Soal Aktivitas Gempa Susulan Flores, Begini Penjelasan BMKG
- 15 Agt 2026 17:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG mencatat 235 gempa susulan hingga pukul 14.00 WIB dengan magnitudo M2,5 hingga M6,2 di utara Flores.
- Peluruhan gempa diperkirakan berlangsung 2–3 minggu, sementara BMKG mencatat tsunami hingga 1,61 meter di Reo.
- BMKG menerjunkan tim ahli untuk pemetaan wilayah terdampak dan mengimbau masyarakat mengikuti informasi resmi serta mewaspadai hoaks.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 235 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershocks) hingga pukul 14.00 WIB. Aktivitas ini tercatat pasca gempa tektonik utama di utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Aktivitas gempa susulan tersebut terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores dengan kisaran magnitudo M2,5 hingga M6,2. Grafik pemantauan mengindikasikan bahwa tren rekaman gempa susulan saat ini belum mengalami peluruhan yang signifikan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengonfirmasi bahwa BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real-time. Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah tersebut, proses stabilisasi sesar membutuhkan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar normal.
"BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu. Sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam keterangan resmi yang diterima RRI, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Sebelumnya, BMKG mengonfirmasi pemutakhiran data gempa bumi tektonik dangkal tersebut menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 km. Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian secara cepat dengan mengeluarkan peringatan dini tsunami.
Petugas pemantau kemudian memutakhirkan peringatan dini tsunami setelah parameter gempa stabil dan presisi 10 menit setelahnya. Guncangan gempa tersebut sempat memicu gelombang tsunami yang menerjang beberapa kawasan pesisir.
BMKG menguji sistem running model multi-skenario dan membagi status ancaman ke dalam kategori 'Siaga' dan juga 'Waspada'. Jaringan observasi muka air laut (tide gauge) mencatat gelombang tsunami tiba di Reo Manggarai dan Manggarai Timur.
Ketinggian gelombang puncak mencapai 1,61 meter, Maurole Ende setinggi 0,94 meter, serta Bulukumba dan Sape Bima melampaui 0,5 meter. BMKG resmi mengakhiri seluruh Peringatan Dini Tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan muka laut aman kembali.
Ia menjelaskan bahwa gempa bumi ini tergolong jenis gempa bumi dangkal yang timbul akibat aktivitas sesar naik busur. Secara histori, struktur Flores Back Arc Thrust menyimpan rekam jejak gempa merusak yang panjang pada tahun 1992
Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal (15 km), sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat. Kerusakan ini terlihat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan peta intensitas guncangan (intensity map), BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di daerah Aesesa (Kabupaten Nagekeo). Skala VI MMI terukur di Wolowae (Nagekeo) dan Kota Bajawa, sementara skala V MMI dirasakan di sejumlah kawasan sekitarnya.
Guna mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, BMKG menerjunkan tim ahli untuk mengelola survei pemetaan mikrozonasi dan makroanalisis. Tim BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-NTT menyisir wilayah Ngada, Nagekeo, dan titik-titik rawan lainnya di Pulau Flores.
Survei mikro-analisis ini bertujuan mengukur jenis tanah dan respons terhadap gempa bumi. BMKG akan langsung menyerahkan hasil analisis lapangan tersebut kepada stakeholder sebagai rujukan teknis utama dalam meletakkan dasar rekonstruksi maupun retrofitting.
BMKG mengimbau masyarakat untuk senantiasa mempercayai data rujukan resmi yang bersumber dari jaringan nasional. Jaringan ini ditopang oleh lebih dari 2.000 sensor kegempaan, termasuk 553 sensor seismograf khusus di seluruh Indonesia
BMKG terus memperkuat koordinasi dan memberikan dukungan penuh di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Serta Basarnas, TNI, Polri, serta Pemerintah Daerah (Gubernur, Bupati/Wali Kota, BPBD, dan Pusdalops).
BMKG meminta masyarakat untuk tidak terpancing oleh isu bohong (hoaks) yang tidak bertanggung jawab. Serta aktif mengonfirmasi pemutakhiran informasi kebencanaan melalui kanal resmi BMKG (aplikasi infoBMKG, media sosial @infoBMKG, dan situs resmi bmkg.go.id).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....