Saat Perempuan Jadi Penyejuk dalam Moderasi Beragama
- 24 Apr 2026 15:05 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Peran perempuan dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman menjadi ulasan dalam program TOSERBA (Topik Serba Ada) Pro 2 RRI Pontianak, edisi Selasa, 21 April 2026. Mengangkat tema Perempuan sebagai Agen Moderasi Beragama, dialog ini menghadirkan Sulimah Marni, musyrifah Pondok Quran Ismuhu Yahya, yang membagikan pandangannya tentang pentingnya peran perempuan sebagai penyejuk di masyarakat.
Dalam perbincangan yang disiarkan langsung melalui 101,8 FM dan kanal YouTube Pro 2 Pontianak ini, Marni menekankan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam membentuk cara pandang generasi berikutnya. Menurutnya, perempuan adalah madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak, sehingga nilai-nilai toleransi dan keseimbangan dalam beragama bisa ditanamkan sejak dini.
Ia menjelaskan, moderasi beragama adalah bagaimana memahami ajaran dan bersikap bijak dalam kehidupan sosial. Perempuan dapat menjadi jembatan dalam meredam perbedaan dengan mengedepankan sikap saling menghargai tanpa harus mengorbankan prinsip keyakinan masing-masing.
“Dalam beragama, kita harus tetap berpegang pada prinsip, tapi tidak boleh merendahkan orang lain. Semua manusia memiliki kedudukan yang sama,” ujarnya.
Marni juga melihat tantangan besar yang dihadapi generasi muda saat ini, yakni derasnya arus informasi di era digital. Ia menilai, banjir informasi seringkali membuat anak muda kehilangan arah dan kurang memahami esensi kehidupan beragama yang sebenarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemahaman tentang moderasi beragama belum sepenuhnya kuat di kalangan generasi muda. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran dari dalam diri sebagai langkah awal.
“Kalau kita tidak menumbuhkan kesadaran diri, sebaik apa pun orang mengajarkan, kita tetap sulit memahami tujuan hidup kita,” ujarnya.
Lebih lanjut, Marni menyebut bahwa praktik moderasi beragama bisa dimulai dari hal sederhana, seperti berbuat baik kepada sesama dan menjaga komunikasi. Ia menilai, komunikasi yang baik adalah poin utama dalam mencegah konflik, terutama di tengah perbedaan pandangan.
Di lingkungan Pondok Quran Ismuhu Yahya, nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Para santri tidak hanya diajarkan untuk memahami Al-Qur’an, namun bagaimana mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam interaksi sosial.
Menutup perbincangan, Marni mengajak generasi muda, khususnya perempuan, untuk terus belajar dan berkarya. Ia berharap perempuan dapa menjadi penerus dan penggerak dalam menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis.
“Perempuan harus punya ilmu, punya karya, dan bisa menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat,” katanya, mengakhiri.
Baca juga: Kepemimpinan Perempuan di tengah Realita
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....