Indonesia Timur Terdampak, DPR Ingatkan Pemerintah Antisipasi El Nino Godzilla
- 11 Mei 2026 11:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin mengingatkan, pemerintah segera mengantisipasi dampak fenomena El Nino ‘Godzilla’.
- Politikus PKB ini mengungkapkan, intensitas hujan menurun dratis di kawasan Nusa Tenggara dan Bali dalam satu bulan terakhir.
- Pemerintah perlu segera melakukan langkah antisipasi mencegah meluasnya dampak fenomena ini, terutama dalam ketersediaan pangan dan air bersih
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin mengingatkan, pemerintah segera mengantisipasi dampak fenomena El Nino ‘Godzilla’. Karena, fenomena El Nino Godzilla itu sudah mulai terasa di kawasan Indonesia Timur.
Politikus PKB ini mengungkapkan, intensitas hujan menurun dratis di kawasan Nusa Tenggara dan Bali dalam satu bulan terakhir. Oleh karenanya, Fenomena El Nino Godzilla ini jangan sampai diabaikan oleh pemerintah.
"Penggunaan istilah El Nino ‘Godzilla’ menggambarkan besarnya dampak yang dapat ditimbulkan. Pemerintah perlu segera melakukan langkah antisipasi mencegah meluasnya dampak fenomena ini, terutama dalam ketersediaan pangan dan air bersih,” kata Usman dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.
Di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT), ia menuturkan, dampak El Nino mulai dirasakan masyarakat. Suhu udara meningkat dan cuaca terasa lebih panas dibandingkan biasanya.
“Udara di siang hari terasa jauh lebih panas dibandingkan sebelumnya. Intensitas hujan juga semakin kecil,” ucap Usman.
Menurut Usman, ancaman terbesar El Nino adalah terganggunya sektor pertanian akibat kekeringan dan berkurangnya pasokan air irigasi. Jika tidak ditangani sejak dini, produktivitas pertanian dapat menurun dan berdampak pada ketahanan pangan nasional.
“Jika musim kering berlangsung lebih lama akibat El Nino, sawah-sawah berpotensi mengalami kekeringan. Ini tentu mengancam hasil panen petani dan bisa berdampak pada pasokan pangan masyarakat,” ujar Usman.
Fenomena El Nino 'Godzilla' diprediksi memicu kekeringan panjang di berbagai wilayah Indonesia sepanjang 2026. Kondisi ini berpotensi menekan produksi pangan nasional serta mengganggu stabilitas pasokan dan harga.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian zona musim mulai memasuki fase kemarau sejak awal tahun. Mayoritas wilayah diperkirakan mengalami penurunan curah hujan mulai April hingga pertengahan tahun.
Guru Besar Agroklimatologi UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho, menyebut dampak El Nino tidak merata di semua daerah. Variasi kondisi lokal tetap harus menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah adaptasi sektor pertanian.
"Otomatis dengan adanya informasi dari BMKG di bulan lalu, berpengaruh ke pertanian, termasuk pola curah hujannya akan mundur. Perkiraan bulan April curah hujan berkurang atau tidak sama sekali, dampaknya akan mempengaruhi pola dan kalender tanam dari petani," kata Bayu dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Selasa, 16 April 2026.
Ia menekankan bahwa informasi iklim tidak boleh diterapkan secara bersamaan tanpa melihat kondisi lapangan. Beberapa wilayah bahkan masih mengalami hujan tinggi meski tren kemarau mulai muncul.
Menurutnya, yang paling rentan terdampak adalah komoditas-komoditas pangan yang memang membutuhkan air yang banyak, seperti padi dan jagung. "Padi ini kan ditanam, awal tanam padi ini mengikuti awal tanam musim hujan" ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....