Kisah Marthen Indey, Putra Papua yang Memilih Berjuang untuk Indonesia
- 10 Agt 2026 09:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Marthen Indey lahir di Doromena, Papua, pada 16 Maret 1912 dengan nama Soroway Indey. Setelah dibaptis, ia menggunakan nama Marthen dan menjadi salah satu tokoh Papua yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia.
- Salah satu tokoh yang disebut berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran nasionalisme Marthen, adalah Sugoro Atmoprasodjo. Sugoro Atmoprasodjo merupakan mantan guru Taman Siswa yang pernah diasingkan ke Boven Digoel.
- Aksi politik tersebut, untuk memprotes rencana Belanda yang berusaha memisahkan Irian Barat dari Republik Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Tidak banyak tokoh dari Papua yang perjalanan hidupnya memperlihatkan perubahan dramatis, dari seorang aparat kolonial menjadi pejuang nasionalis Indonesia. Seperti, Marthen Indey salah satu tokoh penting dalam perjuangan integrasi Papua ke dalam Republik Indonesia.
Marthen Indey lahir di Doromena, Papua, pada 16 Maret 1912 dengan nama Soroway Indey. Setelah dibaptis, ia menggunakan nama Marthen dan menjadi salah satu tokoh Papua yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia.
Sebelum dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, perjalanan hidup Marthen justru dimulai dari lingkungan pemerintahan kolonial Belanda. Ia pernah menempuh pendidikan kepolisian di Sukabumi, kemudian menjadi perwira polisi yang bekerja di bawah pemerintahan Belanda.
Pekerjaannya sebagai aparat kolonial Belanda, justru mempertemukannya dengan para tokoh pergerakan Indonesia. Ketika ditugaskan di Boven Digoel, Marthen berhadapan langsung dengan para tahanan politik yang dibuang Belanda ke wilayah tersebut.
Pertemuan dengan para nasionalis tersebut, perlahan mengubah cara pandangnya terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Dari lingkungan yang semula menjadi bagian dari sistem Belanda, Marthen justru mulai mengenal gagasan kemerdekaan dan nasionalisme Indonesia.
Dari Polisi Kolonial Menjadi Pejuang
Salah satu tokoh yang disebut berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran nasionalisme Marthen, adalah Sugoro Atmoprasodjo. Sugoro Atmoprasodjo merupakan mantan guru Taman Siswa yang pernah diasingkan ke Boven Digoel.
Interaksi Marthen dengan para tahanan politik, membuatnya semakin kritis terhadap perlakuan pemerintah kolonial Belanda kepada para pejuang Indonesia. Pada masa itu, posisi Marthen sebagai aparat kepolisian memberikan akses yang tidak dimiliki banyak orang untuk berinteraksi dengan para tahanan politik.
Namun di balik tugasnya menjaga kepentingan pemerintah kolonial Belanda, ia mulai menyusun langkah perlawanan secara diam-diam. Bahkan, Marthen bersama sejumlah anak buahnya pernah merencanakan aksi untuk menangkap sejumlah pejabat Belanda.
Rencana tersebut, akhirnya terbongkar sebelum terlaksana dan membuat posisi Marthen semakin terancam di mata pemerintah kolonial.
Perubahan sikap itu menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya.
Marthen yang sebelumnya bekerja untuk pemerintahan kolonial Belanda, perlahan berubah. Ia selanjutnya menjadi salah satu tokoh yang menentang kekuasaan Belanda di Papua.
Memperjuangkan Indonesia dari Tanah Papua
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, persoalan Papua belum selesai. Berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar, persoalan status Papua memang masih harus dibicarakan lebih lanjut antara Indonesia dan Belanda.
Dalam situasi tersebut, Marthen Indey ikut terlibat dalam gerakan nasionalis di Papua. Pada akhir Desember 1945, ia pernah ditugaskan ke Tanah Merah, Digul, dalam konteks persiapan pemberontakan terhadap Belanda di Irian Barat.
Setahun kemudian, Marthen bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka atau KIM. Organisasi tersebut, menjadi salah satu wadah perjuangan politik yang membawa gagasan kemerdekaan Indonesia di wilayah Papua.
Perjuangan Marthen tidak hanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Pada 1946, ia bersama sejumlah tokoh Papua dan pendukung gerakan nasionalis melakukan aksi politik.
Aksi politik tersebut, untuk memprotes rencana Belanda yang berusaha memisahkan Irian Barat dari Republik Indonesia. Sikap tersebut, membuat Marthen kembali berhadapan dengan Belanda hingga menyebabkan dirinya ditangkap dan mengalami penahanan.
Perjuangan Berlanjut Setelah Keluar dari Penjara
Setelah bebas, Marthen tidak meninggalkan perjuangannya. Ia kembali aktif, dalam kehidupan politik di Papua dan terus menyuarakan gagasan agar wilayah tersebut menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Pada masa berikutnya, ia menjadi salah satu tokoh yang memperjuangkan kepentingan Indonesia di Papua. Tepatnya, ketika hubungan Indonesia dan Belanda mengenai masa depan Irian Barat semakin memanas.
Perjuangannya berlangsung melalui jalur politik, gerakan bawah tanah, hingga diplomasi. Ketika Presiden Soekarno mencanangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 19 Desember 1961, Marthen kembali mengambil peran dalam perjuangan melawan upaya Belanda.
Ia membantu, gerakan di lapangan dan mendukung masuknya pasukan Indonesia ke wilayah Papua. Salah satu peran yang dikaitkan dengan perjuangannya pada masa Trikora, membantu pasukan Indonesia yang melakukan operasi di Papua.
Marthen disebut, turut menyembunyikan dan menyelamatkan sejumlah anggota pasukan Indonesia yang menghadapi tekanan dari aparat Belanda. Perjuangan tersebut kemudian memasuki jalur diplomasi internasional.
Pada Desember 1962, Marthen Indey ikut dalam delegasi Indonesia yang membawa persoalan Irian Barat ke Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Keterlibatan itu memperlihatkan bahwa perjuangan Marthen tidak hanya berlangsung di tanah Papua.
Dari Perjuangan ke Pengabdian Negara
Setelah proses politik mengenai status Irian Barat memasuki babak baru, Marthen Indey kemudian mendapat tempat dalam kehidupan kenegaraan Indonesia. Ia pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan menjalankan sejumlah peran dalam pemerintahan.
Namanya kemudian semakin dikenal sebagai salah satu putra Papua yang memilih memperjuangkan integrasi wilayah tersebut dengan Indonesia. Bersama Frans Kaisiepo dan Silas Papare, Marthen menjadi bagian dari deretan tokoh Papua yang dikenang dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia kemudian menetapkan Marthen Indey sebagai Pahlawan Nasional. Yakni, melalui Keputusan Presiden Nomor 077/TK/1993 tertanggal 14 September 1993.
Marthen Indey meninggal dunia pada 17 Juli 1986. Ia kemudian dikenang sebagai salah satu tokoh penting dari Papua yang mengabdikan perjalanan hidupnya untuk perjuangan nasional Indonesia.
Warisan Marthen Indey tidak hanya terlihat dari gelar Pahlawan Nasional yang disematkan kepadanya. Namanya juga digunakan sebagai nama Rumah Sakit TNI Angkatan Darat di Jayapura.
Sumber:
• Pemprov Papua
• Modul Sejarah Indonesia dari Kemendikdasmen
• KPU Papua Pegunungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....