Gempa Flores Dangkal Picu Guncangan Kuat
- 16 Agt 2026 03:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG terus memantau gempa susulan untuk mendukung penanganan dan pemulihan wilayah terdampak.
- Gempa Nusa Tenggara Timur merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores.
- Guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di Aesesa, Riung, dan Kota Ambai.
RRI.CO.ID, Jakarta - Gempa bumi Nusa Tenggara Timur merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores. Struktur Flores Back Arc Thrust memiliki rekam jejak gempa merusak panjang, termasuk gempa berkekuatan magnitudo 7,8 pada 1992.
Gempa tersebut terjadi pada kedalaman 28 kilometer dan menjadi salah satu catatan gempa merusak dari struktur tersebut. Faisal menyampaikan penjelasan itu di Jakarta pada Sabtu, 15 Agustus 2026, mengenai karakteristik gempa NTT.
"Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal. Sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara," kata Faisal, Jakarta, Sabtu 15 Agustus 2026.
Perbedaan kedalaman sumber gempa kali ini memengaruhi dampak guncangan dan kerusakan fisik di wilayah terdampak. Gempa yang lebih dangkal dapat menghasilkan guncangan lebih kuat pada permukaan dibandingkan gempa berkedalaman lebih besar.
Berdasarkan peta intensitas, BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di Aesesa, Riung, dan Kota Ambai. Lokasi tersebut berada di Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ngada, serta Kota Ambai yang mengalami guncangan terbesar.
Hasil observasi langsung mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng juga menunjukkan intensitas guncangan yang tinggi. Skala VI MMI terukur di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, serta Kota Bajawa pada wilayah terdampak gempa.
Sementara itu, skala V MMI dirasakan di sejumlah wilayah yang berada di sekitar pusat gempa. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemetaan intensitas guncangan yang dilakukan BMKG setelah gempa terjadi.
BMKG terus memantau aktivitas kegempaan di NTT, termasuk gempa susulan setelah gempa utama terjadi. Pemantauan dilakukan untuk memperoleh gambaran perkembangan aktivitas seismik dan mendukung penanganan serta pemulihan wilayah terdampak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....