Meraih Ketakwaan dan Kepedulian Sosial Melalui Ibadah Kurban

  • 28 Mei 2026 10:29 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan: Umat Muslim di seluruh penjuru dunia kembali menyambut Hari Raya Idul Adha dengan penuh khidmat dan suka cita. Di balik rutinitas tahunan penyembelihan hewan ternak seperti sapi, kambing, dan unta, ibadah kurban menyimpan esensi spiritual yang mendalam. Kurban bukan sekadar ritual keagamaan simbolis, melainkan sebuah refleksi atas tingkat keimanan dan ketaatan seorang hamba terhadap perintah Sang Pencipta, sekaligus menjadi momen penting untuk mengikis sifat egoisme manusia.

Menurut Ustaz H. Anam Ashari, dalam acara Mutiara Pagi RRI Nunukan Kamis, 28 Mei 2026, Ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah refleksi kemanusiaan untuk mengikis egoisme dan mempererat tali persaudaraan.

"Hikmah terbesar dari kurban itu adalah 'taqorrub', mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara menyembelih ego dan sifat kebinatangan dalam diri kita. Selain itu, kurban mengajarkan kita kepekaan sosial. Mungkin bagi sebagian kita, makan daging adalah hal biasa. Namun bagi sebagian saudara kita yang kekurangan, momen Iduladha ini adalah saat yang paling mereka tunggu untuk bisa menikmati hidangan yang layak bersama keluarga." ujar Ustaz Anam Ashari.

"Sesungguhnya daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya."

Hikmah utama dari ibadah kurban berakar pada kilas balik sejarah ketaatan Nabi Ibrahim Alaihissalam dan keikhlasan mutlak putranya, Nabi Ismail Alaihissalam. Peristiwa agung tersebut mengajarkan umat manusia bahwa segala hal yang bersifat duniawi, termasuk harta dan keluarga, sejatinya adalah titipan yang tidak boleh melebihi kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Melalui ibadah ini, umat diajak untuk "menyembelih" sifat-sifat tercela dalam diri, seperti keserakahan, kesombongan, dan cinta dunia yang berlebihan, guna mencapai derajat ketakwaan yang sebenar-benarnya.

Ustaz Anam juga berpesan, esensi sejati dari ibadah kurban diharapkan tidak menguap seiring berakhirnya hari tasyrik, melainkan tetap membekas dalam perilaku sehari-hari. Semangat berbagi, peduli sesama, dan kerelaan berkorban demi kebaikan bersama harus terus dirawat dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, perayaan Iduladha mampu menjadi momentum transformasi diri dan sosial menuju masyarakat yang lebih religius, humanis, dan sejahtera.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....