BMKG dan Kementerian Kehutanan Perkuat Mitigasi Karhutla Hadapi El Nino 2026
- 22 Apr 2026 20:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Kementerian Kehutanan perkuat kerja sama untuk mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
- BMKG mengusulkan pemasangan sensor dan alat pemantauan di kawasan hutan, guna meningkatkan keakuratan data iklim dan cuaca
RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Kementerian Kehutanan perkuat kerja sama untuk mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Seiring potensi kemunculan El Nino lemah hingga moderat pada semester II 2026.
Penguatan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua lembaga. Melalui kerja sama ini, BMKG akan meningkatkan dukungan informasi iklim membantu Kementerian Kehutanan dalam mengantisipasi risiko karhutla.
“Dengan prediksi dini dan pengolahan data yang lebih terintegrasi. Kita harapkan upaya pengendalian karhutla bisa semakin efektif, terutama saat siklus El Nino kembali terjadi,” Kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Jakarta, Rabu, 22 April 2026.
Setelah berhasil menekan dampak pada 2019 dan menunjukkan perbaikan tahun 2023, pemerintah menargetkan kesiapsiagaan lebih matang. Dan akan dilakukan pada tahun 2026–2027.
BMKG juga mengusulkan pemasangan sensor dan alat pemantauan di kawasan hutan, guna meningkatkan keakuratan data iklim dan cuaca. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat sistem peringatan dini serta mendukung pengambilan kebijakan yang lebih cepat dan tepat.
Ke depan, sinergi antara BMKG dan Kementerian Kehutanan diharapkan mampu meminimalkan risiko karhutla secara berkelanjutan. Sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia terus menunjukkan penurunan signifikan. Menurutnya, luas karhutla pada 2015 mencapai sekitar 2,6 juta hektare, berhasil ditekan menjadi sekitar 1,6 juta hektare pada 2019.
“Lalu turun lagi menjadi 1,1 juta hektare pada 2023, hingga sekitar 350 ribu hektare pada tahun terakhir. Artinya ada proses pembelajaran yang kita laksanakan sebagai bangsa,” ujar Raja Juli.
Ia menekankan peran penting BMKG dalam menekan angka karhutla, terutama melalui peningkatan akurasi prediksi cuaca yang semakin presisi dan prediktif. Pendekatan preventif, lanjutnya, kini menjadi prioritas utama dibandingkan penanganan saat kebakaran sudah terjadi.
Salah satu langkah yang dinilai menjadi titik balik adalah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca yang dilakukan sebelum potensi kebakaran muncul. Selain itu, pemerintah juga memantau tinggi muka air tanah, khususnya di kawasan gambut.
Pihaknya juga melakukan pembasahan untuk mencegah kebakaran yang sulit dipadamkan. Meski tren menunjukkan perbaikan, Raja Juli mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak ringan.
Ia menyebut musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih cepat dan berlangsung lebih lama, dengan tambahan potensi El Nino. “Artinya dibandingkan tahun lalu, kemungkinan karhutla tahun ini bisa lebih besar,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....