Napas Terakhir Paru-Paru Dunia: Dampak Karhutla terhadap Krisis Iklim Global

  • 30 Agt 2026 05:09 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Langit yang mendadak berubah warna merah dan kepulan asap pekat yang menyelimuti wilayah sekitar bukan lagi sekadar pemandangan mengerikan di layar televisi. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menjadi kenyataan pahit yang saban tahun terus berulang. Namun, masalahnya tidak berhenti saat titik api berhasil dipadamkan atau ketika asap mulai terangkat dari pemukiman warga. Dampak paling mematikan dari karhutla justru bekerja secara senyap: mempercepat laju krisis iklim global.

Selama ini kita mengenal hutan tropis seperti bentangan luas hutan Kalimantan, Sumatra, hingga Amazon sebagai "paru-paru dunia". Kalimantan, dengan kekayaan keanekaragaman hayati dan hamparan gambutnya yang sangat dalam, menjadi benteng utama pelindung iklim bumi. Hutan-hutan ini bekerja siang dan malam menyerap karbondioksida (CO₂) dari atmosfer dan menggantinya dengan oksigen yang kita hirup. Celakanya, ketika kebakaran hebat melahap hutan Kalimantan dan kawasan tropis lainnya, fungsi krusial itu berbalik 180 derajat. Pohon-pohon dan lahan yang bertindak sebagai penyimpan karbon justru melepaskan miliaran ton gas rumah kaca ke udara dalam kurun waktu yang amat singkat.

Dampaknya ibarat lingkaran setan yang terus membesar:

  • Pelepasan Karbon Raksasa dari Gambut Kalimantan: Kebakaran di lahan gambut seperti yang banyak ditemukan di Kalimantan jauh lebih berbahaya. Gambut yang terbakar bisa menyimpan api di bawah permukaan tanah, melepaskan cadangan karbon raksasa yang telah tersimpan selama ribuan tahun langsung ke atmosfer.

  • Efek Rumah Kaca yang Kian Parah: Tingginya konsentrasi karbon di atmosfer mempertebal lapisan yang memerangkap panas bumi. Akibatnya, suhu global kian melonjak.

  • Meningkatnya Risiko Cuaca Ekstrem: Suhu bumi yang makin panas memicu gelombang panas (heatwave) dan kekeringan panjang. Kondisi ini membuat vegetasi hutan menjadi sangat kering dan makin mudah terbakar di masa depan.

Saat paru-paru dunia seperti hutan Kalimantan terus tergerus dan menyemburkan emisi bukannya menyerapnya, daya tahan planet kita makin menipis. Karhutla bukan lagi sekadar bencana daerah atau isu lokal, melainkan ancaman langsung bagi keberlangsungan hidup global.

Memadamkan api di lapangan memang penting, tetapi memutus rantai penyebabnya jauh lebih mendesak. Tanpa komitmen tegas untuk menjaga hutan Kalimantan, menghentikan pembukaan lahan secara ugal-ugalan, dan merestorasi ekosistem gambut, kita sebenarnya sedang membiarkan bumi menghirup napas-napas terakhirnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....