Kenali Pentingnya "Refuel" Energi yang Tepat saat Berolahraga

  • 31 Jul 2026 00:28 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Sudah menjadi rahasia umum bahwa olahraga teratur merupakan kunci utama menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh secara menyeluruh. Kabar baiknya, hidup aktif tidak selalu menuntut latihan beban berat atau menghabiskan waktu berjam-jam di pusat kebugaran.

Aktivitas fisik yang sederhana dan menyenangkan—seperti berjalan kaki, bersepeda, jogging, berenang, hingga bermain olahraga favorit—sudah lebih dari cukup memberikan manfaat luar biasa jika dilakukan secara konsisten.

Namun, mengadopsi dan mempertahankan pola hidup aktif ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak orang memulai dengan semangat membara, tetapi perlahan konsistensinya luntur.

Penyebab utamanya sering kali bukan karena kurangnya kemauan, melainkan rasa lelah berlebih atau hilangnya tenaga di tengah-tengah sesi latihan. Tubuh yang kehabisan "bensin" akan membuat gerakan terasa makin berat, hingga akhirnya motivasi ikut runtuh.

Mengapa Tubuh Kehabisan Tenaga Saat Berolahraga?

Saat kita bergerak, otot membutuhkan bahan bakar berupa glukosa yang disimpan dalam tubuh sebagai glikogen. Makin tinggi intensitas atau makin lama durasi olahraga, makin cepat pula cadangan glikogen ini terkuras.

Ketika cadangan energi mulai habis dan tidak mendapat dukungan asupan yang sesuai, tubuh akan mengalami kondisi yang sering disebut sebagai hitting the wall—momen di mana Anda mendadak merasa lemas, pusing, hingga kehilangan fokus. Untuk menjaga performa dan daya tahan tubuh, di sinilah peran penting strategi refuel atau isi ulang energi.

Seni "Refuel": Kapan dan Bagaimana Mengisi Ulang Energi?

Strategi memanjakan tubuh dengan nutrisi yang tepat terbagi dalam tiga fase penting:

1. Pre-Workout (Sebelum Olahraga)

Jangan berolahraga dalam kondisi perut benar-benar kosong, terutama jika latihan berlangsung lebih dari 45 menit. Konsumsi karbohidrat kompleks ringan sekitar 30–60 menit sebelum mulai, seperti pisang, roti gandum, atau oatmeal. Ini berfungsi sebagai cadangan modal awal agar tubuh tidak cepat "drop".

2. Intra-Workout (Saat Olahraga Berlangsung)

Untuk olahraga berdurasi panjang (lebih dari 60 menit) seperti bersepeda jarak jauh, lari maraton, atau main futsal:

  • Cairan & Elektrolit: Minumlah air secara berkala setiap 15–20 menit tanpa menunggu haus. Jika berkeringat deras, minuman ber-elektrolit membantu mencegah kram.

  • Karbohidrat Cepat Cerna: Manfaatkan camilan praktis yang mudah diserap tubuh, seperti pisang, energy bar, atau energy gel untuk mengembalikan kadar gula darah secara instan.

3. Post-Workout (Setelah Olahraga)

Jendela waktu 30–60 menit setelah selesai berolahraga adalah masa emas untuk pemulihan (recovery). Kombinasikan karbohidrat untuk mengisi kembali simpanan glikogen dan protein untuk memperbaiki jaringan otot yang mengalami kerusakan mikro. Contoh menu simpel: susu cokelat, smoothie buah dengan yogurt, atau telur rebus dan roti.

Menjaga Konsistensi Tanpa Menyiksa Diri

Memiliki tubuh sehat dan bugar adalah sebuah maraton, bukan lari cepat (sprint). Mengenali sinyal tubuh dan memberikan dukungan nutrisi yang tepat pada waktunya akan membuat setiap sesi olahraga terasa lebih ringan dan menyenangkan.

(Sumber: yupiland.com)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....