Galakkan GEMAR, BKKBN Ajak Ayah Cegah Ketergantungan Gawai

  • 25 Jun 2026 12:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta: Sosok ayah sangatlah penting peranannya bagi sebuah keluarga idaman. Demikian Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) yang juga merangkap Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Mendukbangga Kepala BKKBN, Wihaji mengatakan salah satu peran ayah untuk mencegah ketergantungan anak terhadap handphone dalam pembinaan keluarga. Ia menyebut program GEMAR "Gerakan Ayah Mengambil Rapor" menjadi strategi mengatasi fenomena fatherless yang berdampak kesehatan mental remaja.

"Kita memiliki program Gemar karena anak mengalami fatherless dan menggunakan handphone hingga sepuluh jam setiap hari. Jika tidak dikendalikan orang tua pengasuhan tergantikan teknologi yang memengaruhi perilaku serta pola pikir anak," ujar Wihaji dalam rangkaian Harganas Ke-33 di Yogyakarta, kepada RRI.co.id , Kamis, 25 Juni 2026.

Program GEMAR menjadi bagian rangkaian Hari Keluarga Nasional ke tiga puluh tiga yang dipusatkan di Yogyakarta akhir Juni. Kegiatan ini menyasar penguatan ketahanan keluarga melalui keterlibatan ayah dalam pendidikan serta komunikasi intensif dengan anak remaja.

Pemerintah Kota Yogyakarta menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan program Gemar sebagai bagian penguatan ketahanan keluarga di tingkat daerah. Dukungan ini dinilai penting meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peran aktif keluarga dalam mendidik anak.

"Pemerintah Kota Yogyakarta mendukung program karena keluarga kuat menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia unggul dan berdaya saing. Keterlibatan orang tua ayah penting memastikan anak berkembang sehat secara emosional sosial dan akademik," kata Wali Kota Hasto Wardoyo.

Wihaji menyoroti perubahan pola interaksi anak yang kini lebih banyak berkomunikasi dengan gawai dibandingkan orang tua sehari hari. Ia mengingatkan teknologi seharusnya membantu manusia bukan mengendalikan kehidupan sehingga anak kehilangan arah dalam perkembangan karakter.

"Anak sekarang sering curhat ke kecerdasan buatan karena teknologi tidak memiliki rasa seperti orang tua memahami kondisi psikologis. Luangkan waktu satu jam agar komunikasi terbangun dan anak tidak kehilangan figur ayah dalam kehidupannya," ujar Wihaji.

Hasto berharap kolaborasi pusat dan daerah melalui program keluarga dapat menekan masalah kesehatan mental serta memperkuat peran ayah. Ia menilai momentum Harganas meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kehadiran orang tua membentuk generasi berkualitas Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....