BMKG Perkirakan Stabilisasi Sesar Gempa NTT Butuh Waktu 2-3 Minggu
- 16 Agt 2026 03:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG memperkirakan proses stabilisasi sesar pascagempa kuat di Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu.
- Selama periode tersebut, aktivitas gempa susulan masih berpotensi terjadi dan terus dipantau secara real time.
- BMKG menyebut, sesar membutuhkan waktu untuk kembali menuju kondisi stabil setelah mengalami pelepasan energi akibat gempa utama.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan proses stabilisasi sesar pascagempa kuat di Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu. Selama periode tersebut, aktivitas gempa susulan masih berpotensi terjadi dan terus dipantau secara real time.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan aktivitas kegempaan di wilayah NTT masih terus dipantau. Menurutnya, sesar membutuhkan waktu untuk kembali menuju kondisi stabil setelah mengalami pelepasan energi akibat gempa utama.
"BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu. Ini sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya," kata Faisal di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu 15 Agustus 2026 malam.
Faisal menjelaskan, pemantauan secara real time dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas seismik setelah gempa utama. Data dari jaringan pemantauan BMKG terus dianalisis untuk mengidentifikasi pola gempa susulan sekaligus mendeteksi perubahan aktivitas kegempaan.
Sebelumnya, BMKG memutakhirkan parameter gempa tektonik dangkal di NTT menjadi magnitudo (M) 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian tersebut dengan cepat.
Peringatan dini tsunami dikeluarkan hanya 2 menit 16 detik setelah gempa utama terjadi. Peringatan dini tsunami kemudian diperbarui sekitar 10 menit setelahnya setelah parameter gempa dinilai lebih stabil dan presisi.
Guncangan gempa tersebut juga memicu gelombang tsunami yang sempat menerjang sejumlah kawasan pesisir. BMKG menjalankan sistem running model multi-skenario dengan membagi status ancaman tsunami menjadi kategori Siaga dan Waspada.
Status Siaga menunjukkan potensi tsunami dengan ketinggian 0,5 hingga 3 meter. Sementara status Waspada menunjukkan potensi ketinggian gelombang tsunami di bawah 0,5 meter.
Berdasarkan jaringan observasi muka air laut, gelombang tsunami tercatat tiba di Reo, Manggarai, dan Manggarai Timur. Ketinggian puncak gelombang di wilayah tersebut mencapai 1,61 meter.
Gelombang tsunami dengan ketinggian 0,94 meter juga tercatat di Maurole, Ende. Sementara gelombang yang melampaui 0,5 meter terpantau di Bulukumba dan Sape, Bima.
BMKG kemudian mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB. Keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka laut telah kembali aman.
Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap mengikuti informasi resmi dan perkembangan aktivitas gempa melalui kanal komunikasi BMKG. Pemantauan terhadap aktivitas sesar dan gempa susulan akan terus dilakukan hingga aktivitas kegempaan di wilayah NTT berangsur stabil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....