Hadapi El Nino, Jatim Siapkan Distribusi Air ke 222 Desa Rawan

  • 01 Mei 2026 16:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah Jawa Timur siaga menghadapi ancaman El Nino dengan potensi kemarau panjang dan panas ekstrem
  • BPBD mencatat 26 kabupaten dan 222 desa berisiko kekeringan serta menyiapkan distribusi air bersih.
  • Kolaborasi pemerintah dan masyarakat diperlukan untuk menjaga ketersediaan air dan ketahanan pangan.

RRI.CO.ID, Surabaya - Pemerintah Provinsi Jawa Timur meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman El Nino tahun ini. Seluruh daerah diminta siaga karena musim kemarau diprediksi lebih panjang dan panas.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menyampaikan kondisi ini berdasarkan informasi dari BMKG. Ia menegaskan langkah awal dilakukan melalui koordinasi lintas sektor.

“Berdasarkan informasi BMKG, kemarau tahun ini lebih panjang dan lebih panas,” ujar Gatot, dalam program Kentongan Pro 3 RRI, Kamis, 29 April 2026. Ia menambahkan kolaborasi semua elemen menjadi kunci menghadapi potensi bencana.

Dalam menghadapi dampak El Nino, Pemprov Jatim menggelar rapat koordinasi, dipimpin Gubernur Jawa Timur, dan melibatkan berbagai instansi terkait. “Rapat dihadiri BNPB, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk membahas strategi penanganan dampak El Nino.

“Seluruh kepala daerah di Jawa Timur juga turut hadir dalam rapat tersebut. Mereka sepakat ancaman bisa diatasi dengan dukungan semua pihak secara terpadu,” kata Gatot.

Sebanyak 26 kabupaten dan 222 desa, dipetakan berpotensi mengalami kekurangan air bersih. Beberapa daerah seperti Mojokerto dan Blitar, bahkan telah menetapkan status tanggap darurat.

BPBD, lanjut Gatot, menyiapkan langkah antisipasi berupa distribusi air bersih ke wilayah terdampak. Bantuan dari provinsi akan diberikan jika anggaran kabupaten tidak mencukupi kebutuhan.

“Untuk jangka pendek kami lakukan dropping air bersih,” kata Gatot. Ia menambahkan solusi jangka panjang membutuhkan kolaborasi menjaga sumber daya air.

Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak selama musim kemarau berlangsung. Air bekas rumah tangga dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan lain.

“Air bekas memasak bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman,” ucap Gatot. Selain itu, pengelolaan lingkungan menjadi perhatian penting dalam menghadapi krisis air.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....