Bangkit dari Tekanan Keuangan, RSUD Nunukan Pulihkan Layanan dan Kepercayaan

  • 06 Mar 2026 15:40 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan – Pagi itu suasana di ruang pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan tampak lebih ramai dari biasanya. Pasien datang silih berganti, sebagian menunggu giliran pemeriksaan, sebagian lainnya mengurus administrasi rawat jalan. Aktivitas yang padat ini menjadi pemandangan yang kini semakin sering terlihat di rumah sakit rujukan utama di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia tersebut.

Namun beberapa waktu lalu, kondisi RSUD Nunukan tidak seoptimistis hari ini. Di balik aktivitas pelayanan yang berjalan normal, rumah sakit ini pernah berada dalam tekanan finansial yang cukup berat. Tunggakan pembayaran kepada pihak ketiga, terutama vendor penyedia obat-obatan, sempat menumpuk hingga mencapai Rp26 miliar.

Kondisi itu bukan terjadi secara tiba-tiba. Dalam kurun waktu beberapa tahun, pendapatan rumah sakit melalui skema Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) tidak mampu mengimbangi kebutuhan operasional yang terus meningkat. Akibatnya, kewajiban kepada vendor pun perlahan menumpuk.

Situasi tersebut bahkan sempat memicu kekhawatiran akan keberlangsungan pelayanan rumah sakit daerah yang menjadi tumpuan masyarakat Nunukan dan wilayah sekitarnya.

Memulai Perubahan dari Situasi Sulit

Perubahan mulai terlihat, dr. Andi Bau Tune Mangkau, Sp.B., dipercaya menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Nunukan pada Mei 2025. Saat pertama kali memimpin, Andi Bau menghadapi realitas yang tidak mudah. Pendapatan rumah sakit hanya berada di kisaran Rp4 miliar per bulan, sementara target ideal yang dibutuhkan untuk menopang operasional mencapai Rp6 miliar.

Kesenjangan tersebut membuat kemampuan rumah sakit dalam memenuhi kewajiban kepada pihak ketiga menjadi sangat terbatas.

“Ketika saya mulai menjabat, kondisi keuangan rumah sakit memang cukup memprihatinkan. Pendapatan tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus ditanggung,” ujarnya, pada Jumat (6/3/2026).

Namun situasi itu tidak membuat manajemen rumah sakit menyerah. Sebaliknya, berbagai langkah pembenahan mulai dilakukan secara bertahap, mulai dari peningkatan kualitas pelayanan hingga optimalisasi pengelolaan keuangan BLUD.

Pelunasan Hutang Mulai Dikejar

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Memasuki awal tahun 2026, manajemen RSUD Nunukan berhasil melakukan pembayaran kewajiban kepada vendor sebesar Rp9 miliar. Dengan demikian, sisa hutang yang masih harus diselesaikan kini berada di angka sekitar Rp16,9 miliar.

Meski masih cukup besar, capaian tersebut menjadi langkah penting dalam proses pemulihan keuangan rumah sakit.

Manajemen RSUD Nunukan menargetkan seluruh kewajiban tersebut dapat dilunasi paling lambat pada akhir tahun 2026.

Seiring dengan pembayaran yang berjalan, hubungan dengan vendor penyedia obat-obatan juga mulai kembali membaik.

“Sekarang suplai obat sudah kembali berjalan normal karena kepercayaan vendor mulai pulih. Pembayaran juga sudah dilakukan secara reguler untuk pengadaan di tahun berjalan,” ucapnya dengan nada optimis.

Ketika Kepercayaan Pasien Kembali

Perbaikan keuangan RSUD Nunukan ternyata berjalan beriringan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit.

Hal ini terlihat dari tren kunjungan pasien yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Pada awal tahun 2025, jumlah pasien yang datang berobat ke RSUD Nunukan berkisar 4.000 hingga 4.500 orang per bulan. Kini, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 5.000 hingga 6.000 pasien setiap bulan.

Menurut dr. Andi Bau, peningkatan jumlah pasien ini bukan semata-mata karena meningkatnya angka masyarakat yang sakit. Lebih dari itu, banyak warga yang sebelumnya memilih berobat ke luar daerah kini mulai kembali mempercayakan layanan kesehatan mereka di RSUD Nunukan.

“Ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit terus meningkat. Banyak warga yang dulu berobat ke luar daerah sekarang memilih tetap di Nunukan karena layanan di sini semakin baik,” katanya.

Bagi rumah sakit daerah di wilayah perbatasan, kepercayaan masyarakat merupakan modal yang sangat penting. Tanpa kepercayaan tersebut, peningkatan pelayanan kesehatan akan sulit tercapai.

Pembenahan Fasilitas dan Layanan

Selain memperbaiki manajemen keuangan, RSUD Nunukan juga melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan medis.

Beberapa langkah strategis telah dijalankan dalam program jangka pendek, di antaranya rehabilitasi Gedung Anggrek dan Bougenville, serta pengoperasian kembali Gedung Mawar yang selesai direhabilitasi pada tahun 2025.

Rumah sakit juga menambah layanan cathlab guna memperkuat pelayanan penyakit jantung, serta membangun gedung Cytotoxic untuk menunjang pelayanan medis yang lebih lengkap.

Upaya peningkatan kualitas pelayanan juga diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia tenaga medis.

Dalam program jangka menengah, RSUD Nunukan berencana mengembangkan ruang perawatan paviliun serta meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, termasuk pengembangan dokter umum dan dokter gigi menjadi dokter spesialis, hingga peningkatan dokter spesialis menjadi subspesialis.

Keterbatasan SDM Masih Menjadi Tantangan

Di tengah berbagai upaya pembenahan tersebut, RSUD Nunukan masih menghadapi tantangan dalam hal ketersediaan tenaga kesehatan.

Saat ini rumah sakit memiliki 681 karyawan, yang terdiri dari 196 Aparatur Sipil Negara (ASN), 49 PPPK, 294 PPPK paruh waktu, serta 142 tenaga non-ASN.

Padahal secara ideal, rumah sakit ini membutuhkan sekitar 830 tenaga kerja, sehingga masih terdapat kekurangan sekitar 149 orang.

Meski demikian, manajemen RSUD Nunukan berupaya memaksimalkan tenaga medis yang tersedia agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal.

“Core business rumah sakit adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terutama pelayanan kuratif dan rehabilitatif, tanpa mengabaikan upaya promotif dan preventif,” kata Andi Bau.

Menata Masa Depan Rumah Sakit Perbatasan

Proses pemulihan RSUD Nunukan memang belum sepenuhnya selesai. Sisa hutang masih harus dituntaskan, dan berbagai program peningkatan layanan masih terus berjalan.

Namun dalam waktu kurang dari satu tahun, perubahan mulai terlihat.

Pendapatan rumah sakit meningkat, hutang mulai terbayar, suplai obat kembali stabil, dan yang paling penting, kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan RSUD Nunukan perlahan kembali pulih.

Rekomendasi Berita