Krayan: Ketika Jalan Menjadi Batas Sebuah Harapan

  • 31 Agt 2026 20:06 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan – Di balik pegunungan Kalimantan Utara, ada sebuah negeri kecil di ujung perbatasan Indonesia. Namanya Krayan. Negeri yang dianugerahi tanah subur, hutan luas, budaya yang kuat dan kekayaan alam luar biasa. Tetapi ada satu persoalan yang seakan terus membayangi setiap langkah masyarakatnya: akses.

Bagi masyarakat di wilayah perkotaan, jalan mungkin hanya dipandang sebagai sarana untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun di Krayan, jalan memiliki arti yang jauh lebih besar. Jalan adalah jalur masuk bahan kebutuhan pokok, jalur keluarnya hasil pertanian, akses menuju sekolah, layanan kesehatan, hingga penghubung antarkampung.

Ketika jalan rusak, kehidupan masyarakat ikut tersendat. Ketika jalan terputus, bukan hanya kendaraan yang berhenti. Distribusi barang terganggu, perjalanan menjadi lebih panjang, biaya meningkat dan aktivitas masyarakat ikut terdampak.

Pada Mei 2025, longsor di Jalan Lingkar Krayan ruas Long Padi menuju Long Rungan membuat akses terputus dan lima desa di Krayan Tengah terisolasi. Warga bahkan harus meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki meniti sisi tebing untuk melewati lokasi yang berbahaya.

Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan, situasi semacam itu bukan sekadar kabar tentang bencana. Itu adalah kenyataan yang harus mereka hadapi. Sebuah perjalanan yang seharusnya sederhana dapat berubah menjadi perjuangan panjang.

Kisah yang sama juga terjadi di Krayan Selatan. Pada 2025, kerusakan jalan provinsi diperparah dengan terganggunya akses udara akibat kerusakan landasan Bandara Long Layu. Kondisi tersebut membuat masyarakat menghadapi persoalan konektivitas dari dua arah sekaligus: darat dan udara.

Bahkan pada Juli 2026, longsor kembali menutup akses utama yang menghubungkan Krayan Barat dan Krayan Selatan. BNPB melaporkan sekitar 460 kepala keluarga atau 1.507 jiwa di 13 desa terdampak kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat akses yang terisolasi.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan akses di Krayan bukan cerita lama yang sudah selesai. Ia masih menjadi persoalan nyata yang muncul kembali ketika hujan deras, banjir dan longsor datang.

Di tengah situasi itu, sopir kendaraan pengangkut kebutuhan masyarakat menjadi salah satu kelompok yang berada di garis depan. Mereka harus berhadapan dengan lumpur, jalan berlubang, tanjakan, turunan dan medan yang dapat berubah sewaktu-waktu.

RRI juga pernah merekam kisah perjalanan pengangkut sembako di Krayan. Jalan berlumpur membuat perjalanan yang biasanya ditempuh berjam-jam berubah menjadi perjalanan panjang, bahkan memaksa pengemudi bermalam di perjalanan.

Bayangkan ketika sebuah kendaraan membawa beras, minyak goreng, BBM atau kebutuhan pokok lainnya. Setiap hambatan di jalan bukan hanya persoalan waktu. Ada biaya yang ikut bertambah di sepanjang perjalanan.

Pada akhirnya, biaya logistik tersebut dapat berpengaruh terhadap harga barang yang diterima masyarakat. Inilah salah satu wajah keterisolasian: jarak geografis berubah menjadi jarak ekonomi.

Ironisnya, Krayan bukanlah daerah yang miskin potensi. Di tanahnya tumbuh beras Adan. Masyarakat mengembangkan pertanian, peternakan dan berbagai produk lokal. Hutan menyimpan keanekaragaman hayati, sementara budaya masyarakat Lundayeh memiliki kekayaan sejarah yang panjang.

Namun potensi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak memiliki konektivitas. Hasil pertanian membutuhkan pasar. Wisatawan membutuhkan akses. Pelayanan publik membutuhkan transportasi. Dan masyarakat membutuhkan jalan yang aman untuk bergerak.

Karena itu, membangun jalan di Krayan bukan hanya membangun badan jalan. Yang dibangun sebenarnya adalah sebuah sistem kehidupan.

Jalan yang baik berarti hasil panen dapat bergerak lebih cepat. Anak-anak dapat bersekolah dengan lebih aman. Masyarakat lebih mudah mendapatkan layanan kesehatan. Barang kebutuhan dapat didistribusikan dengan lebih efisien.

Tetapi pembangunan juga harus memperhatikan karakter wilayah. Krayan berada di kawasan pegunungan dengan kondisi alam yang menantang. Jalan yang dibangun harus mampu menghadapi hujan, longsor, banjir dan karakter tanah setempat.

Sebab pembangunan konektivitas di perbatasan tidak boleh berhenti pada sekadar membuka jalan. Jalan harus dirancang agar mampu bertahan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Krayan tidak sedang meminta belas kasihan. Krayan sedang memperjuangkan hak yang sama untuk terhubung dengan wilayah Indonesia lainnya. Sebab masyarakat perbatasan adalah bagian dari Indonesia yang memiliki hak untuk menikmati pembangunan dan pelayanan publik.

Dan dari jalan berlumpur di pegunungan Krayan, kita belajar satu hal: keterisolasian bukan berarti tidak ada potensi. Justru karena potensinya begitu besar, akses menjadi semakin penting. Sebab ketika jalan terbuka, bukan hanya kendaraan yang bergerak. Ekonomi bergerak, pendidikan bergerak, pelayanan bergerak, dan harapan masyarakat pun ikut bergerak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....