Maulid Nabi dari Timur Tengah hingga Nunukan

  • 05 Sep 2025 07:41 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Maulid Nabi Muhammad SAW, yang diperingati setiap 12 Rabiul Awal, menjadi salah satu tradisi penting dalam kehidupan umat Islam. Peringatan ini bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga wujud cinta dan refleksi umat untuk meneladani akhlak mulia beliau.

Jejak Sejarah dari Mesir. Secara historis, tradisi Maulid diperkirakan berkembang pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-10 Masehi. Pemerintah saat itu mengadakan perayaan besar untuk memperkuat syiar Islam sekaligus mempererat hubungan sosial dengan masyarakat. Dari Mesir, peringatan Maulid kemudian meluas ke berbagai wilayah Islam, termasuk Timur Tengah, Afrika Utara, hingga Asia.

Maulid di Nusantara. Di Indonesia, peringatan Maulid diperkenalkan para wali songo sebagai bagian dari dakwah. Tradisi ini diolah dengan kearifan lokal sehingga lebih dekat dengan masyarakat. Dari sinilah lahir tradisi khas seperti Grebeg Maulid di Yogyakarta dan Surakarta, Muludan di Jawa Barat, hingga Panjang Jimat di Cirebon.

Hingga kini, Maulid tetap menjadi momentum spiritual sekaligus sosial. Umat Islam memperingatinya dengan memperbanyak sholawat, pengajian, serta berbagi sedekah. Pemerintah Indonesia bahkan menjadikannya hari libur nasional, menegaskan pentingnya Maulid bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tradisi Maulid di Kabupaten Nunukan. Di ujung utara Kalimantan, masyarakat Kabupaten Nunukan juga memiliki tradisi khas dalam merayakan Maulid Nabi. Perayaan tidak hanya berlangsung khidmat dengan doa dan pengajian, tetapi dipadukan dengan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Di Kecamatan Nunukan, Masjid Al-mubarokah Nunukan Jl. Tanjung RT.12 KNB dan Masjid Al-Muttaqin menjadi salah satu pusat perayaan. Jamaah melestarikan tradisi telur hias, yakni telur berwarna-warni yang ditata dalam bakul atau ember berisi lauk dan jajanan. Tradisi ini menjadi simbol berbagi kebahagiaan sekaligus perekat silaturahmi.

Peringatan Maulid juga digelar di masjid lain, seperti Al-Muqaddis dan Baitul Fattah, dengan tema meneladani akhlak Rasulullah, memperkuat empati, dan membangun persaudaraan. Masjid Agung Al-Mujahidin bahkan rutin menggelar tabligh akbar, menghadirkan ulama dari luar daerah, serta dihadiri tokoh masyarakat dan pemerintah.

Tahun lalu, pada 16 September 2024, Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan menggelar tabligh akbar di Masjid Agung Al-Mujahidin. Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid menegaskan, peringatan Maulid adalah wujud cinta, rasa kagum, sekaligus kebanggaan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Melalui Maulid Nabi ini, kita bisa memetik nilai-nilai keteladanan Rasulullah. Di tengah ambisi dan egoisme pribadi yang sering mendominasi, kita butuh sosok teladan. Dan itu ada dalam diri Rasulullah, sebagai uswatun hasanah, contoh terbaik bagi seluruh umat manusia,” ujarnya.

Meriah di Tapal Batas Sebatik. Sementara di Sebatik, perayaan Maulid berlangsung lebih sederhana namun sarat makna. Di Desa Bambangan, sekolah, tokoh adat, aparat keamanan, hingga warga perbatasan ikut serta dalam doa bersama dan tausiyah. Tema yang diangkat menekankan pesan damai Rasulullah, untuk memperkuat karakter generasi muda di wilayah tapal batas.

Maulid sebagai Perekat Sosial. Tradisi Maulid di Nunukan dan Sebatik menunjukkan bahwa peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga momentum sosial yang menyatukan masyarakat lintas kelompok. Di daerah perbatasan yang majemuk, Maulid menjadi perekat persaudaraan sekaligus meneguhkan semangat kebangsaan. MM

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....