Kisah Pilu Sapi Laut Steller: Raksasa Lembut yang Lenyap dalam Kedipan Mata

  • 31 Mei 2026 14:39 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Samudra Pasifik Utara pernah menjadi rumah bagi salah satu mamalia laut paling menakjubkan yang pernah dikenal manusia, yaitu sapi laut Steller (Hydrodamalis gigas). Menyerupai kerabat modernnya seperti manatee dan dugong, satwa ini memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih masif, dengan panjang mencapai sembilan meter dan bobot hingga sepuluh ton. Namun, nasib tragis menimpa raksasa lembut ini. Hanya dalam kurun waktu 27 tahun sejak pertama kali diidentifikasi oleh dunia sains barat pada tahun 1741, seluruh populasi sapi laut Steller habis tak tersisa, menjadikannya salah satu studi kasus kepunahan paling cepat dan memilukan akibat ulah manusia.

Penemuan awal spesies ini terjadi ketika sebuah ekspedisi Rusia yang dipimpin oleh Vitus Bering terdampar di Kepulauan Commander yang terisolasi. Di sana, seorang naturalis bernama Georg Wilhelm Steller menjadi satu-satunya ilmuwan yang sempat mengamati, mengukur, dan mencatat perilaku satwa raksasa ini dalam keadaan hidup. Steller menggambarkan mereka sebagai makhluk sosial yang sangat damai, hidup berkelompok di perairan dangkal yang dingin, dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengunyah kelp (ganggang laut raksasa). Karena tubuhnya yang terlalu besar dan lapisan lemaknya yang tebal, sapi laut ini tidak dapat menyelam sepenuhnya ke dalam air, sehingga punggung mereka sering kali terlihat menyembul di permukaan laut layaknya perahu terbalik.

Keunikan fisik sapi laut Steller adalah bentuk adaptasi sempurna sekaligus kelemahan fatal mereka di hadapan predator. Makhluk ini tidak memiliki gigi sejati; sebagai gantinya, mereka menggunakan dua lempengan tanduk putih yang keras di dalam mulut untuk menyobek dan melumatkan tanaman laut. Kulit mereka sangat tebal, kasar, dan berkerut seperti kulit batang pohon tua, yang berfungsi sebagai pelindung dari hantaman es dan batu karang di perairan sub-arktik. Sayangnya, sifat mereka yang lambat, tidak bisa menghindar dengan cepat, serta tidak memiliki rasa takut alami terhadap manusia, membuat mereka menjadi sasaran empuh yang sangat mudah bagi para pemburu.

Kepunahan kilat Hydrodamalis gigas dipicu oleh keserakahan manusia yang mengeksploitasi wilayah Pasifik Utara demi perdagangan bulu binatang. Para pelaut, pemburu berang-berang laut, dan pedagang menganggap sapi laut Steller sebagai sumber logistik yang sempurna. Dagingnya yang melimpah dan lezat mirip daging sapi, dikombinasikan dengan lemaknya yang tebal sebagai bahan minyak lampu yang tidak berbau, membuat mereka diburu secara besar-besaran tanpa kendali. Terlebih lagi, sifat sosial mereka yang tinggi—di mana anggota kelompok akan berkerumun mencoba menolong rekannya yang terluka—justru dimanfaatkan oleh para pemburu untuk membantai mereka dalam jumlah yang lebih banyak sekaligus.

Pada tahun 1768, kurang dari tiga dekade setelah catatan pertama Steller ditulis, kapal pemburu terakhir melaporkan telah membunuh sapi laut Steller yang tersisa di muka bumi. Hilangnya raksasa Pasifik ini meninggalkan lubang besar pada ekosistem laut, karena hilangnya kelp-feeder (pemakan ganggang) utama memicu ketidakseimbangan ekologis yang masif di perairan tersebut. Kisah pilu sapi laut Steller kini abadi sebagai pengingat sejarah yang kelam bahwa tanpa adanya regulasi dan kesadaran konservasi, sebuah spesies raksasa yang telah berevolusi selama jutaan tahun bisa musnah sepenuhnya dalam kedipan mata akibat keserakahan manusia. animaldiversity.org

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....