Rumah Moderasi Ajak Warga Kalbar Rawat Kebinekaan lewat RRI

  • 25 Jul 2026 18:15 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Keberagaman suku bangsa, agama, dan budaya di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat (Kalbar), merupakan anugerah dan keniscayaan yang harus dirawat bersama. Hal tersebut menjadi sulasan dalam program siaran interaktif Ngander bertajuk "Merawat Kebinekaan Melalui Moderasi Beragama" yang mengudara langsung dari Studio RRI Pro 4 Pontianak, Kamis, 23 Juli 2026.

Pengurus Rumah Moderasi, Dr. Susintoi, M.Pd., yang hadir sebagai narasumber menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah upaya untuk mencampuradukkan ajaran agama, tetapi cara atau tata laksana umat beragama dalam menjalankan ajarannya secara moderat, yakni berada di jalan tengah dan tidak ekstrem, tanpa menggoyahkan akidah keyakinan masing-masing.

"Kehidupan kita di Indonesia ini dibangun di atas fondasi kebinekaan. Perbedaan itu ibarat semangkuk sayur asem atau lengkungan pelangi. Dari berbagai komponen dan warna yang berbeda-beda itulah muncul sebuah harmoni kehidupan yang indah," ujar Susintoi saat berdialog bersama penyiar Mbok Yo di FM 94,3 MHz.

Lebih lanjut, Susintoi menceritakan bahwa berdirinya komunitas "Rumah Moderasi" sejak tiga tahun terakhir berawal dari keresahan terhadap sejarah kelam konflik sosial yang pernah melanda kawasan Kalimantan pada masa lampau. Sebagai langkah preventif, komunitas yang awalnya diinisiasi oleh mahasiswa Doktoral Pendidikan Agama Islam Multikultural Universitas Islam Malang (UNISMA) asal Kalbar ini, kini bergerak merangkul berbagai elemen masyarakat untuk menjadi agen moderasi.

Dalam praktiknya, upaya merawat kerukunan tidak lepas dari berbagai tantangan, baik di lingkungan masyarakat maupun di ruang digital. Di tengah masyarakat, Susintoi menekankan pentingnya komunikasi yang baik, misalnya dalam hal toleransi penggunaan pengeras suara rumah ibadah, hingga batasan interaksi sosial lintas agama pada saat hari raya raya, dengan tetap memisahkan antara ranah sosial dan ranah ibadah (akidah).

Sementara itu, tantangan di media sosial dinilai jauh lebih berat karena tingginya potensi misinformasi.

"Satu unggahan berupa ujaran kebencian atau potongan video khotbah yang dipotong di luar konteks bisa diterima jutaan orang dalam hitungan detik dan memicu provokasi. Ini menjadi PR besar bagi kami di Rumah Moderasi untuk memberikan klarifikasi dan pernyataan netral guna meredam potensi konflik," katanya menjelaskan.

Guna menjaga keutuhan bangsa di tengah arus informasi yang cepat dan sikap individualis, Susintoi mengajak masyarakat, terutama generasi muda sebagai ujung tombak masa depan, untuk memegang teguh empat indikator utama moderasi beragama.

Keempat indikator tersebut adalah memiliki komitmen kebangsaan (cinta tanah air), mengedepankan sikap toleransi, menghindari cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, serta mampu menerima dan memelihara budaya atau kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.

"Merawat kebinekaan ini bukan hanya tugas Rumah Moderasi, FKUB, maupun pemerintah saja. Ini adalah kewajiban kita bersama agar masyarakat Kalimantan Barat, Kota Pontianak, dan seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai," ucapnya dalam acara yang juga disiarkan melalui kanal YouTube Suara Budaya Kalimantan Barat tersebut.

Baca juga: Cegah Radikalisme, Ustaz Muhammad Lahir Ajak Warga Rawat Keberagaman

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....