BMKG Masih Pantau Aktivitas Sesar Gempa NTT Secara 'Real Time'
- 16 Agt 2026 00:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG masih memantau aktivitas sesar di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara real time setelah gempa bumi kuat mengguncang wilayah tersebut.
- Hingga Sabtu 15 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB siang, BMKG mencatat sebanyak 235 gempa bumi susulan atau aftershocks.
- Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan proses stabilisasi sesar membutuhkan waktu sebelum aktivitas seismik kembali ke kondisi normal.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih memantau aktivitas sesar di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara real time setelah gempa bumi kuat mengguncang wilayah tersebut. Hingga Sabtu 15 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB siang, BMKG mencatat sebanyak 235 gempa bumi susulan atau aftershocks.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan aktivitas kegempaan di wilayah tersebut masih terus dipantau. Menurutnya, proses stabilisasi sesar membutuhkan waktu sebelum aktivitas seismik kembali ke kondisi normal.
"BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu. Ini sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya," kata Faisal di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu 15 Agustus 2026, malam.
Faisal menjelaskan, pemantauan secara real time dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas seismik pascagempa utama. Data dari jaringan pemantauan BMKG terus dianalisis untuk mengidentifikasi pola gempa susulan dan potensi perubahan aktivitas kegempaan.
Sebelumnya, BMKG memutakhirkan parameter gempa tektonik dangkal di NTT menjadi magnitudo (M) 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian tersebut dengan cepat.
Peringatan dini tsunami dikeluarkan hanya 2 menit 16 detik setelah gempa utama terjadi. Peringatan dini tsunami kemudian diperbarui sekitar 10 menit setelahnya, setelah parameter gempa dinilai lebih stabil dan presisi.
Guncangan gempa tersebut sempat memicu gelombang tsunami yang menerjang sejumlah kawasan pesisir. BMKG menjalankan sistem running model multi-skenario dengan membagi status ancaman tsunami menjadi kategori Siaga dan Waspada.
Status Siaga menunjukkan potensi tsunami dengan ketinggian 0,5 hingga 3 meter. Sementara itu, status Waspada menunjukkan potensi ketinggian gelombang tsunami di bawah 0,5 meter.
Berdasarkan jaringan observasi muka air laut, gelombang tsunami tercatat tiba di Reo, Manggarai, dan Manggarai Timur. Ketinggian puncak gelombang di wilayah tersebut mencapai 1,61 meter.
Gelombang tsunami dengan ketinggian 0,94 meter juga tercatat di Maurole, Ende. Sementara gelombang yang melampaui 0,5 meter terpantau di Bulukumba dan Sape, Bima.
BMKG kemudian mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB. Keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka laut telah kembali aman.
Meski peringatan tsunami telah berakhir, BMKG tetap mengingatkan masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dan perkembangan aktivitas gempa melalui kanal BMKG. Pemantauan aktivitas sesar dan gempa susulan akan terus dilakukan hingga kondisi kegempaan berangsur stabil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....