Sebaik Apapun Pasti Tetap Ada yang Tidak Suka

  • 13 Agt 2026 06:27 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Dalam kehidupan sosial, manusia tidak pernah lepas dari penilaian orang lain. Sekalipun seseorang telah berusaha berbuat baik, berlaku jujur, dan memberikan manfaat luas kepada masyarakat, selalu saja ada segelintir pihak yang merasa tidak suka atau memberikan kritik negatif.

Menanggapi fenomena ini, Wakil Sekretaris MUI Kabupaten Nunukan, Ustaz Anam Ashari dalam acara Mutiara Pagi RRI Nunukan Kamis, 13 Agustus 2026, memberikan pandangan menyejukkan sekaligus pengingat penting bagi umat Islam agar tidak mudah lelah atau patah semangat dalam berbuat kebaikan.

Menurut Ustaz Anam, ketidaksukaan orang lain terhadap kebaikan yang kita lakukan merupakan sebuah keniscayaan atau sunatullah yang tidak bisa dihindari sepenuhnya.

"Sebaik apapun yang kita lakukan, selurus apapun niat kita, dan sebesar apapun manfaat yang kita berikan kepada sesama, pasti akan selalu ada ruang bagi orang lain untuk tidak menyukainya. Bahkan, para nabi dan rasul yang jelas-jelas maksum (terjaga dari dosa) saja tetap memiliki penentang," ujar Ustaz Anam.

Ustaz Anam menjelaskan, manusia kerap terjebak pada keinginan yang tidak realistis, yakni ingin menyenangkan semua orang. Padahal, hal tersebut merupakan sesuatu yang mustahil dicapai.

Ia mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad SAW yang dikenal memiliki akhlak mulia, jujur (al-amin), dan penuh kasih sayang, tetap mendapatkan penolakan, fitnah, serta kebencian dari sebagian kaum Quraisy pada masanya.

  • Niat karena Allah: Ustaz Anam menekankan bahwa orientasi utama dalam beramal hendaknya ditujukan semata-mata mencari keridaan Allah SWT, bukan demi mendapatkan pujian atau pengakuan manusia.

  • Fokus pada Manfaat: Alih-alih memikirkan komentar negatif atau kebencian orang lain, energi seseorang sebaiknya dialirkan untuk terus produktif menebar kebaikan dan manfaat bagi lingkungan sekitar.

  • Sikap Pemaaf: Menghadapi orang yang tidak suka dengan sikap sabar, tenang, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan adalah kunci ketenangan hati.

Lebih lanjut, Ustaz Anam mengingatkan bahwa terlalu memikirkan prasangka atau ketidaksukaan orang lain justru akan melemahkan semangat beramal dan merusak kesehatan mental seseorang.

Ia berpesan kepada masyarakat, khususnya para pegiat sosial dan pendakwah, agar menjadikan kritik yang objektif sebagai bahan introspeksi diri, namun mengabaikan kebencian yang bersifat subjektif atau sirik.

Pesan ini diharapkan mampu memberikan penguatan moral bagi siapa saja yang sedang merasa lelah atau berkecil hati akibat kritik dan ketidaksukaan orang lain dalam menjalankan kebaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....