Pakar Energi: Aspek Sosial Jadi Kunci Keberhasilan Pembangkit Listrik

  • 18 Apr 2026 21:14 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Transisi energi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) bukan sekadar persoalan kecanggihan teknologi, melainkan juga tentang kesiapan sosial masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak sekaligus peneliti teknologi energi terbarukan, Dr. Alfeus Sunarso dalam Seminar Nasional Energi Terbarukan yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Barat bekerjasama dengan Dewan Energi Nasional (DEN), Sabtu, 18 April 2026.

Dalam paparannya yang bertajuk teknologi dan inovasi, Alfeus membagikan pengalamannya selama bertahun-tahun mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) skala mikro di berbagai pelosok Kalimantan Barat. Ia mengungkapkan fakta menarik bahwa kegagalan operasional pembangkit listrik di tingkat pedesaan seringkali bukan disebabkan oleh kendala teknis, melainkan problem sosial.

“Dari pengalaman kami membangun tiga pembangkit berbasis komunitas sejak 2012, ada yang berhenti bukan karena mesinnya rusak, tapi karena konflik sosial. Misalnya, operator berselisih paham dengan kepala dusun. Begitu operatornya berhenti, kegiatan operasional pun ikut mati,” ujar lulusan Osaka University Jepang tersebut.

Alfeus menekankan bahwa dalam membangun infrastruktur energi di daerah terpencil, akademisi tidak boleh hanya mengirimkan tim teknis. Perlu adanya kolaborasi dengan ahli sosial untuk membangun pola pikir dan rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat terhadap infrastruktur yang dibangun.

"Pembangunan ini harus melibatkan masyarakat dari awal, mulai dari proses desain hingga pengelolaan mandiri. Jika masyarakat hanya dijadikan objek penerima bantuan, maka saat tim peneliti pergi, keberlanjutan program tersebut akan terancam," imbuhnya.

Dr. Alfeus juga memaparkan inovasi sistem informasi potensi energi surya berbasis web yang telah dikembangkannya. Sistem ini menggabungkan data satelit dengan data lokal untuk memetakan lokasi-lokasi yang paling sesuai untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kalimantan Barat.

"Kami mengintegrasikan data potensi paparan cahaya dengan informasi jaringan distribusi listrik dan akses jalan. Dengan begitu, kita bisa menentukan titik mana yang paling efisien untuk dibangun tanpa harus merusak hutan lindung atau taman nasional," ungkapnya.

Teknologi ini juga dilengkapi dengan sistem pemantauan otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan verifikasi data secara real-time dari jarak jauh. Hal ini diharapkan dapat menjadi tulang punggung pengembangan Smart Grid atau jaringan listrik cerdas di masa depan.

Menjawab Kesenjangan Energi

Menanggapi pertanyaan mengenai kesenjangan energi antara kota dan desa, Alfeus mengakui adanya tantangan besar terkait letak geografis Kalimantan Barat yang luas namun berpenduduk tidak merata. Menurutnya, dibutuhkan komitmen politik yang kuat dari pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran pembangunan energi di wilayah-wilayah sulit jangkau.

"Secara teknologi kita siap, namun keberpihakan kebijakan untuk mendorong investasi di daerah terpencil sangat krusial agar masyarakat di kampung-kampung juga bisa menikmati akses energi yang sama," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....