Pemerintah Perkuat Deteksi Dini Karhutla untuk Hadapi Ancaman El Nino
- 07 Mei 2026 07:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sumatra Selatan menjadi salah satu wilayah paling rawan karhutla nasional.
- Fenomena El Niño diperkirakan berkembang pada Juli hingga September 2026.
RRI.CO.ID, Palembang - Ancaman musim kering mendorong penguatan kesiapsiagaan kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah menekankan pentingnya deteksi dini sebelum api meluas.
Sumatra Selatan menjadi salah satu wilayah paling rawan karhutla nasional. Karakter lahan gambut membuat risiko kebakaran lebih tinggi saat kemarau panjang.
Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau berlangsung sejak April. Fenomena El Nino diperkirakan berkembang pada Juli hingga September 2026.
Kondisi tersebut berpotensi memperparah kekeringan di sejumlah daerah rawan kebakaran. Pemerintah meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan lebih awal.
Apel kesiapsiagaan nasional digelar di Palembang melibatkan sekitar 1.600 personel gabungan. Unsur TNI, Polri, BPBD, dunia usaha, dan masyarakat turut dilibatkan.
Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djamari Chaniago menekankan penguatan koordinasi lintas sektor. Pengendalian karhutla harus dilakukan cepat, terpadu, dan tegas.
“Pengendalian karhutla harus dilakukan lebih dini dan lebih terpadu. Pencegahan harus diutamakan sebelum api meluas,” kata Djamari dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
Pemerintah juga mereaktivasi desk koordinasi nasional penanggulangan karhutla tahun 2026. Langkah ini memperkuat pemantauan hingga penegakan hukum secara nasional.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan luas karhutla di Sumsel terus menurun. Namun pemerintah meminta seluruh pihak tidak lengah menghadapi musim kering.
Dunia usaha diminta menjadi bagian penting dalam pencegahan kebakaran lahan. Perusahaan wajib memastikan kesiapan personel dan peralatan di wilayah operasional.
APP Group bersama mitra pemasok menyiapkan teknologi pemantauan berbasis data satelit. Sistem ini diperkuat drone, CCTV, hingga situation room yang beroperasi sepanjang hari.
“Pencegahan karhutla tidak dapat dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Direktur APP Group, Suhendra Wiriadinata.
Pendekatan Integrated Fire Management menjadi strategi utama menghadapi ancaman karhutla tahun ini. Fokusnya mencakup pencegahan, persiapan, deteksi dini, dan respons cepat.
Program Desa Makmur Peduli Alam juga diperluas di wilayah rawan kebakaran. Masyarakat dilibatkan melalui patroli terpadu dan pengelolaan lahan tanpa bakar.
Sebanyak 907 personel regu kebakaran telah disiagakan di berbagai titik rawan. Dukungan helikopter dan kendaraan patroli memperkuat respons lapangan.
“Kami mengajak seluruh pihak berkolaborasi mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan. Sinergi menjadi kunci menghadapi ancaman El Niño,” kata Suhendra.
Dengan sistem terintegrasi dan patroli berlapis, potensi kebakaran diharapkan ditekan sejak awal. Pemerintah menargetkan tidak ada lonjakan karhutla selama musim kemarau 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....