Mengapa Amerika Jatuhkan Bom Atom ke Hiroshima-Nagasaki? Ini Dia Sejarahnya
- 06 Agt 2026 15:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari Peringatan Bom Hiroshima diperingati setiap 6 Agustus, sedangkan tragedi Nagasaki dikenang setiap 9 Agustus.
- Bom Little Boy menghantam Hiroshima, sementara Fat Man dijatuhkan di Nagasaki tiga hari kemudian.
- Kekalahan Jepang membuka momentum politik yang mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Peringatan Bom Hiroshima diperingati setiap 6 Agustus, sedangkan tragedi Nagasaki dikenang setiap 9 Agustus. Kedua momentum mengenang korban sekaligus menyerukan perdamaian dan penghapusan senjata nuklir di seluruh dunia.
Pengeboman pada 1945 mempercepat kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II di kawasan Asia. Perubahan tersebut turut membuka momentum politik menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Tiga hari kemudian, bom kedua menghantam Nagasaki dan memperbesar tekanan terhadap pemerintah Jepang.
Kedua serangan menimbulkan korban besar serta dampak radiasi berkepanjangan bagi para penyintas. Berikut kronologi pengeboman Hiroshima dan Nagasaki serta kaitannya dengan kemerdekaan Indonesia, dirangkum dari berbagai sumber.
Berawal dari Proyek Manhattan
Amerika Serikat mengembangkan bom atom melalui program rahasia bernama Proyek Manhattan. Program tersebut dipimpin fisikawan teoretis J Robert Oppenheimer selama Perang Dunia II.
Lebih dari 130 ribu orang dilibatkan dalam proyek pembuatan senjata atom pertama tersebut. Pengembangan utamanya berlangsung sejak 1942 hingga 1945 dengan pengamanan sangat ketat.
Tahapan penting terjadi pada 16 Juli 1945 melalui uji coba nuklir pertama. Uji bernama sandi Trinity berlangsung dekat Los Alamos, New Mexico, Amerika Serikat.
Keberhasilan uji coba tersebut membuka jalan penggunaan senjata atom dalam perang melawan Jepang. Pemerintah Amerika Serikat kemudian mempertimbangkan sejumlah kota sebagai sasaran pengeboman.
Alasan Amerika Menjatuhkan Bom
Amerika Serikat ingin mengakhiri perang tanpa melakukan invasi darat berskala besar menuju Jepang. Invasi tersebut diperkirakan menimbulkan korban sangat besar dari kedua pihak.
Serangan bunuh diri Kamikaze juga memberikan tekanan psikologis kuat kepada pasukan Amerika Serikat. Kondisi itu memperkuat keinginan militer menemukan cara cepat untuk memenangkan peperangan.
Sejumlah sejarawan turut mengaitkan keputusan tersebut dengan masuknya Uni Soviet dalam peperangan. Amerika diperkirakan ingin mengakhiri perang sebelum pengaruh Soviet berkembang semakin luas.
Pertimbangan militer kemudian menempatkan Hiroshima dan Nagasaki sebagai sasaran strategis. Kedua kota mempunyai fasilitas penting bagi kekuatan pertahanan dan kegiatan perang Jepang.
Hiroshima Menjadi Sasaran Pertama
Hiroshima dipilih karena menjadi pusat militer, industri, komunikasi, dan transportasi Jepang. Kota tersebut juga mempunyai pelabuhan penting untuk mendukung pergerakan pasukan serta logistik.
Pada 6 Agustus 1945, pesawat pengebom B-29 Amerika Serikat terbang menuju Hiroshima. Pesawat tersebut membawa bom berbahan uranium bernama Little Boy.
Bom dijatuhkan pada pukul 08.15 waktu setempat dan meledak di atas kawasan kota. Ledakan menghancurkan permukiman, fasilitas pemerintahan, jaringan transportasi, serta berbagai bangunan penting.
Sekitar 140 ribu dari 350 ribu penduduk Hiroshima diperkirakan meninggal akibat serangan tersebut. Sebagian meninggal seketika, sedangkan korban lainnya tidak tertolong setelah mengalami luka berat.
Panas ledakan membakar wilayah luas dan menghancurkan layanan kesehatan dalam waktu singkat. Banyak tenaga medis turut menjadi korban sehingga penanganan warga hampir tidak dapat dilakukan.
Nagasaki Dihantam Tiga Hari Kemudian
Tekanan terhadap Jepang berlanjut setelah kehancuran besar yang terjadi di Hiroshima. Namun, pemerintah Jepang belum segera menerima tuntutan penyerahan dari Sekutu.
Amerika Serikat kemudian menjatuhkan bom atom kedua di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Bom berbahan plutonium tersebut diberi nama Fat Man dalam catatan sejarah.
