Merah Putih di Perbatasan dari Masa ke Masa

  • 17 Agt 2025 12:17 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Sebuah kabupaten di ujung utara Kalimantan, meskipun terlihat hanya titik di peta, wilayah ini menjadi beranda terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia. Di sinilah, setiap peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu menghadirkan makna yang lebih dalam dibandingkan daerah lain. Bagi warga Nunukan, mengibarkan bendera Merah Putih adalah simbol nasionalisme dan penegasan identitas “Kami adalah Indonesia”.

Dari Lapangan Desa hingga Balai Peringatan. Sejak awal pemekaran Kabupaten Nunukan pada tahun 1999, perayaan 17 Agustus selalu menjadi agenda yang ditunggu. Kala itu, upacara dilaksanakan secara sederhana di lapangan-lapangan desa, bahkan sebagian hanya berupa pengibaran bendera di halaman sekolah. Namun kesederhanaan itu tak mengurangi khidmatnya peringatan.

Memasuki dekade 2000-an, pemerintah daerah mulai memberi perhatian khusus. Upacara bendera tingkat kabupaten digelar di Alun-Alun Kota Nunukan dengan melibatkan TNI, Polri, pelajar, hingga organisasi masyarakat. Momentum ini kian memperkuat rasa kebersamaan warga perbatasan.

Warna Nasionalisme di Batas Negeri yang unik dari perayaan di Nunukan adalah partisipasi warga lintas profesi dan lintas generasi. Nelayan, petani rumput laut, pekerja migran yang pulang dari Malaysia, hingga pelajar dan ASN, semuanya menyatu dalam semangat merah putih. Ribuan bendera dipasang di jalan-jalan utama, gang kecil, hingga dermaga perbatasan.

Tak jarang, warga juga mengibarkan bendera di perahu kayu mereka, seolah ingin menegaskan bahwa semangat kemerdekaan hadir hingga ke laut perbatasan. “Kami di sini mungkin jauh dari Jakarta, tapi hati kami tetap Indonesia,” ujar seorang warga Sebatik, Labaco dalam wawancara tahun 2019 lalu.

Tradisi yang Bertransformasi. Dari tahun ke tahun, perayaan HUT RI di Nunukan berkembang. Tidak hanya upacara bendera, tetapi juga diwarnai lomba rakyat, pawai budaya, hingga kirab Merah Putih melintasi wilayah perbatasan. Generasi muda dilibatkan sebagai pasukan pengibar bendera, sementara tokoh masyarakat diberi peran dalam rangkaian acara adat.

Pada momen tertentu, peringatan HUT RI juga menjadi ajang silaturahmi lintas negara. Ada kalanya warga Indonesia di Nunukan menyaksikan tetangga mereka dari seberang Malaysia yang juga ikut merasakan gegap gempita perayaan. Ini menjadi bukti bahwa semangat kemerdekaan melintasi sekat geografis.

Dari Tahun ke Tahun, Semangat Tak Pernah Padam. Peringatan HUT RI di Nunukan memang selalu menjadi momentum yang spesial. Pada 2021, warga Kampung Cerita di Nunukan Barat menggelar upacara sederhana di tepian Sungai Bilal, dipimpin pemangku adat setempat. Tahun 2023, kemeriahan berpindah ke PLBN Sei Nyamuk, Sebatik, dengan Wakil Kepala BPIP sebagai inspektur upacara. Setahun kemudian, 2024, Pulau Sebatik meriah dengan pembacaan teks Proklamasi oleh anggota DPRD, sementara Kabupaten Nunukan menerima duplikat Bendera Pusaka dari BPIP setelah lebih dari satu dekade.

Kini, di usia kemerdekaan ke-80, semaraknya perayaan di Nunukan menjadi penanda bahwa daerah perbatasan tak pernah absen menjaga Merah Putih. Dari kampung kecil hingga pusat kabupaten, dari tokoh adat hingga pejabat negara, semua berdiri tegak menyatukan suara, kemerdekaan adalah tentang kerja keras, persatuan, dan masa depan bangsa.

HUT ke-80, Puncak Refleksi di Tanah Perbatasan. Nunukan pun seakan ingin mengingatkan, kemerdekaan bukan hanya dirayakan di pusat-pusat kota besar. Justru di perbatasan lah, semangat itu terasa paling nyata.

Upacara peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Nunukan berlangsung khidmat, Minggu (17/8/2025). Ribuan warga tumpah ruah di halaman Kantor Bupati, menyaksikan pengibaran bendera Merah Putih yang dipimpin langsung oleh Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri.

Dalam sambutannya, Bupati Irwan menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh dimaknai sebatas seremoni tahunan. Lebih dari itu, kemerdekaan harus ditafsirkan sebagai kerja nyata untuk membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

“Harapan saya ke depan, Kabupaten Nunukan di usia ke-27 tahun ini bisa sejahtera masyarakatnya dari sektor pendidikannya, kualitas pendidikannya, sumber daya manusianya, semuanya semakin membaik,” ujar Irwan Sabri.

Ia juga memberikan pesan khusus kepada generasi muda agar terus bersemangat mewujudkan cita-cita. “Untuk para pemuda saya ingatkan, teruslah belajar, teruslah mengejar cita-citamu, teruslah tetap semangat, sehingga apa yang menjadi keinginan, apa yang menjadi cita-cita ke depan terwujud,” tambahnya. MM

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....