Merokok Perparah Asma, Dokter: Risiko Kematian Meningkat

  • 09 Mei 2026 05:29 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Kebiasaan merokok pada penderita asma dinilai dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko komplikasi serius. Hal itu disampaikan dokter spesialis paru, dr. Uray Riki Arif Maulana, Sp.P., dalam program Indonesia Sehat RRI Pro 1 Pontianak, yang dipandu Host, Ira Adriyani, Jumat, 08 Mei 2026.

Menurutnya, asma merupakan penyakit pada saluran pernapasan yang menyebabkan penyempitan saluran napas akibat paparan tertentu, termasuk asap rokok. Kondisi tersebut memicu gejala seperti sesak napas, mengi hingga rasa tidak nyaman saat bernapas.

“Asma itu merupakan salah satu penyakit paru yang ditandai adanya penyempitan saluran napas akibat paparan tertentu sehingga menimbulkan gejala sesak, mengi, dan ketidaknyamanan pada pasien,” ujarnya.

Ia menjelaskan, asap rokok menjadi salah satu pemicu asma yang paling sering ditemukan, baik pada perokok aktif maupun perokok pasif. Bahkan, penderita asma yang tetap merokok akan lebih sulit diobati karena rokok dapat menurunkan sensitivitas tubuh terhadap obat asma.

“Pasien asma yang masih merokok itu akan sulit diobati. Rokok juga mengurangi sensitivitas terhadap obat yang diberikan sehingga pengobatannya menjadi lebih berat,” katanya.

Dokter Riki menambahkan, kondisi tersebut dapat memicu kekambuhan asma yang lebih parah hingga berisiko menyebabkan kematian akibat penyempitan saluran napas yang berat.

“Sekali kambuh itu bisa berbahaya karena saluran napas bisa menyempit total dan menyebabkan kondisi yang tidak kita inginkan,” jelasnya.

Tak hanya perokok aktif, perokok pasif juga memiliki risiko besar terkena dampak buruk asap rokok. Ia menyebut asap hasil pembakaran rokok justru lebih berbahaya karena mengandung zat kimia beracun seperti formaldehida dan logam berat.

“Asap pembakaran rokok yang dihirup perokok pasif itu lebih berbahaya karena tidak melalui filter,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahaya third hand smoker atau paparan residu asap rokok yang menempel pada pakaian dan rambut. Menurutnya, residu tersebut masih dapat terhirup oleh anak-anak di rumah dan memicu infeksi saluran pernapasan maupun asma.

“Baju yang terkena asap rokok itu masih menyimpan residu. Anak-anak yang digendong bisa ikut menghirup zat berbahaya tersebut,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa rokok elektrik atau vape bukan alternatif aman untuk berhenti merokok. Sebab, vape tetap menghasilkan aerosol yang mengandung partikel halus dan zat kimia berbahaya bagi paru-paru.

“WHO sudah menegaskan rokok elektronik bukan pengganti rokok dan tidak direkomendasikan. Itu tetap berbahaya bagi paru-paru,” tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk mulai berhenti merokok demi kesehatan diri sendiri dan keluarga. Menurutnya, langkah terbaik adalah memiliki motivasi kuat dari diri sendiri untuk berhenti.

“Waktu terbaik untuk berhenti merokok adalah hari ini. Lindungi paru-paru Anda, keluarga Anda, dan masa depan anak-anak Anda,” pungkasnya, mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....