MBG Utamakan Nilai Gizi Bukan Rasa dan Kenyang
- 09 Des 2025 13:57 WIB
- Nunukan
KBRN, Nunukan: Pengelola Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) Bukit Arung Sejahtra (BAS) Nunukan, Sumari mengatakan bahwa penyediaan Makanan Bergizi Seimbang (MBG) bagi anak sekolah tidak mengutamakan rasa ataupun porsi kenyang, melainkan kualitas gizi yang sesuai ketentuan ahli gizi serta regulasi pemerintah. Hal itu disampaikan terkait persiapan operasional Bukit Arung Indah yang ditargetkan mulai berjalan resmi pada pertengahan Desember 2025.
Menurut Sumari, penggunaan bahan penyedap seperti ajinomoto, vetsin dan masako memiliki aturan khusus sehingga tidak bisa digunakan seenaknya, apalagi hingga menyamai cita rasa restoran. “MBG ini yang diutamakan bukan enaknya dan kenyangnya, tetapi gizinya. Kalau kita buat rasa seperti restoran itu tidak bisa karena penggunaan bahan penyedap itu ada aturan. Kita sesuaikan dengan mekanisme dan ketentuan dari ahli gizi,” jelasnya. Selasa (9/12/2025)
Baca Juga: Pembekalan Higienitas 49 Relawan SPPG Bukit Arung Indah
Ia menuturkan bahwa setiap menu MBG disusun bersama ahli gizi untuk memastikan kecukupan karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur dan buah. Takaran penyedap, minyak, dan garam juga dibatasi agar tetap ramah untuk dikonsumsi anak usia dini hingga usia sekolah.
Sumari menjelaskan bahwa porsi MBG untuk anak PAUD, TK, B3 dan balita dibuat berbeda sesuai kebutuhan tumbuh kembang masing-masing kelompok usia. Proses memasak pun dilakukan lebih awal, begitu pula pendistribusiannya. Setelah makanan dimasukkan ke dalam ompre (wadah distribusi), waktu pengantaran hingga siap saji tidak boleh melebihi ketentuan agar makanan tetap aman dikonsumsi.
“Setelah masuk ompre, makanan itu paling lama harus sudah dikonsumsi dalam empat jam. Kalau lewat empat jam bisa terkontaminasi dan berisiko menyebabkan keracunan,” jelasnya.
Baca Juga: Wakil Bupati Nunukan Targetkan Tahun Depan Stunting Menurun
Namun Sumari mengakui masih ada tantangan dalam mekanisme konsumsi di sekolah. Ia menyebut ada anak yang tidak makan di sekolah dan memilih membawa pulang makanan MBG. Kondisi ini membuat SPPG tidak dapat memantau kapan makanan itu dikonsumsi. Beberapa anak bahkan sengaja membawanya pulang untuk dibagi kepada adik atau kakaknya di rumah.
“Maka dari itu kami berharap kepada kepala sekolah penerima MBG untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa makanan MBG tidak boleh dikonsumsi lebih dari empat jam,” ujarnya.
SPPG Bukit Arung Sejahtra sebelumnya telah memastikan bahwa fasilitas dapur, SOP produksi serta distribusi menu telah memenuhi standar higienitas dan keamanan pangan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas gizi anak sekolah di Kabupaten Nunukan secara berkelanjutan. MM
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....