DPRD Nunukan Libatkan Anak Muda Tangkal Ancaman Ideologi di Wilayah Perbatasan
- 08 Agt 2026 16:11 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan – Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Nunukan, Arpiah, menegaskan bahwa ancaman terhadap ideologi bangsa di wilayah perbatasan bukan lagi sekadar teori.
Pengalaman mengikuti Retret Kebangsaan yang digelar pemerintah pusat justru membuatnya semakin yakin bahwa daerah perbatasan seperti Nunukan menjadi salah satu wilayah yang harus diperkuat ketahanan ideologi dan persatuannya.
Pernyataan itu disampaikan Arpiah saat menghadiri rapat koordinasi pembahasan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) bersama pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, dan tokoh etnis menyikapi polemik dugaan penghinaan terhadap suku yang sempat menjadi perhatian public.
"Baru hari pertama saya kembali beraktivitas setelah mengikuti retret kebangsaan. Selama sepekan kami mendapatkan pembekalan dari para petinggi negara mengenai berbagai ancaman terhadap bangsa. Ternyata, ketika saya kembali ke Nunukan, saya melihat ancaman itu nyata terjadi di daerah perbatasan," ujar Arpiah, pada Sabtu (8/8/2026)
Menurut Arpiah, dalam materi retret dijelaskan berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, mulai dari ketahanan ideologi, geografi, hingga demografi. Seluruh aspek tersebut, kata dia, sangat relevan dengan kondisi Kabupaten Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
"Semua tantangan itu lengkap ada di daerah perbatasan. Karena itu, kita harus benar-benar menjaganya agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar," ucapnya.
Ia mengapresiasi langkah cepat Polres Nunukan bersama pemerintah daerah dan para tokoh masyarakat yang segera meredam situasi sehingga polemik yang muncul tidak berkembang menjadi konflik horizontal.
Namun Arpiah mengingatkan, penyelesaian persoalan tidak cukup hanya dilakukan ketika konflik muncul. Menurutnya, perlu dibangun ruang dialog yang berkelanjutan melalui forum lintas suku, lintas agama, serta melibatkan generasi muda.
Ia mengusulkan agar pemerintah secara berkala mempertemukan para tokoh adat, tokoh agama, organisasi kepemudaan, hingga pelajar dari berbagai latar belakang etnis.
"Jangan hanya orang tua yang dikumpulkan. Anak-anak muda juga harus dilibatkan. Mereka harus saling mengenal, berdiskusi, makan bersama, dan membangun persahabatan. Dari situ rasa saling menghargai akan tumbuh," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....