Nagasaki dipilih karena mempunyai pangkalan angkatan laut dan kapal selam Jepang. Kota tersebut juga mendukung berbagai aktivitas industri yang berkaitan dengan kebutuhan peperangan.
Serangan itu menghancurkan berbagai kawasan penting dan menewaskan sedikitnya 74 ribu orang. Topografi Nagasaki membuat pola kehancurannya berbeda dibandingkan ledakan di Hiroshima.
Meski demikian, bom tetap menimbulkan korban besar dan kerusakan luas pada kawasan perkotaan. Dua serangan tersebut mempersempit pilihan Jepang untuk melanjutkan perlawanan.
Radiasi dan Penderitaan Penyintas
Korban terus berjatuhan setelah kedua bom atom tersebut menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki. Radiasi nuklir menyebabkan kematian selama beberapa minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun berikutnya.
Paparan radiasi memicu penyakit, kanker, kerusakan organ, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya. Dampaknya juga meninggalkan trauma psikologis mendalam bagi para penyintas beserta keluarganya.
Para penyintas pengeboman kemudian dikenal sebagai hibakusha atau orang terdampak ledakan atom. Mereka menjadi saksi hidup mengenai kehancuran manusia akibat penggunaan senjata nuklir.
Sebagian penyintas juga menghadapi diskriminasi karena kekhawatiran masyarakat terhadap dampak radiasi. Namun, kesaksian mereka terus digunakan untuk menyuarakan perdamaian dan perlucutan senjata nuklir.
Jepang Menyerah kepada Sekutu
Kehancuran Hiroshima dan Nagasaki membuat kemampuan serta semangat perlawanan Jepang semakin melemah. Tekanan bertambah setelah Uni Soviet turut memasuki perang melawan Jepang.
Jepang akhirnya menerima penyerahan tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Perkembangan itu secara mendadak mengakhiri peperangan di kawasan Asia.
Kekalahan tersebut sekaligus mengguncang pemerintahan pendudukan Jepang di berbagai wilayah. Indonesia menjadi salah satu wilayah yang mengalami perubahan politik sangat cepat.
Berita kekalahan Jepang kemudian diketahui para pemuda Indonesia melalui siaran radio luar negeri. Mereka melihat kesempatan memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan pemerintah Jepang.
Membuka Momentum Kemerdekaan Indonesia
Kekalahan Jepang menciptakan kekosongan kekuasaan yang segera dibaca para pejuang Indonesia. Golongan muda mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta segera menyatakan kemerdekaan.
Mereka menolak proklamasi yang berpotensi dianggap sebagai pemberian pemerintah pendudukan Jepang. Kemerdekaan harus dinyatakan berdasarkan kehendak dan perjuangan bangsa Indonesia sendiri.
Perbedaan pandangan kemudian memicu Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Soekarno dan Hatta dibawa agar mengambil keputusan tanpa pengaruh pemerintah Jepang.
Setelah kembali ke Jakarta, para tokoh menyusun naskah proklamasi di kediaman Laksamana Maeda. Naskah dirumuskan Soekarno, Mohammad Hatta, serta Achmad Soebardjo, kemudian diketik Sayuti Melik.
Proklamasi akhirnya dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan Indonesia dinyatakan sebelas hari setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima.
Pengeboman memang mempercepat kekalahan Jepang dan membuka kesempatan politik bagi bangsa Indonesia. Namun, kemerdekaan tetap lahir melalui perjuangan panjang dan keberanian mengambil keputusan sendiri.
Warisan Perdamaian bagi Dunia
Hiroshima dan Nagasaki kemudian dibangun kembali setelah Perang Dunia II berakhir. Kedua kota tersebut kini menjadi simbol perdamaian serta penolakan terhadap senjata nuklir.
Setiap 6 Agustus, masyarakat mengenang korban Hiroshima dan menyerukan perdamaian dunia. Peringatan serupa dilaksanakan di Nagasaki setiap 9 Agustus.
Tragedi tersebut menunjukkan kemajuan teknologi tanpa tanggung jawab kemanusiaan dapat membawa kehancuran besar. Pesannya tetap relevan ketika ancaman konflik nuklir masih menghantui dunia.
Bagi Indonesia, peristiwa itu menjadi bagian penting dalam rangkaian menuju kemerdekaan. Momentum global membuka kesempatan, sedangkan keberanian para pendiri bangsa mengubahnya menjadi Proklamasi.
Peringatan Hiroshima dan Nagasaki akhirnya bukan hanya mengenang kehancuran masa lalu. Momentum tersebut mengajak dunia menjaga perdamaian sekaligus menghargai perjuangan setiap bangsa meraih kemerdekaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....