BKKBN: Faktor Ekonomi dan Disrupsi Global Picu Penurunan Pernikahan

  • 23 Jan 2026 13:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan faktor ekonomi menjadi pemicu utama penurunan angka pernikahan. Sekretaris Utama BKKBN Budi Setiyono menyampaikan informasi tersebut dalam sebuah wawancara pada hari Jumat, 23 Januari 2026.

Fenomena global akibat pandemi COVID-19 turut memberikan dampak terhadap disrupsi besar pada pola kehidupan sosial masyarakat. Kondisi ekonomi yang belum stabil sangat mempengaruhi cara bertindak masyarakat dalam merencanakan sebuah hubungan rumah tangga.

"Itu salah satu pemicu tapi bukan satu-satunya. Ini memengaruhi kondisi ekonomi dan mempengaruhi juga cara bertindak dan berpikir di dalam hubungan sosial," kata Budi.

Disrupsi tersebut membuat kondisi ekonomi sulit sehingga sangat mempengaruhi cara bertindak dan berpikir dalam hubungan sosial. Kecemasan ekonomi mulai melanda kalangan generasi z dan milenial akhir karena terjadi perlambatan pada pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi yang lambat dalam beberapa tahun terakhir telah berdampak pada kenaikan biaya gaya hidup masyarakat. Ketidakpastian dalam penciptaan lapangan pekerjaan membuat para pemuda merasa belum layak secara finansial untuk segera menikah.

"Ini terjadi di beberapa tahun. Itu ada perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi sehingga imbasnya kemana-mana, misalnya gaya hidup semakin mahal," ucapnya.

Wawasan pemuda saat ini cenderung menunda pernikahan karena mereka khawatir akan beban berat menjadi generasi roti lapis. Mereka harus menanggung biaya hidup orang tua sekaligus kebutuhan diri sendiri sehingga merasa tidak yakin secara finansial.

"Kita juga menemukan bahwa wawasan dari Gen Z menunda pernikahan karena khawatir mereka sebagai sandwich generation. Karena harus menanggung beban ekonomi, orang tua sekaligus diri sendiri," katanya.

Tantangan tersebut terasa sangat berat bagi generasi muda karena harus menanggung biaya hidup lebih dari dua orang. Penurunan angka pernikahan juga diduga kuat terjadi karena adanya pengaruh dari ketidakinginan generasi muda untuk mempunyai anak.

Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara lain dan memberikan pengaruh besar terhadap pola pikir anak muda. Sosiolog dari Universitas Nasional (Unas) Prof. Sigit Rochadi menilai bahwa perubahan pola pengasuhan orang tua menjadi faktor pemicu.

"Orang tua zaman dulu kerap bertanya kapan menikah. Tapi, orang tua sekarang memberikan kebebasan pada anak untuk lebih berkreasi mengembangkan diri dan tidak membuat tekanan seperti masa lalu," kata Sigit.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pernikahan merosot tajam dari 2.110.776 menjadi 1.478.302 pada 2024.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....