Hampir 400 SPPG Kalbar Hadapi Tantangan Bahan Baku

  • 11 Jan 2026 17:40 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Hampir 400 SPPG di Kalimantan Barat (Kalbar) telah beroperasi. Namun, masih menghadapi tantangan pendanaan dan ketersediaan bahan baku.

Padahal ke-400 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut telah menerima Surat Keputusan Pengesahan (SKep) serta surat tugas untuk operasional. Namun, sebagian SPPG masih menunggu pencairan dana dan pembuatan virtual account dari Badan Gizi Nasional melalui Bank Himbara yang ditunjuk.

Kepala Badan Gizi Nasional Kalbar, Agus Kurniawi, mengatakan bertambahnya jumlah SPPG menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam pemenuhan bahan baku pangan.

“Semakin banyaknya SPPG, tantangan terbesarnya adalah permintaan bahan baku yang semakin meningkat. Di 2026, kita fokus bagaimana masyarakat bisa menyediakan kebutuhan SPPG, seperti buah, tahu, tempe, dan sayur yang dapat diproduksi di sekitar SPPG,” ujar Agus di Pontianak, Minggu (11/1/2026).

Agus mencontohkan, masyarakat dapat menanam pisang dan berbagai jenis buah lainnya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku SPPG. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

“Kita di Kalimantan Barat masih ada beberapa bahan baku yang disuplai dari luar provinsi,” katanya, menerangkan.

Untuk anggaran, Agus memastikan masih dalam kondisi aman. Saat ini, alokasi biaya sebesar Rp10 ribu per porsi diberikan untuk siswa kelas IV SD hingga SMA atau sederajat. Sementara untuk PAUD hingga kelas III SD sebesar Rp8 ribu per porsi.

“PAUD sampai kelas III SD porsinya lebih kecil, sehingga anggarannya juga disesuaikan. Sedangkan kelas IV sampai SMA porsinya lebih besar,” ujanya.

Namun, di sejumlah daerah seperti Kabupaten Kapuas Hulu, biaya per porsi mencapai lebih dari Rp13 ribu. Hal ini disebabkan tingginya harga bahan baku serta kondisi geografis wilayah yang jauh dari pusat distribusi.

“Kami juga sudah mengajukan biaya kemahalan untuk beberapa kabupaten, karena ada daerah yang sangat sulit dijangkau sehingga harga bahan baku jauh lebih mahal dibandingkan daerah perkotaan,” ucap Agus.

Badan Gizi Nasional Kalbar berharap, dengan keterlibatan aktif masyarakat dalam penyediaan bahan baku lokal, keberlangsungan program SPPG dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan di seluruh wilayah Kalbar.

Baca juga: SPPG Harus Konsisten Jaga Kualitas Menu MBG

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....