Mengenal Oerip Sumohardjo, Sang Arsitek Awal Tentara Indonesia
- 16 Agt 2026 12:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sejarah berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak dapat dipisahkan dari sosok Jenderal Oerip Sumohardjo. Di tengah situasi Republik Indonesia yang masih sangat muda, Oerip menjadi salah satu tokoh penting bagi negara.
- Pemerintah, kemudian membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945. Dalam perjalanan sejarahnya, TKR mengalami beberapa perubahan nama sebelum akhirnya menjadi TNI.
- Ada bekas anggota tentara bentukan pemerintah Hindia Belanda dan Jepang. Serta, berbagai kelompok pemuda dan laskar yang tumbuh di daerah-daerah setelah kemerdekaan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sejarah berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak dapat dipisahkan dari sosok Jenderal Oerip Sumohardjo. Di tengah situasi Republik Indonesia yang masih sangat muda, Oerip menjadi salah satu tokoh penting bagi negara.
Oerip meletakkan dasar organisasi militer nasional dan berupaya membangun tentara yang teratur, disiplin, serta memiliki satu garis komando. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, kebutuhan membentuk kekuatan pertahanan nasional menjadi semakin mendesak.
Pemerintah, kemudian membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945. Dalam perjalanan sejarahnya, TKR mengalami beberapa perubahan nama sebelum akhirnya menjadi TNI.
Dalam proses pembentukan TKR tersebut, Oerip Sumohardjo dipercaya menduduki posisi penting sebagai Kepala Staf Umum. Tugasnya bukan sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi juga membantu membangun struktur organisasi militer Republik Indonesia.
Mengingat, pada saat itu Indonesia masih menghadapi persoalan koordinasi dan keberagaman kekuatan bersenjata. Saat itu, kekuatan bersenjata TKR berasal dari berbagai latar belakang.
Ada bekas anggota tentara bentukan pemerintah Hindia Belanda dan Jepang. Serta, berbagai kelompok pemuda dan laskar yang tumbuh di daerah-daerah setelah kemerdekaan.
Situasi tersebut, membuat pembentukan satu angkatan bersenjata nasional menjadi pekerjaan yang tidak sederhana. Dibutuhkan struktur komando, disiplin, pembagian tugas, dan organisasi yang mampu mengubah berbagai kekuatan bersenjata menjadi bagian dari pertahanan Republik.
Di sinilah, peran Oerip menjadi sangat penting. Ia dikenal memiliki pengalaman militer dan kemampuan organisasi yang kemudian digunakan untuk membangun fondasi tentara nasional yang lebih terstruktur.
Oerip tidak hanya memikirkan bagaimana tentara mampu menghadapi musuh di medan perang. Ia juga menaruh perhatian, pada pentingnya organisasi militer yang memiliki aturan, hierarki komando, serta profesionalisme.
Perjalanan Oerip kemudian mencapai salah satu momen penting pada November 1945. Dalam proses pemilihan pimpinan tertinggi TKR, Kolonel Soedirman terpilih sebagai Panglima Besar, sementara Oerip sebagai Kepala Staf Umum.
Terpilihnya Soedirman menjadi Panglima Besar menempatkan Oerip pada posisi yang sangat strategis di dalam organisasi militer Republik. Sebagai Kepala Staf, ia berperan dalam urusan organisasi dan membantu memastikan struktur komando serta administrasi militer dapat berjalan lancar.
Hubungan antara Soedirman dan Oerip kemudian menjadi salah satu duet penting dalam sejarah awal TNI. Soedirman dikenal sebagai pemimpin yang kuat di medan perjuangan.
Sementara, Oerip memiliki pengalaman serta kemampuan organisasi militer yang sangat dibutuhkan oleh tentara Republik. Keduanya menghadapi tantangan besar karena Republik Indonesia masih harus mempertahankan kemerdekaan dari ancaman militer Belanda.
Dalam situasi tersebut, pembangunan organisasi tentara bukan hanya persoalan militer. Tetapi juga, bagian dari upaya mempertahankan eksistensi negara yang baru saja merdeka.
Oerip Sumohardjo wafat pada 17 November 1948. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi Republik yang ketika itu masih berada dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Atas jasa dan perjuangannya, Oerip kemudian dianugerahi gelar Jenderal TNI Anumerta. Namanya juga dikenang sebagai salah satu tokoh utama yang berjasa dalam pembentukan organisasi dan profesionalisme tentara Indonesia pada masa awal Republik.
Warisan Oerip tidak hanya terletak pada pangkat maupun jabatan yang pernah diembannya. Nilai terpenting yang ditinggalkannya adalah pentingnya disiplin, organisasi, loyalitas kepada negara.
Kisah Oerip juga memberikan pelajaran bahwa membangun kekuatan pertahanan nasional membutuhkan institusi yang kuat dan profesional. Tentara yang terorganisasi menjadi salah satu instrumen penting negara dalam menjaga kedaulatan dan melindungi masyarakat.
Jenderal Oerip Sumohardjo akhirnya dikenang sebagai salah satu peletak fondasi organisasi militer Indonesia. Perjuangannya menunjukkan, mempertahankan kemerdekaan membutuhkan keberanian di medan perjuangan sekaligus kemampuan membangun institusi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Sumber:
• Arsip dan publikasi sejarah TNI
• Kementerian Pertahanan Republik Indonesia,
• Sumber sejarah mengenai pembentukan TKR dan perjuangan Oerip Sumohardjo
• KPU Papua Pegunungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....