinilai menjadi salah satu tantangan dalam mewujudkan pendidikan Islam yang inklusif dan berkeadilan. Hal tersebut disampaikan oleh Ustadzah Sri Wahyuni, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Pontianak dengan tema "Mengatasi Stereotip Gender dalam Pendidikan Islam Multikultural: Langkah-Langkah Menuju Kesetaraan", Rabu, 3 Juni 2026.
Menurut Sri Wahyuni, banyak kalimat yang dianggap biasa dalam pola pengasuhan sehari-hari justru menjadi awal munculnya stereotip gender pada anak.
"Kalimat seperti 'anak laki-laki tidak boleh menangis' atau 'anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi' tanpa disadari menjadi benih awal stereotip gender yang membatasi potensi anak hanya berdasarkan jenis kelaminnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, meskipun negara telah menjamin hak pendidikan yang setara bagi seluruh warga negara, realitas di lapangan masih menunjukkan adanya ketimpangan gender, baik dalam akses pendidikan maupun cara pandang masyarakat terhadap peran laki-laki dan perempuan.
Menurutnya, perubahan tidak cukup dilakukan melalui sekolah semata, melainkan harus dimulai dari keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak.
"Sekolah hanya menerima lanjutan dari apa yang ditanamkan di rumah. Jika pola asuh di rumah masih bias gender, maka anak akan membawa pola pikir diskriminatif itu ke lingkungan sekolah dan masyarakat," katanya.
Dalam paparannya, Sri Wahyuni menegaskan bahwa Islam sejatinya mengajarkan keadilan, persamaan derajat, dan penghargaan terhadap keberagaman. Ia mengajak masyarakat memahami konsep keseimbangan sifat jalaliah (ketegasan, kekuatan) dan jamaliah (kelembutan, kasih sayang) yang terdapat dalam Asmaul Husna.
"Manusia yang utuh adalah manusia yang mampu meneladani sifat-sifat Allah secara seimbang tanpa memenjarakan sifat tertentu hanya pada laki-laki atau perempuan," jelasnya.
Ia menilai selama ini banyak orang tua yang masih menganggap sifat lembut dan penuh empati hanya layak dimiliki perempuan, sementara sifat tegas dan berani hanya milik laki-laki.
Akibatnya, lanjut dia, anak laki-laki sering dilarang mengekspresikan emosi, sedangkan anak perempuan dibatasi dalam mengembangkan potensi kepemimpinan maupun pendidikan tinggi.
"Ketika kita melarang anak laki-laki menunjukkan empati atau membantu pekerjaan rumah, sebenarnya kita sedang menutup ruang mereka untuk meneladani sifat kasih sayang Allah. Sebaliknya, ketika anak perempuan tidak diberi kesempatan berkembang, kita menghalangi mereka meneladani sifat kuat dan bijaksana yang juga diajarkan dalam Islam," tuturnya.
Menjawab pertanyaan pendengar mengenai makna kesetaraan gender, Sri Wahyuni menegaskan bahwa kesetaraan bukan berarti menyamakan seluruh peran laki-laki dan perempuan.
"Kesetaraan gender bukan menyama-nyamakan laki-laki dan perempuan secara mutlak. Yang dimaksud adalah memberikan kesempatan yang sama dan perlakuan yang adil dalam pendidikan, pekerjaan, serta pengembangan potensi diri," tegasnya.
Sebagai langkah praktis, ia menawarkan tiga pola pengasuhan yang dapat diterapkan keluarga, yakni pembagian tugas rumah tangga yang adil, dukungan yang setara terhadap minat dan bakat anak, serta memberikan ruang bagi anak laki-laki maupun perempuan untuk mengekspresikan emosi secara sehat.
Di akhir tausiahnya, Sri Wahyuni mengajak para orang tua untuk membebaskan anak-anak dari sekat-sekat stereotip gender agar lahir generasi yang inklusif, berkeadilan, dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat multikultural.
"Mari jadikan rumah sebagai tempat yang aman, adil, dan penuh kasih sayang. Dari rumah yang menghargai kesetaraan akan lahir generasi yang tangguh, berakhlak, dan menjadi pembawa kedamaian bagi masyarakat," katanya, mengakhiri.
Baca juga: Merokok Perparah Asma, Dokter: Risiko Kematian Meningkat
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....