Mendukbangga/Kepala BKKBN: Prevalensi Stunting 2024 Sebesar 19,8 Persen
- 24 Jun 2026 12:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji melaporkan prevalensi stunting 2024 sebesar 19,8 persen, dengan target turun menjadi 18,8 persen pada 2025 dan 14,2 persen pada 2029.
- Kemendukbangga mencatat 8,1 juta keluarga berisiko stunting dari 41,4 juta pasangan usia subur, termasuk 1,05 juta keluarga kategori Desil 1 yang menjadi prioritas intervensi.
- Program Genting telah menjangkau 1,6 juta penerima manfaat pada 2025, melampaui target 1 juta, melalui bantuan nutrisi, edukasi, air bersih, jamban sehat, dan rumah layak huni.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji melaporkan prevalensi stunting Indonesia tahun 2024 sebesar 19,8 persen. Angka tersebut menjadi bagian dari evaluasi program percepatan penurunan stunting yang dipaparkan kepada Komisi IX DPR RI.
"Perlu saya laporkan terakhir untuk 2024 adalah 19,8 persen. Kemudian target 2025 sebesar 18,8 persen dan sampai tahun 2029 targetnya 14,2 persen," ujar Wihaji dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Pihaknya mencatat, terdapat 41,4 juta keluarga pasangan usia subur berdasarkan pendataan keluarga tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8,1 juta keluarga teridentifikasi sebagai keluarga berisiko stunting (KRS).
Wihaji mengatakan, sebanyak 1.052.947 keluarga berisiko stunting masuk kategori Desil 1. Jumlah tersebut merupakan bagian dari 8,1 juta keluarga berisiko stunting yang teridentifikasi melalui pendataan keluarga tahun 2025.
"Dari 41,4 juta, teridentifikasi 8,1 juta KRS. Dari 8,1 juta KRS, ada 1.052.947 KRS Desil 1," kata Wihaji.
Ia menjelaskan, sejumlah faktor risiko masih ditemukan pada keluarga berisiko stunting. Faktor tersebut antara lain akses sanitasi, air minum layak, dan penggunaan kontrasepsi modern.
"Dari data 8,1 juta tersebut, 2,9 juta tidak memiliki jamban yang layak. Sebanyak 1,7 juta tidak memiliki air minum utama yang layak," ucap Wihaji.
Selain itu, terdapat 4,3 juta pasangan usia subur kategori 4T yang tidak menggunakan metode kontrasepsi modern. Kelompok tersebut meliputi pasangan dengan risiko terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, dan terlalu dekat jarak kelahiran.
Dalam upaya percepatan penurunan stunting, Kemendukbangga menjalankan Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Program tersebut menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dengan prioritas 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
"Capaian Genting tahun 2025 alhamdulillah sudah tercapai 1,6 juta dari target 1 juta. Paling banyak memang edukasi, bantuan nutrisi, air bersih, jamban sehat, dan rumah layak huni," ujar Wihaji.
Kemendukbangga juga mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. Dukungan tersebut dilakukan melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang bertugas mendistribusikan bantuan dan memberikan edukasi gizi.
Wihaji melaporkan saat ini terdapat 200.276 tim TPK dengan total 599.918 anggota. Tim tersebut terdiri dari kader KB, kader PKK, dan bidan.
"Jumlah TPK kita 200.276 tim dengan total 599.918 orang. Mereka terdiri dari kader KB, kader PKK, dan bidan," kata Wihaji.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional per 3 Juni 2026, sebanyak 22.672 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi telah melayani sasaran MBG 3B. Jumlah tersebut setara dengan 75 persen dari total 29.000 unit yang tercatat.
"Yang sudah melayani 3B masih 75 persen atau 22.672 unit. Data tersebut berasal dari total 29.000 SPPG yang tercatat," ucap Wihaji.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....